Pungli Dapat Menghambat Iklim Investasi

foto: Aceh Portal

Banda Aceh – Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf mengingatkan seluruh jajarannya untuk menghindari praktik meminta atau memberikan fee.

Penegasan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Daerah Aceh, Dermawan, saat membacakan sambutan tertulis Gubernur Aceh, sekaligus membuka secara resmi kegiatan Sosialisasi Pencegahan dan Pemberantasan Pungli Sektor Perizinan dan Pengadaan Barang dan Jasa, di Ruang Serbaguna Setda Aceh, Selasa (7/11/2017).

“Bapak Gubernur selalu menegaskan, bahwa Pemerintah Aceh menganut mazhab hana fee atau tidak ada fee. Ini menjadi catatan bagi kita untuk mendukung komitmen Pimpinan daerah dengan tidak melakukan pungli, menolak menerima fee atau komisi dari manapun,” tegas Dermawan.

Sekda juga mengungkapkan, bahwa pungutan liar merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia karena perilaku ini seakan sudah menjadi tradisi yang ada sejak lama.

“Pungli sengaja dibangun oleh oknum atau jaringan tertentu untuk mempermudah jalan bagi mereka yang tidak taat aturan, sehingga merusak dan memperburuk sistem hukum yang telah dibangun Pemerintah. Ironisnya, budaya Pungli ini sudah berlangsung secara masif sehingga tidak mudah untuk diberantas,”ujar Sekda.

Lebih lanjut, Dermawan menambahkan, dalam kacamata sosial, setidaknya ada tiga dampak buruk dari perilaku Pungli, yaitu perilaku ini akan sangat mengganggu dan memberatkan masyarakat karena Pungli menyebabkan ketidakadilan dalam pelayanan.

“Sektor perizinan dan pengadaan barang jasa di Aceh sudah satu pintu, yaitu di Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu. Saya berharap sosialisasi ini juga dilakukan di kabupaten/kota agar lebih masif,” kata Sekda.

Untuk diketahui bersama, paket proyek di Aceh tahun 2017 adalah sebanyak 1500 paket yang proses penyediaan barang dan jasanya dilakukan oleh 174 kelompok kerja (Pokja) di bawah Unit Layanan Pengadaan (ULP).

Selanjutnya, sambung Sekda, dalam konteks dunia usaha, Pungli bisa mempengaruhi iklim investasi dan merusak daya saing dunia usaha. “Orang yang tadinya mau berinvestasi di Indonesia, tapi karena adanya pungli, mereka menjadi enggan untuk mengembangkan usahanya sebab tradisi pungli adalah gambaran yang menunjukkan lemahnya tingkat kedisiplinan aparatur di negeri ini,”jelasya

“Maraknya pungli akan menjadi gambaran betapa merosotnya wibawa hukum. Aturan hukum yang telah disusun sedemikian rupa telah dicabik-cabik oleh perilaku buruk oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab,”ungkapnya.

“Oleh sebab itu, tidak ada kata lain yang bisa dikatakan dalam rangka memberantas Pungli, selain usaha keras untuk memberantas perilaku buruk ini hingga ke akar-akarnya. Untuk itu, perlu gerakan bersama yang dilakukan secara kolosal di semua lini agar dapat memerangi perilaku buruk ini,” ujar Dermawan.

Penulis:Teuku Iqbal
Rubrik:Kota

Komentar

Loading...