Mi Instan Korea yang Mengandung Lemak Babi Tidak Ada di Aceh

Walikota Banda Aceh Illiza Saaduddin Djamal saat melakukan sidak produk makanan kemasan menjelang lebaran. (Foto: Acehportal.com)

Acehportal.com, Banda Aceh - Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menyatakan, terkait dengan mi instan asal korea yang dinyatakan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengandung lemak babi, tidak ditemukan di Aceh khusunya di Banda Aceh.

Hal itu dikatakannya, saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) bersama BPOM Aceh, di salah satu swalayan di pusat kota Banda Aceh, Senin (19/6). Sidak itu dalam rangka menjelang Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah, guna memantau produk makanan kemasan dalam parcel.

“Mi samyang yang sedang marak di Indonesia, Alhamdulillah kita cek tidak ada mi korea ini masuk ke Aceh yang tidak halal, sebagaimana pemberitaan yang kita tahu diluar Aceh,” kata Illiza.

Mi instan asal Korea yang dinyatakan BPOM positif mengandung lemak babi, setelah dilakukan pengujian parameter DNA spesifik babi, meliputi Samyang mi instan U-Dong, Nongshim mi instan (shim ramyun black), samyang (mi instan rasa kimchi) dan ottogi mi instan (yeul ramen).

Sementara dalam sidak itu, pihaknya menemukan menemukan sejumlah produk kemasan kaleng yang sudah peot.

“Relatif kemasan-kemasan produk yang masuk ke dalam parcel  kita lihatkan ada izinnya, mungkin hanya ada kerusakan kalengnya peot, itu tidak boleh dikonsumsi dan dijual belikan, dan itu akan disita oleh BPOM,” kata Illiza.

Ia menyebutkan, pihaknya terus melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap produk makanan kemasan. Sehingga kedepan diharapkan akan terus berkurang, seperti tahun ini jauh berkurang dibandingkan tahun lalu.

“Karena, produk-produk yang dimasukkan ke parcel banyak produk baru, baik kemasan dari pabrikan serta  skala rumah tangga. Jadi, kemasannya jauh lebih bagus dan rapi,” ujarnya.

Menurutnya, tahun sebelumnya banyak ditemukan produk yang kalengnya sudah peot, kedaluarsa. “Kita harapkan mereka (pedagang) tidak memasukan barang-barang yang sudah memasuki kedaluarsa. Dan ini kalau dalam jumlah yang banyak BPOM bisa mengambil tindakan dan bisa  mencabutkan usaha,” tegasnya, sembari menambahkan, bahwa harus melindungi hak-hak konsumen.

Sementara itu, Kepala BPOM Aceh, Samsuliani mengatakan, hasil monitoring yang pihaknya lakukan khususnya di Banda Aceh, sejak sebelum bulan ramadan hingga pertengahan ramadan, produk kedaluarsa cenderung menurun.

“Namun di kabupaten lain, itu termasuk dipinggiran kedaluarsanya masih banyak, dan menjadi perhatian. Kami  berkoordinasi dengan pemda kabupaten/kota, semoga  hal ini tidak terjadi pada distributor maupun pedagang supaya menjual sesuai dengan ketentuan, harus ada izin edar maupun tidak kedaluarsa,” ujarnya.

Rubrik:Kota

Komentar

Loading...