Rumah Damping BNNP Aceh, Tempat Mantan Pecandu Pasca Rehab

kegiatan di rumah damping BNNP Aceh

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM - Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh pun sangat serius dalam penanggulangan atau menekan angka pengguna narkoba di Aceh. Menurut data 2014 tercatat sekitar 7 ribuan lebih orang terkena narkoba di Aceh. Tahun 2016, BNNP Aceh mendirikan rumah pendampingan (Rumah Damping) bagi para mantan pengguna narkoba yang sudah menjalani rehabilitasi primer (pasca rehab).

Kepala BNNP Aceh, Brigjen Pol Faisal Abdul Nasir melalui Kabid Rehabilitasi, Sayuti mengatakan, lembaga rehabilitasi primer yang ada di Aceh yakni hanya di Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Daya tampungnya pun minim yang hanya memuat sekitar 20 orang pasien. Jumlah ini jauh tidak sesuai jika dibandingkan dengan angka ribuan orang yang terkena narkoba.

"Jika di kabupaten/kota belum ada, tetapi kita juga saling bekerjasama dengan lembaga rehabilitasi komponen masyarakat (swasta) di sejumlah lokasi di Aceh untuk rehab primer. Harus diakui kalau perhatian untuk penyalaguna narkoba di Aceh ini masih sangat kurang," ujarnya Senin (25/6/2018) kemarin saat ditemui di ruang kerjanya.

Di lembaga rehabilitasi ini, para pecandu direhab untuk menghilangkan zat-zat adiktif yang terkandung pada tubuh karena penggunaan narkoba. Pasien akan diisolasi di ruang detoksin selama dua minggu yang kemudian dilanjutkan dengan program pemulihan lainnya hingga nanti dirujuk ke rumah damping.

Namun sayang, sarana dan prasarana yang ada masih sangat kurang memadai seperti kapasitas gedung atau tempat rehabilitasi untuk pasien, fasilitas dan lainnya. "Kita juga berharap pemerintah dapat membantu dalam memperhatikan para penyalaguna ini, kita sudah coba komunikasikan tetapi belum ada hasil pasti. Tidak hanya gedung yang diusulkan tetapi untuk fasilitas lainnya juga," kata Sayuti.

Rumah damping yang berada di Gampong Cot Mesjid, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh didirikan sebagai tempat pembekalan bagi mantan pecandu yang sebelumnya sudah menjalani rehabilitasi primer untuk memelihara pemulihannya dengan menjalankan program lanjutan. Jika di tempat rehabilitasi pecandu disebut dengan residen, di rumah damping mereka disebut klien.

Di rumah damping, ada beberapa program lanjutan pemulihan mantan pengguna agar tidak kembali menggunakan barang haram tersebut (relaps). Rumah ini dibangun untuk membawa para mantan pengguna berhenti total menggunakan narkoba dan menurunkan keinginan menggunakan narkoba yang biasanya dialami oleh pecandu.

"Disini, BNN mengadakan program keterampilan (vokasional) untuk meningkatkan kualitas hidup dan membuka peluang baru bagi para mantan pengguna narkoba untuk dapat kembali produktif. Program ini juga dapat membuat mereka agar lebih mandiri dan siap kembali ke lingkungan keluarga serta masyarakat," jelasnya.

Program lain yang dibuat, lanjut Sayuti, yakni pembelajaran tentang cara menghadapi tekanan ketika berada di luar. Setiap hari, para mantan pecandu ini berdiskusi, sharing dan sebagainya untuk mengembalikan rasa percaya diri, menghilangkan kegelisahan yang biasa dialami dan lainnya.

Para mantan pengguna juga diberikan pengetahuan melalui seminar yang dilakukan oleh para konselor, dokter dan psikolog. Bahkan untuk di Aceh, mereka dibekali ilmu agama yang dalam seperti mengikuti pengajian, takziah, zikir dan lainnya. Selain untuk meningkatkan ketaqwaan, hal ini dilakukan sesuai dengan misi pemerintah yang ingin menjadikan Aceh sebagai kota zikir.

