Sekjen LAF Harap Penegak Hukum Usut Dana Hibah Rp. 650 M untuk Mantan GAM

Sekjen Lembaga Aceh Future, Syukrillah

Sekjen Lembaga Aceh Future, Syukrillah/foto istanjoeng

Aceh Timur -- Dalam debat kandidat yang digelar KIP Aceh untuk yang kedua kalinya, Calon Gubernur Aceh nomor urut 2, Zakaria Saman mempertayakan komentar Zaini Abdullah akhir 2015 lalu, terkait dana hibah Rp650 miliar untuk mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Terkait pernyataan dalam debat kandidat Cagub Rabu malam 11 Januari 2017, sehingga banyak pertanyaan-pertanyaan muncul dikalangan Masyarakat Aceh, khususnya dikalangan mantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dikarnakan mereka tidak pernah menerima dana hibah tersebut.

Namun semua itu terjawab sudah, terlepas jawaban itu dapat kepuasan dari kandidat yang mengajukan, juga kandidat yang menjawab. Kepuasan itu ya? Atau tidak, sulit untuk diketahui, karena semua diatur oleh waktu yang sangat singkat, yang disediakan oleh panitia pelaksana, sehingga untuk menanggapi setiap pertanyaan oleh setiap paslon tidak bisa maksimal.

Namun setiap pertanyaan yang terlempar dalam debat semalam menyisakan beberapa pertanyaan yang sangat besar, dan sangat dibutuhkan jawaban yang jujur dari setiap paslon. Seperti salah satu pertanyaan yang dilemparkan nomor urut 2 ke no urut 4 tentang dana 650 milyar itu, yang diperuntukan untuk kombatan GAM.

Menyikapi debat kandidat tersebut, Sekjen Lembaga Aceh Future Syukrillah. MK, angkat bicara, mengenai dana tersebut, hal itu disampaikannya kepada media ini, Kamis (12/01), soal dana hibah yang di peruntukan kepada mantan Kombatan GAM itu di kemanakan.

Dikatakannya bahwa, sudah sekian lamanya dana itu, kenapa baru sekarang terungkap, dan bangaman proses pertanggungjabannya,”Kami dari LAF, mengharapkan kepada pihak yang berwajib, baik itu dari KPK, TIPIKOR, dan lembaga terkait lainya, agar segera mengusut dana yang jumlahnya Ratusan Milyar itu,” katanya.

Menurutnya bahwa, dana itu bukan sedikit, sehingga dapat merugikan Rakyat Aceh, bahkan Negarapun juga ikut dirugikan, atas tindakan yang dilakukan penguasa Aceh masa Periodenya.

“Sangat banyak mantan kombatan yang masih menganggur, padahal dengan dana itu, mereka bisa dijadikan sebagai modal usaha, sehingga dapat mensejahterakan keluarganya, tapi hasilnya apa, itu disebabkan dari buruknya kinerja Pemerintah Aceh, sehingga pertikaian dan pengangguran besar-besaran terjadi di Aceh,” paparnya. (joen)