Maraknya Pembakaran Lahan, Perusahaan Perkebunan Diminta Berperan Aktif Cegah Karhutla

Personil dan dan kendaraan damkar yang dimiliki PT SPS di Nagan Raya

Banda Aceh, acehportal.com - Perusahaan perkebunan kelapa sawit harus berperan aktif dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Melalui upaya tersebut, diharapkan bisa membendung kebakaran hebat seperti tahun-tahun sebelumnya. "Ini adalah kewajiban mereka," kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Aceh, Muhammad Nur.

Pernyataan Nur, terkait erat dengan kembali terbakarnya hutan di Aceh Barat. Akibat peristiwa tersebut, dalam beberapa hari terakhir Meulaboh dikepung asap. Jarak pandang menjadi sangat terbatas dan aktivitas warga pun terganggu.

“Harusnya memang begitu. Perusahaan tidak semata-mata mengambil keuntungan, tetapi juga turut membendung kebakaran,” kata Nur.

Menurut Nur, dengan berperan aktif, suatu perusahaan bisa memberi dampak ikutan yang baik, tidak hanya menjadi contoh bagi perusahaan lain namun juga masyarakat. Untuk itu, dia berharap semua perusahaan hendaknya menyampaikan berbagai upaya yang sudah dilakukan demi mencegah kebakaran hutan dan bahkan kelestarian lingkungan.

“Alat ukurnya adalah progres yang mereka sampaikan ke publik. Misalnya perusahaan-perusahaan yang berada di Aceh maupun luar Aceh melakukan hal yang sama, dan kemudian menyampaikan kepada publik, maka orang akan paham terhadap apa yang mereka lakukan,” kata Nur.

Begitupun Nur mengingatkan, bahwa perusahaan tidak bisa berdiri sendiri dalam mencegah kebakaran. Dalam hal ini, perusahaan harus melakukan kerja sama dengan pemerintah, masyarakat, dan penegak hukum. Selain itu, tentu saja dengan kesatuan perangkat yang selama ini memadamkan api, sebagai mitra strategis.

“Di sinilah peran pemerintah untuk memfasilitasi semua pihak termasuk perusahaan untuk berkomitmen. Ketika pemerintah mengakui keberadaan perusahaan, maka pemerintah juga harus memikirkan keterlibatan mereka dalam setiap upaya pemadaman api,” kata dia.

Terkait peran tersebut, salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Nagan Raya, PT Surya Panen Subur (SPS), sudah melakukan upaya optimal. Termasuk, ketika peristiwa kebakaran hutan kembali terjadi di Aceh Barat saat ini.

Seperti dikatakan Community Development Officer (CDO) PT SPS Anas Muda Siregar, meski lahan perkebunan SPS tidak terdapat titik api, namun perusahaan bersiaga penuh selama 24 jam di dua perbatasan, yakni dengan PT Gelora Sawita Makmur (PT GSM) dan PT Kalista Alam. Kesiagaan dilakukan, lanjut Anas, agar api yang terdapat di dua perusahaan 'tetangga' itu tidak melompat ke wilayah HGU PT SPS. “Alhamdulillah tidak terjadi kebakaran di wilayah HGU PT SPS,” kata Anas, Kamis (3/8/2017).

Tidak hanya bersiaga di perbatasan, TKTD PT SPS juga membantu memadamkan api yang terdapat di PT Kalista Alam dan PT GSM. Mereka bahkan harus melewati jalur alternatif untuk mencapai titik api. “Untuk membantu memadamkan, kita pusing melewati jalan alternatif,” kata Anas.

PT SPS memang menunjukkan kepedulian terhadap pencegahan kebakaran lahan dan hutan. Jauh sebelumnya, perusahaan yang berlokasi di Kabupaten Nagan Raya tersebut juga melakukan berbagai langkah preventif. Di antaranya, melakukan apel siaga pencegahan kebakaran, melantik TKTD, hingga simulasi pencegahan kebakaran.

Menurut Anas, upaya pencegahan kebakaran memang jauh lebih efektif dibandingkan penanganan kebakaran. Itu sebabnya, PT SPS menerapkan upaya pencegahan sejak dini. Upaya tersebut, bahkan sudah dimulai sejak landclearing, termasuk saat membentuk blok-blok, parit, tanggul, dan embung. “Bahkan, sampai sekarang, perusahaan juga menerapkan water management yang tertata,” terang Anas Muda Siregar.

Penulis:gun
Rubrik:Headline

Komentar

Loading...