Cerita Nabi Muhammad SAW Saat Menerima Wahyu Pertama dan Hikmahnya Bagi Umat Islam

Cerita Nabi Muhammad (Sumber: Pixabay)

Jakarta - Cerita Nabi Muhammad SAW sangat menarik untuk diikuti dan dijadikan sebagai pedoman bagi hidup seluruh umat Islam. Sebagai pemimpin seluruh orang muslim, banyak sekali keteladan Nabi Muhammad SAW yang dapat menjadikan kita menjadi manusia yang lebih baik.

Allah SWT telah menakdirkan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia yang paling agung dan paling berpengaruh sepanjang sejarah umat manusia. Beliau lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun gajah, atau bertepatan dengan 20 April 570 Masehi.

Cerita Nabi Muhammad SAW saat menerima wahyu pertama sangatlah menakjubkan. Wahyu pertama itu menjadi pembuka wahyu-wahyu selanjutnya turun, dan menjadi pedoman kehidupan seluruh umat Islam, yaitu Al-Quran.

Berikut Liputan6.com rangkum dari NU Online, Rabu (15/5/2019) tentang cerita Nabi Muhammad SAW saat menerima wahyu pertama.

Nabi Muhammad SAW Menerima Wahyu Pertama

Nabi Muhammad SAW selalu berdoa kepada Allah SWT agar menemukan sesuatu yang bisa mencerahkan dirinya dan kaumnya. Hal ini disebabkan karena keruntuhan moral yang sangat mengkhawatirkan terjadi di Makkah saat itu. Sampai tibalah waktunya saat Nabi Muhammad SAW sedang menyendiri di Gua Hira pada suatu malam di bulan Ramadan. Beliau dikejutkan dengan turunyaa wahyu pertama dari Allah SWT. Sebagaimana hadits berikut:

Dari Aisyah Ummul Mukminin radliyallahu ‘anha, ia berkata: “Permulaan wahyu yang diterima oleh Rasulullah adalah ar-ru’ya ash-shalihah (mimpi yang baik) dalam tidur. Biasanya mimpi yang dilihatnya itu jelas laksana cuaca pagi. Kemudian beliau jadi senang menyendiri; lalu menyendiri di gua Hira untuk bertahannuts. Beliau bertahannuts, yaitu beribadah di sana beberapa malam, dan tidak pulang ke rumah isterinya. Dan untuk itu beliau membawa bekal. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah, dan di bawahnya pula perbekalan untuk keperluan itu, sehingga datang kepada beliau Al-Haqq (kebenaran, wahyu) pada waktu beliau berada di gua Hira. Maka datanglah kepada beliau malaikat dan berkata, “Bacalah!” Jawab beliau, “Aku tidak bisa membaca.” Nabi bercerita, “Lalu malaikat itu menarikku dan memelukku erat-erat sehingga aku kepayahan. Kemudian ia melepaskanku dan berkata lagi, “Bacalah!” dan aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Aku lalu ditarik dan dipeluknya kembali kuat-kuat hingga habislah tenagaku. Seraya melepaskanku, ia berkata lagi, “Bacalah!” Aku kembali menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Kemudian untuk ketiga kalinya ia menarik dan memelukku sekuat-kuatnya, lalu seraya melepaskanku ia berkata,

“iqra` bismi rabbikallażī khalaq. khalaqal-insāna min 'alaq. iqra` wa rabbukal-akram. allażī 'allama bil-qalam. 'allamal-insāna mā lam ya'lam.”

Yang artinya: (1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan; (2) Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah; (3) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah; (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (pena); (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. al-Alaq, 96:1-5)

Setelah itu, Nabi Muhammad SAW dengan ketakutan pulang ke rumah dan menemui istrinya Khadijah binti Khuwailid. Lalu Khadijah membawa Nabi Muhammad untuk menemui Waraqah, anak paman Khadijah. Waraqah mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW telah bertemu dengan Malaikat Jibril yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa.

Nabi Muhammad SAW diangkat Menjadi Rasul

Menurut Ibnu Syihab dari Abu Salamah bin Abdirrahman, Jabir bin Abdillah al-Anshari menceritakan tentang terhentinya wahyu dan bahwa Rasulullah bersabda:

“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari atas, maka aku lihat ada malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hira, sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi, maka takutlah aku padanya. Lalu aku pulang seraya berkata, “Selimutilah aku!”

Lalu turunlah wahyu:

Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah (manusia) peringatan, dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu sucikanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah!” (QS. al-Muddatsir, 74 :1-5).

Sesudah itu, wahyu pun turun terus-menerus.” (HR. Bukhari: 02, Muslim: 232). Pada wahyu yang kedua inilah, di usianya yang keempat puluh tahun, Muhammad diangkat sebagai Rasul, utusan Tuhan untuk membenahi tatanan umat manusia secara keseluruhan.

Orang-orang yang pertama kali masuk Islam (as-sabiqun al-awwalun); Dari kalangan perempuan adalah istri Nabi sendiri yaitu Khadijah binti Khuwailid, dari kalangan pemuda yaitu Ali bin Abi Thalib, sedangkan dari kalangan pria dewasa adalah Abu Bakar bin Abi Quhafa, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, dan masih banyak lagi yang lain. Namun saat itu, penyebaran agama islam masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Perkembangan Awal Agama Islam
Dengan semakin pesatnya perkembangan agama islam tiga tahun setelah kerasulannya, Nabi Muhammad SAW diperintahkan Allah SWT untuk menyebarkan ajaran islam secara terang-terangan. Ditandai dengan turunya wahyu:

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Syu’ara, 26: 214-216)

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. al-Hijr, 15: 94)

Agama Islam begitu pesat perkembangannya terutama karena keteladanan dari Nabi Muhammad SAW. Semua perbuatan beliau tidak pernah melanggar hak orang lain dan selalu bijaksana. Hal inilah yang membuat pengikut beliau menjadikan Nabi Muhammad SAW benar-benar sebagai pemimpin sekaligus panutan dalam kehidupan mereka.

Sumber:Liputan6.com
Rubrik:Umum

Komentar

Loading...