Malam Ini, Seniman Gelar Malam Refleksi untuk Korban Gempa Pijay di Jakarta

Pemandangan dari atas saat sejumlah eskavator dikerahkan untuk mengangkat puing-puing di Pasar Meureudu, Pidie Jaya, Aceh yang runtuh akibat gempa, Kamis (8/12). Dikabarkan korban meninggal sudah mencapai 102 orang. Foto: Liputan6.com

Jakarta - Komunitas seniman bekerja sama dengan elemen masyarakat Aceh di Jakarta akan menggelar acara Refleksi Gempa Aceh di Boulevard Coffee & Resto, Apartemen The Boulevard, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Jumat, 20 Januari 2016 mulai pukul 19.00 WIB.

Seperti dikutip dilaman Liputan6.com, acara itu akan diisi dengan peluncuran buku puisi karya sekitar 150 penyair, seniman, dan masyarakat se-Tanah Air tentang gempa Aceh yang diberi judul "6,5 SR Luka Pidie Jaya".

"Buku setebal 246 halaman itu sebagai tanda simpati para seniman dan masyarakat Indonesia, termasuk Malaysia, terhadap korban gempa di Aceh pada 7 Desember 2016," kata Willy Ana, penyusun buku yang sekaligus koordinator acara.

Menurut penyair asal Bengkulu ini, para penyair, seniman dan masyarakat Nusantara tak hanya menulis puisi, melainkan juga ikut serta gotong royong untuk membiayai penerbitan buku dengan cara membeli buku tersebut sesuai kemampuan mereka.

Penyair Nusantara yang menulis puisi untuk Aceh, antara lain Ahmadun Yosi Herfanda, D Kemalawati, Din Saja, Eka Budianta, Fikar W Eda, Fakhrunnas MA Jabbar, Handry TM, Jumari HS, J Kamal Farza, Gol A Gong, Nelson Dino (Malaysia), Rida K Liamsi, Syarifuddin Arifin, Sulaiman Juned, Teja Alhabd, Teuku Dadek, Siwi Wijayanti, dan Zulfaisal Putera.

Selain peluncuran buku, acara itu akan diisi dengan doa bersama, baca puisi, testimoni gempa, lelang buku dan penggalangan dana untuk korban gempa. Selain donasi yang terkumpul dalam acara itu, keuntungan dari penjualan buku akan disampaikan kepada korban gempa dan kegiatan-kegiatan yang ada kaitannya dengan gempa tersebut.

"Kami berencana untuk datang ke sekolah-sekolah di lokasi gempa untuk menghibur anak-anak yang trauma dengan berpuisi, baik dengan mengajak mereka membaca puisi maupun menulis puisi," tutur Willy.

Willy menuturkan, ide buku itu muncul dalam obrolan dengan penyair Mustafa Ismail, yang memang berasal dari Pidie Jaya, Aceh. Mereka kemudian berbagi tugas.

Willy sebagai kordinator dan penyusun buku dan Mustafa sebagai editor. Setelah itu, Willy mem-posting gagasan itu di media sosial dan Grup WA Ruang Sastra.

"Responsnya sangat positif. Para sastrawan juga sepakat membiayai penerbitan buku itu secara gotong royong," ujar penulis buku puisi Tabot: Aku Bengkulu itu.

Bahkan, di luar dugaan, jumlah puisi yang masuk membeludak. Jumlah penyair yang mengirim puisi melebihi 150. Sebagian penyair mengirim lebih dari dua puisi. Itu membuat ia dan editor sepakat membukukan satu puisi tiap penyair.

"Prediksi awal buku itu paling tebal 180 halaman," ujar dia.

"Tapi dalam perjalanan, tebal buku itu sudah mencapai 246 halaman. Ini apresiasi dan tanda simpati yang luar biasa dari masyarakat Indonesia terhadap Aceh."

Editor buku tersebut, Mustafa Ismail, mengatakan puisi-puisi dalam buku itu merefleksikan kata hati, pesan, keinginan dan harapan masyarakat Indonesia, terutama penyair, terhadap korban gempa Aceh dan Aceh itu sendiri.

"Kepedulian itu tidak hanya dengan bantuan berbentuk benda dan uang. Puisi-puisi yang ada dalam buku ini menunjukkan kepedulian yang tak ternilai harganya," ujar penyair asal Trienggadeng yang sehari-hari bekerja di Jakarta itu.

Teuku Nausa, pemilik Boulevard Coffee, yang memfasilitasi peluncuran itu, berkomitmen sebagian keuntungan dari penjualan minuman dan makanan di kafenya pada saat acara berlangsung akan disumbangkan untuk korban gempa.

"Nanti kita hitung sama-sama berapa jumlahnya," kata pengusaha asal Aceh itu. "Kami akan membantu acara itu agar berjalan dengan lancar dan sukses."

J Kamal Farza, Ketua Komunitas Kuah Beulangong, yang ikut menjadi pendukung acara itu mengajak masyarakat Aceh di Jakarta dan sekitarnya untuk bisa sama-sama berdoa sekaligus terus melakukan sesuatu untuk korban bencana di Aceh tersebut.

"Kita harus terus memberi perhatian untuk mereka. Karena luka mereka belum sembuh," ujar penyair yang juga menulis puisi di buku 6,5 SR Luka Pidie Jaya tersebut.

Selain Imaji Indonesia, Ruang Sastra, Boulevard Coffee, dan Komunitas Kuah Beulangong, acara ini didukung oleh banyak komunitas seni lainnya seperti portal sastra infosastra.comlitera.co.id, Komunitas Musikalisasi Indonesia, Sanggar Matahari, Poros Selatan, Aceh Culture Centre, dan lain-lain. (liputan6)