Gubernur Aceh Irwandi Yusuf: Program Kami Mensejahterakan Rakyat Aceh Bukan Kelompok Maupun Partai

PELANTIKAN ii

Banda Aceh, acehportal.com -- Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dalam pidatonya usai pengambilan sumpah jabatan oleh Mendagri RI menegaskan, pemerintahan baru Aceh ini akan menjalankan program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan kesejahteraan itu akan diukur dengan penurunan angka kemiskinan di bawah angka ratarata nasional, peningkatan kualitas pelayanan dasar dan peningkatan produksi berbagai komoditas di Aceh, termasuk pertanian dan perikanan.

Tentu saja aspek pembangunan manusia berupa nilai agama dan jati diri Aceh dilakukan dengan menguatkan pendidikan berbasis nilai moralitas Islam dalam setiap tingkatan pendidikan, dan memperkokoh eksistensi kelembagaan keislaman dalam menyebarluaskan nilai-nilai Islam.

Semua hal itu dapat kita wujudkan dengan birokrasi yang kuat dan profesional, dan menugaskan mereka yang berilmu dan berkecakapan pada posisi yang tepat. Kita semua tahu bahwa Aceh diberkahi kekayaan alam dan lingkungan hidup, dan ekosistem Aceh adalah anugerah yang wajib dirawat secara berkelanjutan dan lestari, serta dipergunakan untuk kemakmuran rakyat dengan adil.

Untuk itu kita harus memperbaiki kerusakan yang telah terjadi untuk menghindarkan rakyat Aceh dari bencana, dan berperan aktif dalam memerangi sebab dan dampak perubahan iklim baik secara nasional dan internasional.

"Sejauh ini, saya kira, rakyat Aceh telah belajar banyak dari proses transisi demokrasi yang berlangsung, dan memahami esensi perdamaian adalah untuk menuju kesejahteraan. Saya sendiri mempunyai mimpi dan cita-cita, semacam imajinasi tentang masyarat Aceh yang saya bayangkan, dan saya yakin akan sejalan dengan harapan masyarakat Aceh yang hidup dengan menerapkan syariat Islam." ujarnya.

Bahwa semua anak-anak, termasuk anak-anak yatim dengan bahagia dapat merasakan pendidikan tanpa hambatan kemiskinan. Semua orang mendapatkan pelayanan publik yang berkualitas di bidang kesehatan. Insya Allah, kita tidak mendengar lagi ada orang sakit tidak mendapatkan pelayanan kesehatan karena tidak punya biaya.

Kaum perempuan Aceh harus mendapatkan kesempatan sehingga dapat berperan dalam masyarakat dengan maksimal sebagai ibu dan warga masyarakat yang produktif. Jangan lupa tanggungjawab para laki-laki untuk melindungi hak-hak perempuan dan menjauhkan dari kekerasan.

Irwandi menyebutkan, bahwa sejak Republik Indonesia berdiri telah berpuluh kali pemimpin Aceh berganti lewat sumpah dan pelantikan seperti hari ini, tapi adalah kenyataan Aceh ini masih terus berjuang untuk mencapai apa yang para pendahulu impikan. Aceh memang telah melewati masa sulit yang panjang, perang dan konflik bersenjata, dan kini generasi baru Aceh memiliki harapan.

Rakyat juga mencatat bahwa para pemimpin datang dan pergi dengan beragam program dan janji pembangunan, baik pada saat bumi Aceh kaya raya dengan gas, juga pada saat konflik bersenjata, serta pada saat perdamaian dengan membawa harapan baru akan kemajuan.

Bagaimanapun juga rasa pedih dan kecewa yang pernah ada, atas janji yang tak sampai, atas program yang tak berjalan, tak akan membuat kita semua patah semangat, lalu bersikap apatis dan sinis atas kenyataan yang ada.

“Saya percaya kesempatan masih terbuka, dan sejarah juga membuktikan, rakyat Aceh yang berjiwa patriotik bukanlah masyarakat yang mudah putus harapan. Dalam banyak catatan sejarah kita menyaksikan, bahwa rakyat Aceh yang dibentuk dan dipandu oleh iman Islam, selalu berikhtiar dan bekerja keras untuk mewujudkan yang terbaik.” Ujarnya.

