Indonesia Jual Gula Pasir Rp12.500/Kg, di India dan Brasil Hanya Rp3.500/Kg

GULA PASIR Pedagang mengemas gula pasir ke dalam bungkusan plastik di Pasar Simpang Limun, Medan, beberapa waktu lalu. Gula pasir putih di Medan dipasarkan di harga Rp 14.500 hingga Rp 15.000/kg. (medanbisnis/hermansyah)

Foto: medanbisnis

Jakarta - Dibanding negara produsen lain, harga gula konsumsi di Indonesia terbilang cukup mahal. Negara-negara penghasil gula terbesar dunia seperti India dan Brasil, bisa menjual harga gula pasir di tingkat konsumen Rp 3.500/kg.

Sementara harga rata-rata gula konsumsi di dalam negeri menurut Kementerian Perdagangan yakni Rp 14.000/kg. Menteri Perdagangan baru-baru ini telah menetapkan harga gula dijual di pasar paling mahal Rp 12.500/kg.

Staf Ahli Menteri Bidang Investasi Kementerian Pertanian (Kementan), Syukur Iwantoro, mengungkapkan tingginya harga gula di Indonesia terjadi lantaran proses produksinya yang tidak efisien ketimbang negara-negara produsen gula lain.

"Tentu pabrik-pabrik gula di India dan Brasil ini lebih efisien (rendemen tinggi). Tapi faktor utamanya, yakni diversifikasi produk dari pabrik gula di sana, jadi meski namanya pabrik gula, tapi produknya banyak. Gula di sana (Brasil dan India) hanya Rp 3.500/kg sampai Rp 4.500/kg," jelas Syukur kepada detikFinance, Jumat (20/1/2017).

Menurut Syukur, pabrik gula baik di India maupun brasil malahan menganggap gula dari produksinya merupakan produk sampingan. Ini lantaran pabrik gula mendapatkan penghasilan yang lumayan besar dari produk lainnya seperti etanol dan listrik dari limbah tebu.

"Jadi pabrik tidak hanya produksi gula, di sana mereka juga hasilkan listrik dan etanol, bahkan pendapatan dari situ jauh lebih besar. Perusahaan produsen gula anggap gulanya malahan jadi sampingan saja, wajar kalau harga gulanya sangat murah," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, regulasi pemerintah seperti di Brasil sangat menguntungkan pabrik gula, yakni terkait pemanfaatan etanol sebagai campuran BBM. Kebijakan tersebut menguntungkan pabrik gula sehingga harga etanol lebih bersaing ketimbang gula sendiri.

Syukur mengungkapkan, pabrik gula konvensional yang hanya menggantungkan pendapatan dari produksi gula seperti kebanyakan pabrik gula peninggalan Belanda yang ada saat ini di Indonesia, sulit menghasilkan gula yang murah.

"Misalnya di Brasil itu ada aturan tentang penggunaan etanol, di sana harga etanol dijamin pemerintah. Gulanya ini hanya produk sampingan. Nah ini yang mau coba kita terapkan di Indonesia," ucap Syukur.

Sebagai informasi, Brasil sendiri saat ini jadi negara produsen gula terbesar dunia dengan produksi mencapai lebih dari 29 juta ton, disusul India dengan produksi 29 juta ton, China 11 juta ton, dan Thailand 5 juta ton. Sementara Indonesia, produksi gula malah menyusut dari 3 juta ton menjadi 2,2 juta ton sampai saat ini. (detikcom)