Kepedulian Nova Iriansyah Terhadap Daerah Bencana

Masjid Nurul Hasanah di Palu Perpaduan Rumoh Aceh dan Tambo Lobo

Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah peletakan batu pertama pembangunan Masjid Nurul Hasanah Aceh, di Kelurahan Pengawu, Kecamatan Tatanga

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM – Bencana gempa dan tsunami di Donggala, Palu, Sulawesi Tengah yang merenggut 2.113 korban meninggal dunia, membuat dunia berduka. Apalagi adanya fenomena Lukuifaksi yang menelan desa di sana.

Aceh yang pernah merasakan peristiwa serupa, mengerti akan keadaan korban di Palu saat diterjang tsunami, dan mengakibatkan infrastruktur rusak dan banyak memakan korban jiwa.

Tak mau luput dari kesedihan itu, Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah akhirnya membangkitkan warga Aceh untuk berbuat bagi korban gempa dan tsunami Palu, salah satunya menggalang dana untuk disalurkan ke Palu.

Nova Iriansyah menyerukan seluruh lapisan masyarakat Aceh untuk segera membantu warga Kota Palu dan Kabupaten Donggala, dengan cara berdonasi melalui rekening yang dibuka di bawah koordinator Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA).

Hal itu dikatakan Nova terkait upaya dan langkah-langkah yang dilakukan Pemerintah Aceh untuk membantu korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.

"Seluruh dunia bersimpati dan pastinya akan memberi dukungan. Itu yang dulu kami rasa. Seluruh masyarakat Donggala dan Palu, kalian tidak sendiri, Mari sama-sama kita membantu saudara kita di Palu dan Donggala yang kini ditimpa musibah,” katanya, Sabtu (29/1).

Seruan untuk membantu korban gempa dan tsunami Palu dan Dong-gala juga telah diinstruksikan se¬saat setelah mendapat kabar terjadinya musibah di sana. “Begitu saya de¬ngar kabar duka itu, langsung saya keluarkan instruksi,” ujarnya.

Donasi yang disalurkan tersebut dipercayakan kepada, penggalangan bantuan kemanusiaan itu dilaksanakan dan berada di bawah tanggung jawab Pemerintah Aceh melalui BPBA dan Dinas Sosial Aceh.

Tim tersebut sendiri didukung sejumlah organisasi, seperti Forum PRB Aceh, ACT, RAPI, Forum LSM Aceh, Alumni BRR NAD-Nias, Yayasan Beudoh Gampong dan sejumlah unsur lainnya.

Menurut Plt Gubernur, pihaknya secara cepat bergerak mengumpulkan donasi dari semua elemen masyarakat. Hal ini sama seperti yang dilakukan Pemerintah Aceh ketika membantu korban gempa Lombok, NTB.

“Polanya sama seperti kita membantu saudara kita yang juga tertimpa mu¬sibah gempa bumi di Lombok lalu. Seti¬ap menit kita update terus orang yang berdonasi,” ucapnya.

Sehari diumumkan setelah gempa Palu, Nova Iriansyah menginstruksikan relawan lainnya untuk terus bergerak menghimpun donasi dari berbagai sumber.

Bantuan yang mengalir tidak hanya dalam bentuk uang, bahkan makanan khas Aceh, seperti Keumamah juga ikut dikirimkan ke korban bencana di Sulawesi.

Bantuan makanan yang diberikan di antaranya berupa 109,3 kilogram daging dendeng Aceh, dan seberat 28,75 kilogram ikan “keumamah”. Lalu total 11,54 kilogram terdiri emping melinjo, kerupuk kulit, pisang sale, kopi, dodol Sabang, abon ikan, dan udang sabu. Sedangkan bantuan sandang, berupa baju layak pakai 15 dus.

Untuk donasi sudah terkumpul sebanyak Rp 3,1 miliar. Donasi itu disalurkan untuk merehab dan membangun masjid di Palu. Pembangunan masjid bantuan masyarakat dan Pemerintah Aceh di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) yang hancur akibat gempa dan tsunami sudah dimulai.

Masjid yang dibangun tersebut adalah Masjid Jami’ Nurul Hasanah di Kelurahan Pengawu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Provinsi Sulteng.

Keputusan untuk membangun Masjid Jami’ Nurul Hasanah di Kota Palu didasari rekomendasi tim yang ditugaskan Pemerintah Aceh ke Sulteng beberapa waktu lalu.

Setelah dilakukan pengkajian dan analisa mendalam termasuk besaran dana yang dihimpun serta hasil koordinasi dengan Pemprov Sulteng, Pemko Palu, dan pengurus masjid, diputuskan untuk membangun Masjid Nurul Hasanah di Kelurahan Pengawu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, yang rusak akibat gempa dan tsunami.

Desain bangunan rumah ibadah ini dibuat dengan melihat beberapa fungsi, seperti sebagai tempat ibadah, melakukan kajian-kajian pendalaman agama, dan tempat sosial bagi masyarakat setempat, sehingga harus memenuhi unsur kesiapsiagaan menghadapi bencana alam.

Pada bagian desain tetap tidak meninggalkan unsur budaya "Rumah Aceh" yang merupakan satu dari tiga refleksi bangunan tradisional, yakni Tambo dan Lobo dari Sulawesi Tengah, sehingga terbentuklah desain mesjid dengan atap gabungan dari bentuk ketiganya.

"Selain untuk kenyamanan beribadah, mesjid ini juga kita rancang agar menjadi tempat yang aman dan nyaman, serta tahan gempa. Nantinya dapat dijadikan sebagai pusat mitigasi bencana," terangnya.

