Tiyong: Soal Kongkalikong, Irwan Johan Rendahkan Marwah DPRA

IMG-20180220-WA0022

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM - Anggota Komisi IV DPR Aceh, Samsul Bahri (Tiyong) menyesalkan statemen Wakil Ketua DPRA, Irwan Djohan terkait tudingan bahwa pembahasan RAPBA 2018 terlambat karena tidak ada lagi kongkalikong atau bagi-bagi dan nego antara eksekutif dan legislatif.

Menurutnya, hal tersebut dapat menimbulkan mispersepsi dan kesalahpahaman di mata publik. Pernyataan itu secara tidak langsung telah mendiskreditkan dan merendahkan anggota DPRA lainnya.

"Tudingan tersebut juga  merendahkan marwah dan citra DPRA secara kelembagaan. Hal ini juga bentuk serangan atas Pemerintah Aceh yang seakan-akan telah berkomplot dengan DPRA," ujarnya Rabu (21/2/2018) melalui rilis yang dikirimkan.

Ia menjelaskan, padahal selama ini anggota dewan telah banyak juga melakukan tugas dan fungsi dewan lainnya yang layak diapresiasi oleh masyarakat. Dengan pernyataan Irwan ini, menurutnya masyarakat akan beranggapan anggota dewan hanya fokus mengurusi kepentingan pribadi.

"Kalau memang selama ini saudara Irwan Djohan menemukan indikasi kongkalikong, sudah seharusnya Pak Irwan sebagai salah satu pimpinan DPRA berdiri paling depan untuk menentangnya. Tetapi selama tiga tahun keberadaannya di DPRA kita tidak pernah mendengar beliau mengungkapnya," katanya.

"Hal ini tentu menjadi tanda tanya apakah selama ini saudara Irwan telah ikut terlibat untuk berkomplot dalam melakukan suatu permufakatan jahat sebagaimana tudingannya tersebut? Sekali lagi kita sangat menyesalkan pernyataan yang terkesan provokatif dan spekulatif tersebut. Ini juga bentuk simplifikasi dinamika pembahasan RAPBA yang secara prosedural memang "complicated"," lanjutnya.

Apa yang disampaikan Irwan Djohan, menurutnya hanya akan memperkeruh suasana di tengah harapan agar DPRA dan TAPA dapat segera menyepakati RAPBA di bulan februari ini. Hal ini sangat kontraproduktif dengan semangat kebersamaan antara TAPA dan DPRA sebelumnya agar APBA dapat disahkan melalui Qanun.

"Dugaan saya tindakan saudara Irwan hanya sebagai bentuk pencitraan personal di depan publik. Selama ini yang bersangkutan telah beberapa kali membangun panggung pencitraan untuk dirinya sendiri di saat DPRA mendapat cibiran dari masyarakat. Harusnya sebagai pimpinan, dialah yang paling bertanggung jawab untuk membangun citra positif lembaga DPRA, bukan justru meruntuhkan harkat dan wibawa lembaga. Dia ingin jadi pahlawan, yang lain jadi pecundang. Inikan tidak benar," jelasnya

Tiyong mengimbau Irwan untuk berhenti mengeluarkan statement yang dapat menimbulkan polemik ditengah publik dan fokus saja mengawal pembahasan RAPBA sehingga dapat disahkan secepat mungkin. Itu yang di tunggu-tunggu oleh rakyat. Pernyataan yang bersifat politik citra, tidak akan membuat rakyat kenyang.

"Kita juga menghimbau seluruh stakeholder yang terlibat dalam proses pengesahan APBA agar benar-benar fokus dan berkomitmen untuk segera menyelesaikannya. Mari kita samakan persepsi serta menghindari polemik agar semua agenda pemerintahan terkait kepentingan rakyat dapat dilaksanakan tanpa hambatan," lanjutnya.

"Kita tentu butuh relasi yang harmoni dan komunikasi yang efektif antar stakeholder agar program-program pro rakyat dapat dilahirkan. Maka dari itu di perlukan singkronisasi dan sinergisitas antara eksekutif dan legislatif sehingga cita-cita dan visi Aceh hebat bukan utopia belaka," tambah Tiyong.

Penulis:Hafiz/rilis
Rubrik:Politik

Komentar

Loading...