Longsor Ponorogo Tertibun Tanah Capai 20 Meter

Longsor Ponorogo (Foto: Tempo/Antara)

Ponorogo (Acehportal.com) - Pelaksana Tugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Sumani, menyatakan jumlah penduduk yang terdampak bencana tanah longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung mencapai 128 orang. Sekitar 100 orang di antaranya mengalami luka-luka dan dirawat di sejumlah Puskesmas serta RSUD Hardjono, Ponorogo.

Petugas evakuasi belum berhasil menemukan korban yang tertimbun, Dari 28 orang yang dinyatakan hilang, baru 2 orang ditemukan pada Ahad siang, 2 April 2017. Keduanya tinggal serumah, yaitu Katemi, 70 tahun dan Iwan Danang Suwandi, 30 tahun. Mereka ditemukan dalam kondisi meninggal timbunan tanah dan bangunan rumah yang hancur.

Tim yang berjibaku mencari korban berasal dari Basarnas, Badan Penanggilangan Bencana Daerah (BPBD),  TNI Angkatan Darat, Kepolisian, dan para relawan. “Sebanyak 28 ruang yang dihuni kepala keluarga kondisinya rusak parah akibat longsor pada hari Sabtu (1 April 2017) itu,” kata Sumani.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan, proses evakuasi korban tanah longsor di Ponorogo cukup sulit karena timbunan tanah mencapai 20 meter. "Eskavator terus bekerja, memang agak susah melakukan evakuasi karena longsor menimbun rumah hingga 20 meter," kata Khofifah dalam acara Muslimat Nahdlatul Ulama di Kediri.

Menteri Khofifah yang juga Ketua Umum Muslimat NU mengajak jemaahnya mendoakan para korban tanah longsor.  "Dua korban yang sudah ditemukan, mudah-mudahan seluruh keluarga mereka yang ditinggalkan diberi kekuatan dan kesabaran oleh Allah SWT, dan yang dipanggil khusnul khotimah," kata Khofifah.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo, Setyo Budiono, mengatakan sebanyak 7 unit alat berat seperti eksavator didatangkan untuk mencari korban. Evakuasi dan pencarian dimulai pukul 08.00. Para korban kebanyakan petani yang sedang memanen jahe di kawasan lereng perbukitan.  Mereka diperkirakan tidak bisa menyelamatkan diri karena longsor datang secara tiba-tiba.

Lokasi tanah longsor berada di daerah rawan bencana. Berdasarkan Peta Zona Gerakan Badan Geologi, daerah bencana terletak pada vona kerentanan tinggi. Menurut Kepala Badan Geologi, Ego Syarial, zona kerentanan tinggi merupakan daerah yang berpotensi untuk terjadi gerakan tanah. Jika terjadi hujan dengan intensitas dan durasi lama, gerakan tanah lama bisa aktif kembali.

Faktor longsor tersebut, kata Ego, diduga hujan deras dengan durasi lama sejak Jumat 31 Maret 2017, serta faktor kondisi geologi setempat. Secara geologi, lokasi bencana terletak pada perbukitan dengan lereng terjal.  “Lereng tersebut tersusun dari batuan gunung api yang bersifat urai dan banyak retakan, serta menumpang pada batuan sedimen tersier yang dapat membentuk bidang gelincir,” kata Ego.

Photographer:Siswowidodo/Antara
Sumber:Tempo
Rubrik:NewsPeristiwa

Komentar

Loading...