Unjuk Rasa di DPRK Aceh Utara, Mahasiswa Nyaris Bentrok dengan Polisi

Foto Ilustrasi Okezone

Foto Ilustrasi Okezone

Lhokseumawe - Mahasiswa yang menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRK Aceh Utara, Kamis (12/01), nyaris bentrok dengan aparat kepolisian.

Dalam aksi 'Petisi Bela Rakyat 121' itu, mulai terjadi ketegangan ketika pendemo memaksa masuk ke gedung legislatif yang dijaga aparat kepolisian. Sehingga terjadi dorong-mendorong dan beberapa mahasiswa terluka.
Mahasiswa sekitar dua jam terus menyampaikan orasi di luar gedung karena belum kunjung ditemui oleh pimpinan dewan setempat.  Pengunjuk rasa juga ada upaya melakukan pembakaran ban.
Namun, saat ditemui pimpinan DPRK Aceh Utara Ismail A Jalil, para mahasiswa mulai tenang. Pengunjuk rasa meminta DPRK mendukung dan menandatangani tuntutan mahasiswa serta menyampaikannya kepada pemerintah pusat.
Tepat azan Zuhur, mahasiswa membubarkan diri setelah aspirasinya ditanggapi oleh pimpinan dewan Aceh Utara.
Dalam aksinya mahasiswa mendesak pemerintah mencabut PP No 60 Tahun 2016 tentang Kenaikan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNPB) yang berlaku di Kepolisian RI.
Pengunjuk rasa menolak kenaikan tarif dasar listrik golongan 900 VA, menolak kenaikan harga BBM, menolak "serbuan" tenaga kerja asing asal Tiongkok ke Indonesia.
Mereka mengharapkan dilaksanakannya perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial sesuai dengan amanat UUD 1945.
Mahasiswa menganggap, bahwa rakyat yang dipaksa untuk membayar biaya kenaikan tarif listrik, naiknya harga BBM, naiknya tarif pembuatan STNK dan BPKB adalah sebagai bukti bahwa pemerintah tidak mampu mengelola keuangan negara dan sumber daya alam Indonesia untuk kepentingan kesejahteraan rakyat. (Antara Aceh)