"Saat ini di Rumah Damping ada sekitar 40 orang klien yang menjalani program lanjutan pemulihan. Klien ini berasal dari seluruh kabupaten/kota di Aceh, mereka pun didampingi oleh 7 konselor yang tergolong dari dua kategori konselor yang berasal dari warga biasa dan konselor yang merupakan mantan pecandu yang kini sudah sembuh total," ungkapnya.

Klien akan menjalani pembinaan di rumah damping selama 50 hari per tahap yang artinya dalam tahap pertama pihaknya akan menempah 10 orang klien selama 50 hari. Kemudian, mereka akan dikembalikan kepada pihak keluarga. Namun, BNN pun tetap memonitor klien yang sudah keluar dari rumah damping dengan mendatangi rumah mereka dan mengecek perkembangan yang terjadi.

Setelah keluar dari balai rehabilitasi, para pecandu akan langsung dibawa ke rumah damping untuk menjalani berbagai macam program. Bangunan rumah damping sendiri berhimpitan dengan pemukiman warga, hal ini juga agar klien dapat kembali memperbaiki mentalnya dalam berinteraksi dengan masyarakat.

Di rumah damping, kita melihat sejumlah fasilitas yang tersedia layaknya rumah pada umumnya. Sejumlah ruang tidur, dapur, ruang tamu, garasi dan sebagainya. Di halaman rumah, kita dapat melihat beberapa kolam budidaya ikan, lahan bercocok tanam, pembuatan mebel, tempat pembuatan kerajinan tangan dan lain sebagainya.

Di bagian dalam rumah, kita dapat melihat sejumlah hasil kreasi para klien berbentuk kerajinan tangan. "Disinilah tempat tinggal dan tempat klien beraktivitas sehari-harinya," kata Kasi Rehabilitasi BNNP Aceh di rumah damping, Saiful saat ditemui Senin (25/6/2018) siang kemarin.

Disini, ada sekitar 7 orang konselor berasal dari warga biasa dan dari mantan pecandu. Selain itu juga ada dokter beserta tim medis serta psikolog yang terus memantau perkembangan klien tiap waktunya. Konselor, bertugas untuk memberikan sejumlah keterampilan dan segala macam pembekalan sebelum nantinya para klien dapat dinyatakan keluar dari rumah damping.

Konselor dari mantan pengguna narkoba yang benar-benar telah pulih dipercaya untuk membantu BNN dalam menangani dan menghadapi para mantan pecandu pasca rehab. Hal ini dilakukan karena mereka lebih mengerti dan pernah merasakan apa yang dirasakan klien. Ini terbukti dengan lebih akrabnya antara konselor mantan pecandu dengan klien yang baru.

Keterampilan dan aktivitas yang diberikan kepada klien beragam. Mulai dari bercocok tanam, budidaya ikan, membuat kerajinan tangan, mebel dan sebagainya. Sebelum mengikuti program, klien akan ditanyai tentang minat dan bakat yang diinginkan. Jika minat dan bakat ini di luar program yang disediakan, BNN akan berusaha membantu kebutuhan yang diinginkan.

"Di rumah damping klien diberi kebebasan berekspresi dan beraktivitas, bahkan setiap saat klien juga dapat dijenguk keluarga selama tidak mengganggu kegiatan di rumah damping, tidak ada aturan khusus yang dibuat, intinya klien harus benar-benar kembali terbebas dari narkoba dan hal buruk lainnya," katanya.

Klien juga diperkenankan keluar rumah, namun biasanya secara bersama-sama dengan seluruh klien lain dan juga konselor yang bertugas memantau. Jika keluar rumah, biasanya mereka akan pergi ke sejumlah tempat untuk bersantai dan berdiskusi seperti ke pantai, outbond, ngopi bareng dan lainnya.

Namun, sarana dan prasarana disini juga masih minim. Banyak klien pasca rehab ini yang harus mengantre dengan waktu lama agar dapat masuk ke rumah damping dikarenakan keterbatasan kapasitas. Di rumah damping pun belum memiliki kendaraan operasional sendiri yang dapat digunakan atau diperlukan untuk membawa klien keluar rumah nantinya.

