Menteri ESDM Tegur Keras Dirut PLN, PLN Jangan Jadi Mesin Pencari Uang

detik.com/Menteri ESDM

detik.comJakarta (Acehportal)- Pada pukul 07.00 WIB pagi ini, Menteri ESDM Sudirman Said mengadakan acara coffee morning di Kantor Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Kuningan, Jakarta Selatan. Acara coffee morning ini untuk sosialisasi Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2016-2025.

Direksi PLN juga turut diundang dalam acara ini. Namun, hanya 1 orang direktur PLN yang hadir, yaitu Direktur Perencanaan PLN Nicke Widyawati. Direktur Utama PLN, Sofyan Basir, tidak datang.

Hadir juga dalam acara ini, Dirjen Ketenagalistrikan Jarman, pengusaha di bidang kelistrikan, dan pejabat Kementerian ESDM.

Di tengah-tengah sambutannya, tiba-tiba Sudirman memberikan teguran keras kepada manajemen PLN, khususnya kepada Sofyan Basir. Ini isi pidato sambutan lengkap Sudirman dalam acara tersebut:

Bismillah, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Selamat pagi. Ini coffee early morning bukan coffee morning, tidak banyak instansi yang berani menyelenggarakan acara 06.30 WIB, pertama-tama saya mengucapkan puji syukur atas kesehatan semangat untuk terus beraktivitas memberikan yang terbaik untuk masyarakat.

Selalu saya mengingkatkan, Bapak dan Ibu dalam strata masyarakat diberikan privilege keutamaan,keluasaan, di mana jumlah masyarakat seperti ini sangat sedikit, tetapi menjadi penentu arah bangsa ini, oleh karena itu perilaku kita yang sangat penting dijaga, agar perilaku tidak merugikan masyarakat. Masih dalam nuansa Lebaran, saya memohon maaf.

Bapak dan Ibu sekalian, Pak Dirjen, Mantan Dirut PLN, para pemimpin ESDM. Terima kasih untuk hadir ini untuk berdialog mencari persamaan persepsi. Kita tahu listrik sangat kritikal, kata ekonom PDB kita 2015 Rp 111 triliun, dan Rp 1.200 triliun datang dari sektor kita ESDM, sekitar 10% lebih, kalau kita hitung PDB dari sektor transportasi, perhubungan, dan lain-lain, semuanya ada di hilir.

Tak ada industri yang jalan, mal di jalan tanpa adanya energi. Jadi harus dihayati menjalani program kelistrikan, membangun dan sadarilah impact pada yang di hilir sangat besar artinya apa semakin cepat, semakin baik mengejar ketertinggalan, semakin kita lambat, banyak melakukan penundaan penundaan maka yang di hilir makin terlambat.

Sejak awal saya masuk ESDM, saya semakin yakin bahwa seharusnya pengelolaan listrik yang terdepan, tidak kejar tayang seperti sekarang, mengejar pertumbuhan. Saya akan menyampaikan tiga hal pagi ini: mengingatkan aspek normatif bagaimana kita mengurus sektor ketenagalistrikan, di mana pada forum ini mengundang BUMN, BUMD, Dinas ESDM, sepertinya diperlukan sesi khusus pak dirjen untuk berbicara dengan mereka. Mari kita buka landasan hukum yang tentu saja saat dibuat dengan pertimbangan yang luas.

Yang kedua saya mau menyampaikan hal khusus kepada PLN, Pak Sofyan tidak hadir ya? Beliau sering tidak datang acara-acara begini, kalau kita melihat saat ini merupakan puncak gunung es atas reaksi Dirut PLN behubungan dengan stakeholder.

Saya perlu menyampaikan hal ini secara terbuka, karena segala macam cara sudah ditempuh, bicara 4 mata sudah, 8 mata sudah, 16 mata sudah, tetapi nothing has change, pesan khusus pada pada pimpinan PLN bukan pada PLN, tidak ada yang salah dengan PLN.

Mumpung Jumat, saya mau tausiyah sedikit.

