Minta Pencoblosan Ulang, Sejumlah Paslon Bupati Abdya Tak Terima Hasil Pilkada

Foto: Acehportal

Foto: Acehportal

Banda Aceh - Pasca pencoblosan Pilkada 2017 lalu, sejumlah pasangan  (paslon) bupati di Aceh Barat Daya (Abdya) menolak dengan pemilihan tersebut. Karena, paslon nomor urut 5-10 mengalami kerugian dengan rusaknya ribuan surat suara, akibat kesalahan pada pelipatan kertas suara itu.

“Saya selaku calon bupati, pada prinsipnya bukan mempersoalkan kalah menangnya. Tapi, yang paling kita sayangkan adalah bagaimana dalam proses Pilkada ini, sangat banyak kejanggalan-kejanggalan  yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Pilkada (KIP),” kata calon bupati nomor urut 6 Muchlis Muhdi MA yang didampingi timsesnya Fadli Ali dan cawabup nomor urut 10 Sayed Azhari, dalam konferensi pers di warung kopi Sekretariat Bersama (Sekber) Jurnalis di Banda Aceh, Kamis (23/02).

Pihaknya,  juga menyayangkan terjadi money politik yang sangat masif selama proses Pilkada berlangsung sampai hari H. Karena proses itu berlangsung dengan terjadinya pembiaran oleh berbagai pihak.

“Makanya kami melayangkan surat atas keteledoran KIP ini, kita ajukan  surat keberatan ke DKPP pusat. Kemudian atas terjadinya money politik sangat masif, kita surati Panwaslih, kita ikut sertakan barang bukti yang kita himpun dari beberapa tempat,” ungkap cabup yang berpasangan dengan Hj Syamsinar.

Sementara itu, Timses Muchlis Muhdi-Syamsinar, Fadli Ali menambahkan, tidak adanya sosialisasi dari penyelenggara pemilu yang membuat banyaknya kerusakan surat suara saat pencoblosan.

Padahal, sesuai dengan tahapan-tahapan yang dilakukan KIP, itu setiap tahapan disosialisasikan ke paslon  dan timsesnya. Namun, saat kertas suara 10 calon, sebelum paslon nomor urut 4 dicoret KIP, sosialisasinya dilakukan.

“Namun, setelah tinggal sembilan paslon,  tidak ada pemberitahuan secara resmi. Saya sudah cek ke semua paslon tidak ada pemberitahuan secara resmi. Ada memang Ketua KIP Abdya itu mengeluarkan statmen di media, bahwa salah satu paslon sudah dicoret,” ujarnya.

Kesalahan lipatan suara itu, tambahnya, membuat paslon nomor urut 6 dan nomor urut 9 mengalami banyak kerusakan kertas suara yakni sekitar 5.000 lembar. Sehingga, mereka menyatakan banyak kelalaian dikalangan KIP.

Menurutnya, permasalahan pelipatan surat suara dialami mulai dari paslon cabup nomor urut 5-10.  Namun,  mereka tidak bisa hadir dalam konferensi pers tersebut, karena kegiatan lain yang tidak bisa ditinggalkan.

Oleh karena itu, pihaknya melaporkan hal tersebut ke panitia pengawas pemilih (Panwaslih) setempat dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Pusat. Apalagi, soal pelipatan surat suara, KIP Abdya tidak berpedoman dengan keputusan KPU Nomor 151/Kpts/KPU/Tahun 2016, poin 2 huruf b,c dan g tentang bentuk, ukuran dan format surat suara.

Cawabup nomor urut 10, Sayed Azhari, juga mengaku sangat dirugikan dengan pelipatan surat suara saat berlangsungnya Pilkada serentak tersebut, karena tidak terlihatnya  gambar mereka dari pemilih. Sehingga para pemilih mencoblos apa yang terlihat.

“Kedua sangat kita sayangkan, kandidat terpilih sudah menciptakan peradaban baru dalam  pemilihan di Abdya. Dimana mengedepankan money politik, itu tidak boleh terjadi, padahal kita itu serahkan kemasyarakat untuk memilih,” kata cawabup yang berpasangan dengan Zainal Arifin itu.

Dengan adanya kesalahan pada pelipatan surat suara tersebut, mereka meminta supaya dilakukan pencoblosan ulang. Karena dinilai sangat dirugikan dengan banyaknya kerusakan surat suara (adi)

Komentar

Loading...