Rekannya Ditahan, Nelayan Lakukan Aksi Jual Boat

acehportal.comkapal nelayan

Acehportal.com - Ratusan nelayan Aceh Barat, yang tergabung dari nelayan lhok teuku Dirundeng dan Padang Seurahet, melakukan aksi jual boat tangkap ikan, di Desa Rundeng, Kecamatan Johan Pahlawan,  Selasa (25/4/2017).

Aksi jual tersebut sebagai bentuk protes terkait penahanan terhadap enam rekan mereka yang dilakukan oleh Polair Polda Aceh.

Dalam aksi, para nelayan menempelkan kertas putih yang bertuliskan dijual, dan ditempelkan dibagian depan masing-masing boat para nelayan Aceh Barat itu.

Kordinator aksi, Juli mengatakan, aksi jual tersebut sebagai upaya untuk pembebasan terhadap enam rekan mereka yang selama ini, masih ditahan di Mapolda Aceh, yang penahanannya diduga atas kasus penggunaan pukat harimau (trawl).

“Kita belum tahu atas dasar apa mereka ditahan, namun kita menduga,mereka ditangkap atas  penggunaan pukat trawl, sebab dari itupula kami takut melaut dan menjual boat mata pencaharian kami. Daripada ditangkap, lebih baik dijual. Apalagi, alat yang digunakan mereka yang ditangkap itu sama seperti kami gunakan,”ungkapnya.

Sebelumnya, para nelayan ini sempat melakukan aksi mogok melaut sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama nelayan, agar mereka yang ditahan dapat diselesaikan dan dibebaskan. Namun, dengan aksi tersebut tidak berunjung penyelesaian.

Ia juga menyebutkan, mereka menawarkan harga boatnya 3 Gross Tonage (GT) senilai Rp90 juta. Sementara nelayan lainnya menawarkan secara bervariasi dimulai dari Rp90 hingga lebih dari angka tersebut. apabila pengguna Boat 5 GT bisa lebih lagi dari angka, dan tergantung dari pemilik masing-masing.

Sementara itu, panglima laot lhok teuku chik dirundeng, Zainal Abidin (64), mengatakan apabila rekannya yang sesama  nelayan itu, Surya Andrianto (42), M.Mizar (37), Baktiar (37), Yuli Saputra (32), Aliman (52), dan R Din (46), bila melanggar, bisa dihukum sesuai adat mereka.

Menurut dia, mengguna pukat harimau ini, ramah lingkungan dan tidak merusak habitat di laut, bahkan jaring yang mereka gunakan sering rusak akibat terkena karang laut.”Lebih baiknya bisa diselesaikan dengan hukum adat saja, tidak seharusnya ditahan Polair,”tambahnya.

Ia juga mengharapkan kepada Muspida dan Muspika Aceh Barat, agar mau membantu atas apa yang dialami nelayan setempat. ia juga menuntut enam nelayan yang ditangkap tersebut dapat segera dikembalikan seepatnya.

Selain itu, dampak atas mogoknya para nelayan ini sangat berdampak terhadap pasokan ikan ke pasar-pasar ikan setempat. ”Tak hanya itu saja, imbasnya juga ikut dirasakan pembeli, tukang becak, dan penjual es. Sebab bila kegiatan mencari ikan itu terhenti, maka aktivitas mereka pun ikut terhenti,”ungkap M.Kub seorang pedagang ikan Aceh Barat. (putra)

Penulis:putra
Rubrik:News

Komentar

Loading...