Wisatawan Asing Hadiri Khanduri Laot Festival 2019

acehportal,comWisman

Banda Aceh, Acehportal.com - Ada sejumlah wisatawan asing yang hadir dalam Khanduri Laot Festival 2019 yang diselenggarakan dan diresmikan di kawasan Dermaga CT3, Sabang, Sabtu (30/3/2019) kemarin.

Para wisatawan asing ini terlihat sangat serius mengabadikan momen ketika nelayan di peusejuk (tradisi tepung tawar) di atas kapal, sebelum atraksi tarik pukat dilakukan. Mereka sangat menikmati dan kagum serta penasaran tentang tradisi Khanduri Laot di Sabang.

"Ini pertama kali kami ke Sabang, kebetulan kami dapat jadwal di Sabang tradisi budaya nelayan, makanya kami penasaran ingin menontonnya,” ujar salah seorang wisatawan asal Yunani, Andrero Costas kemarin.

Andrero yang berada di Sabang selama 3 hari itu mengaku sempat mengelilingi Sabang dan berwisata di Iboih, dan sejumlah desa lainnya untuk mencari tahu seperti apa adat nelayan di Sabang.

Menurutnya, tradisi Khanduri Laot di Sabang kental akan adat dan budayanya. Tak heran, nelayan dan masyarakat Sabang masih melestarikannya hingga kini. "Ini sangat bagus, kami jarang melihat budaya yang dibalut dengan wisata seperti ini, saya rasa ini harus tetap berkembang," ungkapnya.

Tak bisa dipungkiri, perkembangan zaman yang semakin moderen dan canggih membuat sebagian budaya dan adat lokal Aceh pudar. Ini tentunya harus dibangkitkan kembali dan perlu melestarikan adat istiadat di Aceh, khususnya adat Khanduri Laot yang sudah turun temurun dilaksanakan.

Kegiatan ini juga sebagai wadah sosialisasi kearifan lokal tentang laut. Apalagi, keberadaan Panglima Laot menjadi penting dalam tatanan kehidupan sosial nelayan di Aceh. Lembaga Panglima Laut bisa menjadi mediator bila ada selisih atau sengketa antar nelayan.

Filosofi yang terpenting dari Kenduri Laot adalah rasa syukur seluruh nelayan terhadap apa yang telah didapatkan dari laut. Laut menjadi sumber rezeki bagi nelayan yang tinggal di pesisir, khususnya masyarakat Sabang.

Festival ini bisa menjadi daya tarik wisatawan mancanegara datang ke Sabang. Mereka selama ini tidak pernah melihat kebiasaan nelayan yang ada di Aceh saat sebelum dan sesudah melaut.(hfz/hfz)

Komentar

Loading...