"Sesuai kesepakatan, material bangunan baru Masjid Nurul Hasanah akan didominasi oleh beton pada bagian bawah dan kayu di bagian atap. Fondasi dan fisik bangunannya disiapkan untuk tahan menghadapi guncangan. Insya Allah nantinya masjid ini bisa merefleksikan budaya lokal dan persahabatan antara Aceh dan Sulawesi Tengah, melalui perpaduan Rumah Aceh dan Tambo Lobo khas Sulut," kata Nova.

Plt Gubernur menambahkan, dana pembangunan Masjid ini bersumber dari sumbangan seluruh rakyat Aceh sebesar Rp3,3 miliar.

"Seluruh dana tersebut akan difokuskan untuk pembangunan kembali masjid ini serta segala kebutuhan pendukungnya. Untuk itu, kami berharap kita semua dapat saling bahu membahu menyelesaikan pembangunan masjid ini agar selesai tepat waktu. Target kita, dalam enam bulan ke depan, proyek ini sudah selesai dan masjid dapat kembali digunakan sebagai pusat aktivitas ibadah masyarakat," imbuh Nova usai melakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Nurul Hasanah Aceh, di Kelurahan Pengawu, Kecamatan Tatanga, Rabu (13/2/2019).

Dalam sambutannya, Nova juga mengimbau agar masyarakat tidak trauma meski letak geografis Aceh, sebagian wilayah Nusa Tenggara Barat, serta wilayah Sulawesi Tengah berada di kawasan yang rawan bencana. Sebaliknya, kondisi tersebu diharapkan dapat disikapi dengan cara bijaksana melalui peningkatan pengetahuan di bidang kebencanaan.

"Yang harus kita pahami bahwa, bencana ini adalah peringatan dari Allah agar kita siap mawas diri dan meningkatkan kewaspadaan. Cara menyikapinya adalah dengan melakukan refleksi dan meningkatkan pengetahuan tentang kebencanaan. Apalagi kita tahu bahwa bencana tidak hanya disebabkan pergerakan bumi yang terjadi secara alami, tapi juga akibat ketidakpedulian manusia terhadap alam."

Untuk itu, Plt Gubernur mengajak semua pihak untuk menahan diri dari segala perbuatan yang merusak alam, dan bersama-sama melahirkan perilaku positif untuk pelestarian lingkungan. Dengan demikian, kita akan tahu cara efektif dalam menanggulangi bencana, sehingga efek kerugian dari bencana itu dapat kita minimalisir."

Dalam sambutannya Nova juga berbagi pengalaman proses rehab rekon di Aceh. "Proses rehab rekon akan menyerap energi yang cukup besar, apalagi berbagai permasalahan baru bisa saja muncul dalam proses tersebut. Karena itu, kami menghimbau Pemprov Sulut agar menyiapkan rencana aksi seakurat mungkin, sehingga kondisi wilayah ini akan semakin membaik dalam waktu yang tidak lama lagi," ujar Nova.

"Terimakasih atas dukungan Pemda dan masyarakat Palu untuk kelancaran pembangunan masjid ini. Salam ukhuwah dari seluruh rakyat Aceh untuk masyarakat di wilayah ini. Semoga persaudaraan ini menjadi momentum membangkitkan semangat kita untuk bangkit demi kehidupan serta semakin meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah yang lebih baik di masa depan," pungkas Plt Gubernur Aceh.

Sementara itu, Ustadz Masrul Aidi, dalam tausyiah singkatnya menghimbau agar masyarakat Palu dapat memakmurkan Masjid Nurul Hasanah Aceh setelah selesai dibangun nanti.

"Masjid bukan semata tempat transit untuk shalat. Masjid adalah pusat kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah. Jadi, kita harus memakmurkannya, bukan hanya fasilitas untuk shalat semata. Insya Allah, masyarakat Aceh telah mendonasikan dana untuk memakmurkan fisik masji ini, kami berharap masyarakat sekitar masjid dapat memakmurkannya dengan berbagai kegiatan," imbau Ustadz Masrul.

Disambut Ribuan Masyarakat
Tiba di kawasan pembangunan Masjid Nurul Hasanah Aceh, Plt Gubernur da rombongan disambut seribuan masyarakat sekitar masjid. Ratusan siswa sekolah berjajar di sisi kiri dan kanan jalan sembari bershalawat menyambut kedatangan Plt Gubernur Aceh.

Tepat di depan pintu masuk, Plt Gubernur disambut oleh Muhamma Hidayat Lamakarate, selaku Sekretaris Daerah Provinsi Sulteng dan didaulat mengenakan Siga yaitu topi adat Sulteng.

Di akhir acara, Plt Gubernur Aceh menjadi rebutan untuk berswa foto dengan masyarakat. Usai peletakan batu pertama. Plt Gubernur dan rombonga berkesempatan meninjau secara langsung Balaroa dan Petobo, yaitu desa yang terkena musibah likuefaksi. Rombongan juga meninjau Masjid Arwam Bab Al Rahman atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Terapung Palu.

Masjid yang dibangun di atas Pantai Talise ini merupakan salah satu ikon Kota Palu, yang tidak luput dari hentakan gempa dan hantaman gelombang tsunami. Saat ini, Masjid Terapung Palu sudah tidak bisa dipergunakan lagi karena konstruksinya sudah miring dan terendam air laut. Tepat pukul 15:00 Wita, Plt Gubernur dan rombonga bertolak ke Jakarta untuk selanjutnya menuju ke Aceh. (Adv)

Penulis:redaksi
Rubrik:News

Komentar

Loading...