Buku Harun Keuchik Leumiek Penyelamat Warisan Budaya Diluncurkan

Banda Aceh - Buku ‘Harun Keuchik Leumiek Penyelamat Warisan Budaya’ yang diluncurkan, di Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh, Kamis (16/11), itu diterbitkan karena perhatian terhadap penyelamatan benda-benda bersejarah yang dilakukan Kolektor Haji Harun Keuchik Leumiek.

“Beliau adalah seniman, wartawan, pengusaha, kolektor dan budayawan yang banyak menyelamatkan benda-benda sejarah warisan budaya Aceh. Ini sangat langka dan layak menjadi inspirasi,” kata Penulis buku biografi itu, Nab Bahany AS.

Acara peluncuran buku ini juga dihadiri Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Illiza  Sa’aduddin Djamal (mantan Walikota Banda Aceh), anggota DPR Aceh, para tokoh ulama, tokoh masyarakat, pejabat dan puluhan wartawan.

Ia mengungkapkan, alasannya membuat buku otobiografi Harun Keuchik Leumiek tersebut, karena perhatiannya terhadap penyelamatan benda-benda bersejarah, disamping profesi Harun sendiri sebagai jurnalis dan pengusaha sukses di Aceh.

Diceritakan, awalnya Harun masih meragukan akan kelayakan dirinya sebagai penyelamat benda bersejarah di Aceh. Namun, Nab Bahany mencoba meyakinkan bahwa penyematan Harun sebagai penyelamat benda bersejarah juga berdasarkan masukan dari para tokoh. “Oleh karena itu pak Harun menyetujuinya,” ujarnya.

Dia mengakui, dalam penulisan otobiografi tersebut hanya melihat dari satu sisi saja yaitu dari pengabdian Harun sebagai kolektor dan penyelamat benda budaya Aceh. “Dari sisi profesinya (sebagai jurnalis) sebenarnya banyak yang menonjol dan layak diteladani,” katanya.

Keunikan yang dimiliki sosok teladan ini, kata Nab, tidak banyak dimiliki orang lain. Sebab, Harun bukan hanya sekedar kolektor, tetpai pemahaman filosofi dari benda-benda koleksinya itu juga dikuasai dan dipahami secara detail. Dengan pemahaman secara filosofis itu, Harun juga dikenal sebagai Budayawan Aceh.

“Bukan hanya sebagai kolektor, tetapi filosofi benda-benda itu juga dipahaminya. Saya kira ini sebuah keunikan, karena tidak mudah memahami benda-benda bersejarah peningglan budaya,” ujarnya.

Sementara itu, H. Harun Keuchik Leumiek mengatakan, buku yang ditulis Nab Bahany itu sangat , membantu dirinya dalam menceritakan biografinya. Karena sulit menulis kisah sendiri menjadi sebuah buku.

Apalagi dalam buku tersebut menceritakan betapa pentingnya merawat nilai budaya. “Kalau bukan kita memelihara budaya, siapa lagi yang menjaganya,” ujar Harun yang juga Kepala Kantor Perwakilan Harian Analisa dan Medan Bisnis itu.

Karena menurutnya, selama ini banyak warga-warga asing yang mencari benda-benda bernilai budaya itu. Bahkan, ada yang meminta membeli benda hasil koleksinya untuk dibawa pulang.

Beragam benda-benda antik dan bersejarah, terutama yang ada di Aceh, sudah kumpulkannya sejak 1980, diantaranya perhiasan, koin-koin dirham, senjata api pada jaman Belanda, serta senjata tajam yang dikoleksi di tempat kediamannya.

“Pada 2013 lalu, saya juga membeli lagi 300 koin peninggalan masa kerajaan dulu yang berada di Gampong Pande,” kata Kolektor benda bersejarah itu.

Untuk itu, Harun sangat mengharapkan di Museum Aceh bisa mengumpulkan benda-benda bernilai sejarah yang ada di Aceh. Supaya kedepan generasi-generasi muda bisa mengenal beragam benda bernilai budaya.

Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah mengatakan, sangat mengapresiasi dengan dibuatnya buku biografi Harun Keuchik Leumik. Karena sulit dalam menulis sebuah buku, apalagi harus jujur.

“Khazanah keilmuan itu ada dalam buku. Bukan hanya isinya saja, tapi memegang bukunya juga penting,” ujarnya, sembari mencontohkan orang luar negeri setiap berada di kenderaan umum, mereka memegang buku.

Untuk itu, Wagub meminta kepada Dinas Perpustakaan dan Arsip bisa menempatkan karya-karya anak bangsa di Aceh, seperti karya Harun Keuchik Leumiek itu diperlakukan khusus. “Karena nantinya bisa dimanfaatkan oleh anak-anak kita kedepan,” ujarnya.

Ia berharap kepada Harun, supaya tetap menerbitkan karya-karyanya lewat buku, supaya selanjutnya bisa diwariskan kepada anak-anak muda jaman sekarang.

Penulis:Teuku dedi
Rubrik:News

Komentar

Loading...