Tunggu Pemenang Tender, Bandara Kutacane Belum Beroperasi

Ilustrasi pesawat Susi Air. (Analisa/suhardi jani padang)

Ilustrasi (Analisa)

Kutacane - Bandara Alas Leuser Kutacane di Aceh Tenggara, yang memiliki panjang landasan 1.627 meter dan lebar 30 meter hingga awal tahun 2017  belum  beroperasi.

"Untuk sementara waktu, operasional penerbangan belum aktif," tegas Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Aceh Tenggara, Muhammad Ali di Kutacane, Jumat (13/01).
Dalam beberapa tahun terakhir, katanya, bandara setempat selalu difungsikan sebagai transportasi udara terutama melayani penerbangan perintis dengan rute padat penumpang.
Tercatat pada tahun 2016, maskapai Susi Air menerbangi rute perintis di Kutacane, terdiri dari dua tujuan yakni Banda Aceh-Kutacane pergi pulang, dan Medan-Kutacane pergi pulang.
Kedua rute tersebut masing-masing dilayani minimal satu kali dalam sepekan dengan mengunakan pesawat kecil yakni jenis Cessna 208B Grand Caravan berkapasitas 12 kursi.
Penerbangan perintis di tahun lalu beroperasi mulai tanggal 20 Januari 2016 dengan harga tiket Rp280.000 per orang tujuan Medan, dan Rp434.000 per penumpang ke Banda Aceh.
"Itu kami dapat info dari staf, karena saya baru menjabat di sini (dishub). Kami sementara ini, tunggu pemenang tender untuk penerbangan perintis," ucap Ali.
Menteri Perhubungan Ignasius Jonan berjanji bakal mengubah wajah Bandara Alas Leuser berskala international saat melakukan kunjungan kerja ke bandara di Kutacane, Aceh Tenggara tahun lalu.
Menurutnya, bandara tersebut sangat layak dijadikan bandara berskala international atau hingga bisa didarati minimal pesawat jenis ATR 72, dan pesawat kargo seperti Hercules C170.
"Pada 2016, saya berjanji akan mengubah wajah bandara lebih modern lagi. Memang dibutuhkan biaya untuk pembenahan yang tidak sedikit jumlahnya, minimal sekitar Rp100 miliar," katanya.
Dia mengatakan, bandara setempat harus didukung berbagai fasilitas modern, seperti terminal, pagar, hingga Tower ATC bandara.
"Sistem pengamanan bandara yang berstandar penuh, jelas menjadi persyaratan mutlak yang dibutuhkan guna menjadi bandara modern," beber Jonan.
Bupati Aceh Tenggara Hasanuddin melaporkan situasi terakhir di bandara tersebut, serta situasi daerah dengan menyebut begitu besarnya manfaat positif dari pembenahan yang dilakukan.
"Geliat ekonomi khususnya komoditas kakau yang menjadi salah satu ikon andalan daerah, agar dapat dengan mudah dipasarkan langsung dari Aceh Tenggara ke mancanegara," terangnya. (Antara Aceh)