Suaka Margasatwa Trumon Semakin Marak Dirambah

Iliustrasi perambahan hutan di KEL.(Analisa/istimewa)

Perambahan hutan KEL SM di Desa Tepian Tinggi, Trumon, Aceh Selatan semakin marak. Tampak sisa-sisa kayu yang bakal dibersihkan untuk kemudian lahan itu ditanami kelapa sawit.(Analisa/istimewa)

Tapaktuan, (Acehportal) - Suaka Margasatwa Trumon yang merupakan salah satu hu­tan rawa yang menghasilkan karbon, semakin marak dirambah untuk dijadikan, antara lain kebun kelapa sawit.

“Di Trumon ada kebun kelapa sawit yang arealnya merupa­kan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) Suaka Marga­sat­wa (SM) yang dirambah dengan luas ratusan hektare,” kata Sar­bunis, Direk­tur Yayasan Gampong Hutan Lestari (YGHL), Se­lasa (27/9).

Sarbunis dihubungi seusai dia mela­kukan investigasi ber­sama sejumlah aktivis lingkungan hidup ke Desa Ie Meudama dan Tepian Tinggi, Kecama­tan Trumon, Selasa (27/9).

Dalam investigasi tersebut, Sarbunis bersama tim sempat memasuki areal perambahan yang diduga milik salah satu ok­num pejabat di Pemkab Aceh Selatan dengan luas perambahan mencapai puluhan hektare, di samping puluhan hektare lainnya sudah menga­hasilkan sawit tandan buah segar (TBS). “Selain itu ada lagi kebun kelapa sawit yang diduga milik perusahaan daerah,” katanya.

Saat melakukan investigasi, di dalam kebun yang diduga milik oknum peja­bat tersebut didapati satu unit alat berat belko nongkrong di sana dan banyak kayu-kayu berserakan yang di antara­nya berukuran cukup besar, dan kegia­tan perambahan itu diyakini telah masuk ke dalam kawasan KEL suaka SM Tru­mon.

Padahal, kata Sarbunis, hutan yang ada di areal tersebut me­rupakan aset KEL yang sebetulnya tidak boleh dirambah. Di­katakan, bahwa hutan SM rawa Trumon-Singkil di Aceh Selatan merupakan hutan rawa gambut yang terbesar di Aceh.

Tiga Kabupaten

Hutan yang merupakan bagian dari KEL terletak di tiga ka­bupaten, yaitu, Kabupaten Aceh Selatan, Kota Subu­lussa­lam, dan Kabu­paten Aceh Singkil, ini kaya akan keanekaregaman hayati dan memiliki populasi orangutan Sumatra terpadat di Leuser.

Sebagaimana ditetapkan di dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 166/kpps-II/1998, bahwa luas SM rawa Tru­mon-Singkil ditetapkan se­luas 102.500 hektaer dan Surat Ke­putusan Menteri Kehutanan Nomor 170/2000 tentang penun­jukkan kawa­san hutan dan perairan di Provinsi Aceh.

Selanjutnya dikatakan, sebagai kawasan hutan yang berada di dalam KEL SM Trumon-Singkil memiliki fungsi penting tidak hanya bagi masya­rakat Aceh Selatan dan sekitarnya tapi juga bermanfaat bagi masyarakat di Provinsi Aceh. Jasa eko­logis yang disumbangkan oleh rawa Trumon-Singkil, seperti penyediaan air, mence­gah kekeringan dan mencegah banjir serta pengaturan iklim telah memberi­kan manfaat yang sangat besar bagi penduduk yang berada disekitarnya.

“Suaka Margasatwa Trumon-Sing­kil memiliki keanekaraga­man hayati yang terkaya di Pulau Sumatera dan bahkan Asia Tenggara (ASEAN). Selain itu, kawasan ini memiliki nilai eko­no­mi, jika kawasan ini masih utuh dan terjaga kelestariannya akan memi­liki nilai ekonomi yang tumbuh bagi masyarakat sekitar,” katanya.

Akan tetapi, kata Sarbunis, SM Trumon-Singkil yang meru­pakan hutan rawa gambut terbesar di Provinsi Aceh telah diram­bah secara masif untuk perkebunan kelapa sawit dan pemba­la­kan liar yang dilakukan oknum-oknum tidak ber­tanggung ja­wab, sehingga perlu penanganan khusus oleh pihak terkait. “Ji­ka kondisi ini tetap dibiarkan maka bukan tidak mungkin ke­kayaan SM Trumon-Singkil akan menjadi kenangan dan ben­cana pun akan da­tang,” tandasnya.(Analisa)

Komentar

Loading...