Proyek Median Jalan Dua Jalur Atam Dipertanyakan

AnalisaPekerja proyek median jalan sedang meratakan timbunan tanah kuning pada median/pembatas jalan yang dianggap warga menyalahi bestek

Kualasimpang - Proyek median jalan dua jalur di pusat Kabupaten Aceh Tamiang (Atam) sepanjang lebih kurang 1 kilometer meliputi Sim­pang Hotel Grand Arya sampai Pertigaan Kedai Besi diduga menyimpang dari bestek. Sejumlah warga Aceh Ta­miang juga memperta­nyakan proyek konstruksi tersebut.

“Kami heran, tanah untuk taman me­­di­an jalan kok meng­gu­nakan tanah ku­­ning, tentunya tidak bagus untuk tum­buh­an, cocoknya tanah kuning itu un­tuk tanah timbun,” kata Syapri, warga Kualasimpang kepada Analisa, Selasa (18/7).

Menurutnya, sejak proyek trotoar pembatas jalan tersebut dikerjakan hingga tahap penimbunan, dia tidak pernah melihat ada tanah hitam yang ditimbun. Bahkan timbunan dasar yang digunakan rekanan berupa tanah kuning bercampur batu. “Sa­ya lihat pema­sangan beton trotoar juga hanya direkatkan de­ngan semen begitu saja tanpa dikorek, itu sangat diragukan mudah lepas jika terkena tekanan,” ujarnya.

Warga lainnya, Syaiful menyatakan, taman median jalan dibangun di atas aspal termasuk posisi tanah timbun landasan­nya adalah aspal dan bukan tanah. Hal itu menurutnya dapat mengganggu pertumbuhan pohon di atas­nya karena ketika pohon median besar akarnya akan mentok di dasar aspal.

“Bayangkan saja, tinggi batu trotoar hanya sekitar 30 cm, kalau hanya jenis bunga yang ditanam boleh lah, tapi kalau seperti jenis pohon glodokan tiang dan pucuk merah akarnya tidak bisa menembus aspal dan pohon akan mudah tumbang,” terangnya.

Syaiful bersama rekannya, Yusri dan Dian sangat menya­yangkan pe­laksanaan proyek bernilai miliaran rupiah tersebut, ternyata realisasi di lapangan diduga menyalahi bestek yang ditentukan. “Kalau kami perhatikan fungsi pengawasan peker­jaan median jalan di lapangan juga lemah. Peran konsultan pe­ngawas perlu dipertanyakan,” sebut mereka.

Sejumlah pekerja proyek yang ditemui Analisa di lapangan mengatakan, tanah untuk menimbun median jalan adalah ta­nah campur. Untuk dasar menggunakan tanah merah keras campur batu dan di permukaan menggunakan tanah kuning. “Di atas tanah kuning tapi gembur tidak ada batu, kalau di bawah pakai tanah merah,” kata pekerja penimbun tanah.

Sedangkan tiga pekerja proyek pemasang trotoar median di depan kafe Jogja mengatakan, median jalan dibangun di atas landasan base aspal, nantinya setelah median selesai juga akan ditimbun tanah kuning. Mereka memperkirakan pema­sa­ngan median jalan akan rampung sekitar seminggu ke depan. “Paling tidak sampai satu minggu sudah selesai,” ujar­nya.

Namun, saat ditanya di mana konsultan pengawasnya, tiga pekerja proyek tersebut tidak tahu keberadaan konsultan pe­ngawas. “Tadi ada. Banyak pengawasnya ada lima orang, tapi entah ke mana ini,” katanya.

Tidak dijumpai

Meskipun dibilang ramai, namun konsultan pengawas tidak dijumpai di lapangan. Padahal mereka sudah digaji 2% dari pagu anggaran proyek. Namun fungsi pengawasan proyek di la­pa­ngan dianggap warga sangat lemah, sehingga pekerjaan yang diduga menyimpang tidak bisa dihentikan.

Sejumlah staf Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat PUPR Aceh Tamiang yang dikonfir­masi Analisa, mengaku tidak tahu menahu soal pelaksanaan proyek median jalan tersebut, sebab mereka tidak ikut dilibat­kan.

“Setahu kami itu proyek provinsi, tapi kami tidak dilibatkan sama sekali, jadi kita tidak tahu RAB-nya dan kapan limit waktunya selesai dikerjakan,” kata Burhan bersama Sunardi, di Kantor PUPR Atam.

Menurut mereka, proyek median jalan tersebut inklud de­ngan proyek pengaspalan jalan dua jalur Aceh Tamiang di Karang Baru yang dananya bersumber APBN murni tahun 2017 yang dikerjakan pihak provinsi. “Ya, memang agak aneh kalau tanah timbunnya pakai tanah kuning dan dasarnya aspal. Tapi kita tidak tahu spesifika­sinya seperti apa, kita bukan penga­was apalagi pelaksana,” terangnya.

Seorang pelaku konstruksi di Aceh Tamiang, Sebayak Lingga kepada Analisa ikut berkomentar. Pasalnya, selama dia melakoni dunia konstruksi belum pernah ada median jalan yang ditimbun menggunakan tanah liat/kuning. Sebab median jalan tempat ditanamnya pepohonan, seharusnya meng­gu­nakan tanah hitam yang mengandung unsur pupuk.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pa­da proyek jalan dua jalur sekaligus me­dian jalan di Aceh Tamiang, Faisal ya­ng dihubungi Analisa melalui sambungan telepon selular tidak berhasil. Nomor ponselnya aktif namun tidak meng­angkat beberapa kali panggilan ma­suk. Faisal selaku PPK tersebut, juga ti­dak membalas konfirmasi yang di­la­yang­kan wartawan via pesan singkat/sms.

Pengamatan Analisa, pengerjaan pro­yek median jalan ma­sih berlangsung hingga sekarang. Para pekerja tengah menim­bun tanah ke dalam tro­to­ar median jalan. Sebagian lagi pe­ker­ja memasang trotoar median yang belum rampung.

Sumber:Analisa
Rubrik:News

Komentar

Loading...