Disesali, Pengerjaan Proyek Fly Over Simpang Surabaya Kesampingkan Hak Warga

pengerjaan-proyek-fly-over-rugikan-warga_analisadaily

Banda Aceh, (Acehportal) - Pengerjaan proyek jembatan layang (fly over) di kawasan Simpang Surabaya, Banda Aceh dinilai mengenyampingkan kebutuhan dan aktivitas warga sekitar. Sejumlah warga mengaku dirugikan akibat galian parit dari proyek fly over itu telah memutuskan saluran air bersih warga.

Pembuatan parit di Jalan Chik Ditiro yang merupakan bagian dari proyek fly over, telah merusak fasilitas sumur bor dan sambungan pipa Perusahaan Dae­rah Air Minum (PDAM) ke rumah warga.

Sudah sepekan parit tersebut di­bong­kar, kini pipa-pipa PDAM dan sumur bor tidak diperbaiki kembali.

“Padahal dulu kalau ada keluhan terkait pembangunan proyek ini, bisa dilaporkan. Sudah saya laporkan kepada pengawas di lapangan, tapi belum juga ada perbaikan atas sumur bor kami. Jadi, kami merasa sangat dirugikan dan sampai sekarang belum ada air di tempat kami,” kata seorang pengusaha perkayuan di deretan perto­koan Jalan Chik Ditiro, Muslim Hakim, Rabu (27/7).

Sejumlah rumah toko (ruko) di kawasan itu mengalami pemutusan sambungan pipa PDAM dan sumur bor. Bahkan, sejumlah sumur bor milik warga yang berada tepat di bawah parit proyek fly over itu dibiarkan rusak tanpa diperbaiki.

Muslim sangat menyesalkan tin­dakan petugas proyek yang tidak mem­perhatikan kebutuhan warga sekitar. Padahal, setiap pengerjaan yang meru­gikan warga menjadi tanggung jawab pihak proyek.

“Kami sudah rugi akibat jalan yang sulit dilalui pelanggan, kini air kami juga putus akibat pembuatan parit itu,” tegasnya.

Seorang karyawan salah satu kantor di kawasan Simpang Surabaya, Rahmi juga mengaku, pipa PDAM rusak akibat penggalian parit proyek jem­batan layang. Hingga kini pipa air di kantornya belum berfungsi. “Pipa air tidak berfungsi sejak penggalian parit dilakukan,” katanya.

Dari pengamatan Analisa, parit yang digali sedalam 2 meter lebih itu, sudah mulai dicor dengan semen. Warga kha­wa­tir, kalau sudah dicor beton, pipa PD­AM dan sumur bor tidak dapat di­buat lagi, karena beton pasti telah me­ngeras dan tidak mungkin dihancurkan lagi.

Ketika masalah ini dikonfirmasi Analisa kemarin, petugas lapangan proyek, Viktor mengungkapkan, keluh­an warga bukan menjadi tanggung jawabnya. Ia mengarahkan warga dan wartawan untuk menanyakannya ke kantor proyek yang berada di seputaran Simpang Surabaya.

“Kami hanya petugas lapangan. Kami tidak tahu mengenai keluhan itu. Sebaiknya tanyakan saja ke kantor pro­yek, di sana ada petugas dari Pekerjaan Umum (PU). Saya hanya melaksana­kan dan mengikuti perintah untuk mengawasi proyek,” katanya. (analisadaily)

Komentar

Loading...