Seperti diajarkan oleh para endatu dalam hadih maja: “Meunyoe eik ta ayon ngon ta antoek, dalam bak jok diteubiet nira”, yang maknanya jika kita bekerja keras mengolah sesuatu, bahkan dalam pohon ijuk yang keras dan pahit kita bisa mengambil manisnya air nira. “Saya percaya ethos dan semangat bekerja yang dikandung oleh hadih maja itu, dan nilai-nilai kearifan budaya di Aceh, akan terus hidup dan menjadi energi positif bagi masyarakat Aceh untuk membangun negeri.” Terang Irwandi.

“Mulai hari ini saya memikul tanggungjawab melayani seluruh rakyat Aceh, bukan untuk dilayan, saya akan mengemban amanah dan siap menjadi pelayan bagi seluruh rakyat Aceh, sekali lagi seluruh, dalam makna keseluruhan dan bukan sebagian, yang berarti adalah kewajiban bagi saya melayani tanpa mendahulukan kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, atau golongan,” tegasnya.

Irwandi berharap setelah proses pilkada yang sangat kompetitif dan dinamis, sentimental dan emosional, telah membelah sebagian masyarakat kita dalam kelompok-kelompok.

“Sejak hari ini semua itu sudah berakhir, maka berhentilah saling menjelek-jelekkan, saling menepuk dada, saling menjatuhkan, dan semua perangai buruk yang hanya merusak persatuan kita masyarakat Aceh, hari ini semua kita adalah Aceh, yang hidup dari tanah dan air yang sama, yang saling membagi mimpi dan harapan yang sama, menuju masyarakat Aceh yang maju, adil, beradab, dan sejahtera.” Tegas Irwandi Yusuf yang akrab disapa Tengku Agam ini.

Irwandi menyampaikan bahwa berbagai kemudahan yang terbuka bagi Aceh seusai MoU Helsinki, baik dalam soal anggaran belanja dan pembagian hasil sumber daya alam, belum lagi sepenuhnya mampu mewujudkan harapan dan mimpi kita akan kehidupan masyarakat Aceh yang lebih baik.

"Saya ingin menggugah kesadaran masyarakat Aceh agar berpikir ke masa depan, untuk berbenah dan lebih bersiap memanfaatkan kesempatan dari berbagai kemudahan yang ada. Saat ini boleh dikatakan ekonomi Aceh bergerak hanya dari anggaran belanja daerah saja, ekonomi yang digerakkan oleh konsumsi dan belum disertai dengan kemampuan produksi dan dukungan industri yang memadai."

Ia mengakui saat ini peran ekonomi sektor swasta belum berkembang, investasi dan industri masih belum mencapai tingkat yang diharapkan, Aceh sangat rawan krisis dalam soal energi dan pangan, bahwa infrastruktur pembangunan masih belum merata, bahwa ketimpangan pendapatan masih membentuk jurang yang menganga, bahwa sumber daya manusia Aceh yang cakap dan terampil masih jarang, bahwa tingkat kesehatan ibu dan anak kita masih berada di daftar terbawah dibandingkan daerah lainnya, semua itu adalah masalah nyata Aceh hari ini.

Ke depan ekonomi Aceh harus dibangun kembali dengan konsep yang tepat, Aceh harus bersiap bukan hanya mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja, tapi juga mempersiapkan fondasi ekonomi baru yang lebih kokoh untuk pembangunan Aceh yang berkelanjutan.

Berbagai infrastruktur yang telah tersedia, baik jalan maupun jembatan, jaringan listrik dan teknologi komunikasi internet yang memberikan kemudahan hidup di segala bidang, dengan segala kekurangannya dapatlah kita jadikan sebagai modal bergerak ke level yang lebih maju di masa depan.

“Kita harus menyiapkan strategi daya tahan pangan dan energi yang ramah lingkungan, agar terus mampu menopang kehidupan masyarakat Aceh dari generasi ke generasi. Insya Allah , dalam memegang amanah kendali pemerintahan Aceh ke depan, kami belajar dari kekurangan dan mungkin juga kesalahan masa lalu, serta memetik pelajaran dari keberhasilan yang pernah ada untuk dilanjutkan dan ditingkatkan menjadi lebih baik lagi.

"Pemerintahan yang akan kita jalankan adalah pemerintahan yang berkomitmen kuat terhadap transparansi dan akuntabilitas serta partisipasi.” Papar Irwandi. (adv)

Komentar

Loading...