Gajah Liar di Mila-Keumala Dipasang GPS Collar

gajah dipasang gps/ilustrasi

gajah dipasang gps/ilustrasi

Banda Aceh -- Hanya berselang dua minggu sejak pemasangan GPS collar di Cot Girek-Aceh Utara, kemarin sore tepatnya pukul 3, tim gabungan yang dipimpin oleh BKSDA Aceh kembali mengalungkan piranti GPS collar kepada perwakilan individu pada kelompok gajah liar di Desa Babah Jurong, Kecamatan Mila.

Operasi kali ini, terbilang unik dan cukup krusial, mengingat beberapa kawasan didaerah ini tercatat baru mengalami konflik gajah-manusia sejak tahun 2015 lalu, sedangkan sebelumnya belum pernah mengalami konflik gajah, sesuai pengakuan dari masyarakat di daerah ini.

Terkait urgensinya pemasangan GPS Collar ini, Kepala BKSDA Aceh Sapto Aji Prabowo menyampaikan bahwa pemasangan GPS collar pada kelompok gajah kuhusnya di wilyah Mila dan Keumala ini memiliki urgensi yang lebih tinggi, oleh karena beberapa hal.

Yang pertama GPS collar ini akan mendukung sistem peringatan dini untuk program mitigasi konflik dimasa yang akan datang, dengan terpantaunya pergerakan harian kelompok gajah setiap 4 jam sekali membantu kita untuk memprediksi pola gangguan dan memudahkan masyarakat setempat untuk mengantisipasinya.

Lebih dari itu, GPS collar ini akan menjawab pertanyaan semua pihak, tentang dari mana kelompok ini berasal untuk selanjutnya dapat dilakukan analisa penyebab mengapa kelompok ini beralih ke wilayah Mila dan Keumala yang sebelumnya belum pernah mengalami konflik.

“Besar kemungkinan kelompok gajah ini berasal dari kawasan hutan di sekitar Jantho dan Seulawah Inong, bahkan tidak menutup kemungkinan juga terhubung dengan habitat gajah yang berada di Seulawah agam. Data Gps Collar ini akan membantu kita dalam melakukan rencana pengelolaan habitat gajah ini bersama Pemerintah Daerah dan masyarakat yang memangku kawasan.” Demikian dijelaskan.

Lebih lanjut Kepala Balai merinci bahwa kelompok ini berjumlah 23 ekor dengan komposisi yang baik karena terindikasi adanya sekitar 6 ekor anakan dan juga ada 2 jantan muda.

Tim pemasangan GPS collar ini terdiri dari timmahout/pawang gajah beserta gajah terlatih dari PLG dan CRU Mane yang dikepalai oleh bapak Andi Aswinsyah, tim dokter hewan yg diketuai oleh drh. Arman Sayuti dari Program Wildlife Ambulance dibawah Pusat Kajian Satwa Liar FKH Unysiah dan dibantu oleh tim dari community Ranger dan masyarakat setempat dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Pidie ikut terjun kelapangan dalam membantu melakukan koordinasi sehingga proses ini dapat berjalan dengan baik. Kepala dinas menitik beratkan bahwa operasi in tidak hanya semata pemasangan GPS collar, bersama dengan BKSDA dan tim lapangan, akan melanjutkan upaya penggiringan agar kelompok gajah ini dapat digiring kembali ke habitat semula.

Kepala Balai KSDA Aceh menyampaikan bahwa unit GPS collar ini adalah dukungan dari kerjasama dengan Universitas Syiah Kuala melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat LPPM. Lembaga ini juga mendukung kita dengan seorang tenaga ahli yang sedang melakukan penelitian Post Doctoral yaitu Dr. Gaius Wilson. (gun)

Rubrik:News