Bea Cukai Aceh Gagalkan Penyeludupan Bawang Merah dan Barang Ilegal Lain asal Thailand

IMG-20180316-WA0018

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM - Bea Cukai Aceh menggagalkan penyeludupan kapal bermuatan bawang merah dan sejumlah produk ilegal lain di wilayah perairan Ujung Aceh Tamiang. Kapal berbendera Indonesia tersebut memuat barang impor asal Satun, Thailand, yang bernilai mencapai Rp 1 miliar lebih.

Kepala Kantor Bea Cukai Aceh, Agus Yulianto mengatakan, penyeludupan bawang merah dan produk illegal lainnya itu diangkut Kapal Motor (KM) Tuna I GT.35 di perairan Ujung, Aceh Tamiang, Rabu (14/3/2018) lalu.

"Upaya penyeludupan itu diperkirakan menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 231,435 juta," ujarnya saat konferensi pers di Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh, Banda Aceh, Jumat (16/3/2018).

Ia menjelaskan, penggagalan itu berawal dari informasi intelijen yang bekerjasama dengan Bea Cukai dan aparat lenegak hukum lainnya. Kemudian, tim Bea Cukai melakukan patrol laut dengan Kapal Patroli BC 20004, Rabu (14/3/2018) dini hari lalu. Dalam patrol itu, petugas mencurigai KM Tuna I yang penuh muatan sedang menuju arah Aceh Tamiang.

"Tim patroli berusaha menghentikan laju kapal motor tersebut untuk dilakukan pemeriksaan. Awalnya kapal motor yang dinahkodai oleh UH (40) tidak mengindahkan peringata petugas, sehingga dilakukan pengejaran dan akhirnya dihentikan pukul 01.24 WIB, diperiksa dokumen, fisik terhadap muatan kapalnya,” jelas Agus.

Saat diperiksa, lima Anak Buah Kapal (ABK)dan  KM Tuna I termasuk nahkoda tidak dapat menunjukkan dokumen kepabeanan yang sah, sehingga diduga mereka telah melakukan tindak pidana penyeludupan. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, kapal itu ditarik ke pangkalan Bea Cukai Belawan, Sumatera Utara.

Dari hasil pemeriksaan fisik, lanjutnya, ditemukan barang berupa 950 karung bawang merah, 190 karung kelapa, 175 batang bibit pohon kurma, 26 ekor ayam hidup, 70 karton obat atau vitamin unggas, 75 karton teh dan 2 karung pupuk.

“Kapal ditahan karena dari pemeriksaan terhadap mereka, tidak ditemukan dokumen yang sah sebagai salah satu persyaratan importasi barang pembatasan. Saat ini muatan barang KM Tuna I ini telah dipindahkan ke Kanwil Bea Cukai Aceh guna proses lebih lanjut sesuai ketentuang undang-undang,” ungkap Agus.

Atas tindakan tersebut, para ABK dan nahkoda KM Tuna I diduga melakukan pelanggaran atas ketentuan Pasal 102 huruf (a) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

"Setiap orang yang mengangkut barang impor yang tidak tercantum dalam manifest dipidana karena melakukan penyeludupan di bidang impor dengan pidana penjara paling singkat 1 tahun dan pidana penjara paling lama 10 tahun," tambahnya.

Penulis:Hafiz
Rubrik:Headline

Komentar

Loading...