5 Faktor Pemicu Kegagalan Indonesia di Piala AFF 2018

Timnas Indonesia kandas di Piala AFF 2018. (Foto: Pradita Utama/detikSport)

Jakarta - Timnas Indonesia lagi-lagi gagal di Piala AFF 2018. Menjadi salah satu indikator kinerja PSSI yang tak maksimal.

Indonesia dipastikan tersingkir dari Piala AFF 2018 setelah Filipina sukses menahan Thailand 1-1, Rabu (21/11/2018). Hasil tersebut membuat Indonesia takkan mampu mengejar raihan poin Thailand dan Filipina di Grup B.

Tersingkirnya Indonesia di Piala AFF 2018 bak bom waktu. Sudah diprediksi sejak awal bakal kesulitan, tim Garuda akhirnya benar-benar terdepak di fase grup.

Sejak kalah dari Singapura 0-1 di laga pembuka, Indonesia sudah diyakini bakal kandas di fase grup. Masyarakat sudah menyuarakan kekecewaannya pada penampilan Evan Dimas dkk yang dinilai tidak oke di Piala AFF 2018.

Sejak awal Indonesia dinilai tak serius menyiapkan Timnas ke Piala AFF 2018. Selain itu sederet faktor lain membuat Timnas kesulitan bersaing dengan timnas negara lain di Asia Tenggara.

1. PSSI Tidak Serius

Piala AFF 2018 adalah ajang dua tahunan. PSSI diklaim tidak serius menyiapkan Timnas Indonesia ke turnamen se-Asia Tenggara itu. Sejak gagal juara di Piala AFF 2016, dengan cuma menjadi runner-up kala itu, Indonesia disebut tidak menyiapkan program jangka panjang.

Salah satu buktinya adalah tidak mengontrak pelatih dengan durasi lama, setidaknya sampai ke Piala AFF 2018. Luis Milla, pelatih tim Garuda sebelumnya, cuma dikontrak sampai ajang Asian Games 2018.

2. Rangkap Jabatan Edy Rachmayadi

Masyarakat juga menyoroti peran dari Ketua Umum PSSI, Edy Rachmayadi. Mantan Pangkostrad itu diklaim lalai pada tanggung jawabnya mengelola sepakbola.

Di saat-saat Timnas Indonesia butuh 'diemong' tahun ini karena banyak bertarung di banyak turnamen: Asian Games, Piala AFC U-19, dan Piala AFF, Edy Rahmayadi malah sibuk menyelami dunia politik. Ya, Edy maju menjadi Gubernur Sumatera Selatan dan terpilih pada Pemilukada beberapa waktu lalu. Ia rangkap jabatan dengan menjadi ketum PSSI dan Gubernur sekaligus.

Alih-alih lebih banyak memantau langsung Timnas Indonesia, Edy lebih banyak berada di Medan untuk mengurusi jabatan barunya. Seruan #EdyOut atau meminta pria kelahiran Aceh, 10 Maret 1961 itu lengser dari jabatan ketum PSSI, menggema usai Indonesia kalah dari Singapura.

3. Ganti Luis Milla

Tidak diperpanjangnya Luis Milla diklaim menjadi penyebab Indonesia gagal bersaing di Piala AFF 2018. Pasalnya, Indonesia tak lagi bermain apik seperti ketika dibesut pelatih asal Spanyol tersebut.

Luis Milla tidak diperpanjang kontraknya usai Asian Games 2018. Hal itu disayangkan masyarakat, sebab permainan Garuda sudah lebih baik di bawah polesannya. Tidak melulu mengandalkan sayap, dan tidak kehilangan kreativitas di atas lapangan.

Sepeninggal Luis Milla, permainan Indonesia kembali monoton. Crossing-crossing tidak jelas kembali terlihat, dan para pemain tampak kebingungan ketika menghadapi lawan yang bermain lebih menekan. Hal itu terlihat di laga melawan Singapura dan Thailand.

4. Pelatih Kurang Berpengalaman

Pengganti Luis Milla, Bima Sakti, juga disorot banyak masyarakat. Adalah jam terbangnya yang dinilai masih kurang.

Terlepas Bima Sakti adalah mantan pemain Timnas Indonesia, lalu sempat menjadi asisten Luis Milla, karier kepelatihan Bima Sakti masih sangat hijau di sepakbola Indonesia. Ia bahkan belum pernah menukangi satu klub pun di Tanah Air.

Bima Sakti cuma sempat menjadi pelatih utama ketika menukangi Timnas Indonesia U-19. Itu pun cuma satu pertandingan ia pimpin ketika melawan Timnas Jepang U-19, dan hasil akhirnya juga kekalahan 1-4.

5. Sistem Liga yang Kurang Kooperatif

Penampilan jelek Timnas Indonesia di Piala AFF 2018 juga diklaim karena sistem kompetisi yang buruk. Bukan rahasia lagi jika cuma di Indonesia, kompetisi tertingginya tetap berjalan kendati timnas level senior sedang berjibaku di turnamen internasional.

Dengan kompetisi tertinggi yang masih berjalan, Timnas Indonesia diklaim tidak bisa mencomot pemain-pemain terbaik dari klub. Imbasnya, kekuatan skuat Merah Putih tidak maksimal.

Hal itu sempat disinggung Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Ia meminta PSSI segera memberi penjelasan terkait hal itu, dan mencari solusinya.

Sumber:detik.com
Rubrik:Olahraga

Komentar

Loading...