"Untuk bangunannya ini masih kontrak, kita belum ada bangunan atau gedung sendiri, BNN masih mengupayakan agar kedepan nanti bisa ada bangunan sendiri. Kadang kendala lainnya di transportasi, kadang kita bawa klien dengan memesan ojek atau taksi online," keluh Saiful.

Sama halnya dengan di tempat rehabilitasi, seluruh klien ini tidak akan dipungut biaya apapun karena mereka dibiayai negara meski masih terbatas. Setiap klien akan menjalani berbagai aktivitas yang sudah dijadwalkan setiap harinya dan menjalani beberapa tahapan hingga akhrinya keluar dari rumah damping dan dapat kembali menjalani kehidupannya.

"Awalnya klien akan diobservasi, akan ditanya tentang minat bakat, hingga hal-hal yang harus dilakukan oleh klien. Lalu klien akan ditekankan terhadap materi, klien dibebaskan untuk boleh pulang ke rumah, namun hanya boleh beberapa hari lalu difokuskan ke keterampilan klien," ungkapnya.

Rumah damping BNNP Aceh ini juga bekerjasama dengan sejumlah instansi terkait lain seperti Depnakertrans untuk nantinya dapat membantu para klien melanjutkan hidup, salah satunya adalah untuk bekerja atau mencari pekerjaan sesuai keterampilan yang dimiliki.

"Misalnya terampil membuat mebel atau kerajinan tangan, kita akan coba memfasilitasi bagaimana supaya klien nanti bisa dapat kerja jika itu layak. Klien yang sudah keluar dari rumah damping terbukti ada yang sudah bekerja di sejumlah tempat usaha mebel, makanan, bahkan di bank," katanya.

Salah seorang konselor mantan pecandu bernama Khairullah (28), warga Langsa yang kini menetap tiga tahun di Banda Aceh mengatakan, berbagai hal dialaminya saat berhadapan dengan para klien. Lelaki yang kini dipercaya sebagai konselor di rumah damping BNNP Aceh ini merasa bertanggung jawab dalam menangani klien meski harus menyita waktu bagi pribadinya.

"Ada sejumlah kendala di awal, menerima sejumlah keluhan yang dirasakan klien, curhatan dan lainnya. Bahkan di awal masih banyak klien yang masih suka memanipulasi dan ini memang hal yang wajar karena mantan pecandu lebih pintar memanipulasi dalam berbagai hal, tetapi lama-kelamaan ada perubahan setelah menjalani program," jelasnya.

Sementara salah seorang klien bernama Khairinnas, mantan pecandu narkoba asal Lhokseumawe yang kini masih menempati dan menjalani program di rumah damping merasa senang dengan perubahan yang dialami. Pria paruh baya ini pun kini merasa rumah damping adalah tempat yang nyaman.

Khairinnas awalnya adalah pengguna aktif sabu dan akhirnya insyaf setelah sebelumnya mengalami hal-hal terberat dalam hidupnya seperti konflik dalam keluarga dan lainnya. Mantan lulusan salah satu pesantren di Langsa ini mengatakan, di rumah damping ia benar-benar ditempah agar dapat kembali hidup di masyarakat.

"Konselornya mengerti apa yang kita rasakan, mereka ikhlas dan terus berupaya menempah kita untuk menuju yang lebih baik. Disini kita bisa berekspresi, berketerampilan, ditempah mental kita dari stigma masyarakat yang berpikir bahwa pecandu adalah aib atau hal yang negatif bahkan kriminal. Mereka ini juga keluarga saya," katanya.

Melihat proses yang dijalani dalam penanganan penyalahguna narkoba ini, dirasa masih sangat butuh perhatian serius dari pemerintah salah satunya dengan membantu melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Diharapkan, pemerintah terkait dapat ikut ambil bagian dalam penanganan demi menekan angka penyalahguna dan mewujudkan negara yang bebas narkoba sesuai yang diintruksikan. (hafiz)

Penulis:Hafiz
Rubrik:News

Komentar

Loading...