Poin pertama tentang ketenagalistrikan berupa landasan hukum dimulai dari pemerintah, BUMN, BUMD, koperasi, dan seterusnya, dan seterusnya. Sejak awal disadari listrik adalah urusan negara, PLN tidak mungkin bekerja sendiri, harus dibuka kesempatan pihak lain. Artinya ruang mesti dibuka untuk seluruh pemain, PLN hanya sebagai salah satu pemain, dan siapa yang diberi wilayah kerja, saat disusun UU ini, PLN hanya satu-satunya pemain, tetapi seyogyanya ke depannya tidak memungkinakan, karena wilayah yang dilayani besar, kapasitas yang dipunyai terbatas, tentu saja kita harus share room itu reminder pertama.

Reminder kedua adalah UU tentang BUMN, ini diulang-ulang oleh Pak Sofyan bahwa saya punya orang tua dua, yang satunya selalu minta laba, tetapi seharusnya kembali ke khittah-nya, pasal 2 mengatakan maksud dan tujuan mengatakan bahwa BUMN tidak hanya mengejar keuntungan tetapi juga harus memperhatikan kebutuhan masyarakat, jadi it's totally wrong apabila bolak balik ngomong untung rugi, untung rugi, apalagi di sektor ketenagalistrikan, saya kira pendiri PLN sadar betul, sekarang diukur seperti bank, tidak bisa.

Saya sudah sampaikan pada Bu Rini (Menteri BUMN) dan deputinya, jangan meng-guide PLN sebagai mesin pencari uang, PLN it's utility company ukurannya berbeda dengan perusahaan korporasi biasa.

Reminder ketiga pasal 28 UU 30, PLN sebagai salah satu pemain, saat ini dominan hanya temporary, pada tahun 2020 saat IPP sudah berjalan, maka posisnya sudah imbang (50:50). Problem paling akut sekarang adalah PLN sebagai faktor penentu IPP beroperasi tidak, secara naluri menjadi dilematis, masih ada anggapan bahwa porsi dikurangi, secara psikologis akan memperlambat penunjukan ini.

Saya dengar, Ibu Nicke (Direktur Perencanaan PLN) akan presentasi, jangan defensif ya Bu, harus kita anggap sebagai kerjaan bersama, jangan jadi kuping Pak Sofyan.

Reminder untuk wilayah-wilayah yang belum terlistriki bagi pemda-pemda. Reminder sedikit UU No. 70 tahun 2007 mengenai kebijakan energi nasional, sebentar lagi Perpres RUEN akan keluar, secara umum mengungkapkan, hemat minyak, gunakan gas bijaksana, fokus domestik, kebut energi terbarukan ditegaskan pada KEN dan RUEN, energi tidak hanya menjadi komoditi, tetapi sebagai pendorong ekonomi, ini adalah faktor yang menentukan hilirnya ekonomi bagaimana.

Oleh karena itu sudah ditargetkan pada KEN dan RUEN pada tahun 2025, EBTKE 25%. Pada rapat kabinet ada yang berusaha mengurangi porsi EBTKE, alasannya karena tidak realistis, saya langsung menentang karena kalau kita menyetujui berarti kita menentang apa yang kita rumuskan bersama.

Reminder terakhir, saya sudah mengirim surat ke PLN, catatan yang sudah ditembuskan ke presiden, pada ratas terakhir. PLN belilah setrum bukan beli mesin, artinya apa? Porsi pembangkit secukupnya saja, sisanya diberikan ke swasta, sehingga bebannya terbagi, kecepatan bertambah sehingga proses pembangunan dapat terbagi dengan berbagai macam pihak. Bahkan PLN diminta mengkaji kembali 10.000 MW yang sudah diberikan, secara keuangan, proyek, cukup realistis atau tidak.

Kemudian PLN harus concern dengan transmisi, jangan sampai pembangkitnya banyak tetapi transmisinya tidak terjaga. Kemudian Presiden menjawab, EBT memiliki concern lebih, presiden menyatakan secara kebijakan sudah benar, harus dijalankan. Yang terakhir ditekankan persepektif tidak hanya ditekankan untuk kepentingan komersial, ini bukan jangka pendek, listrik yang berbeda dengan sektor lain.

Saya sudah kehabisan cara, saya ngomong ini agar kita bersama-sama dapat move. Ibu Nicke tolong sampaikan kepada manajemen. Hentikan kebiasan mengontes kebijakan pemerintah, Permen satu kontes, Permen tiga kontes, kontesnya di publik, padahal tidak ada satu pun Permen disusun tanpa PLN.

Listrik bukanlah urusan substansi, power tetapi urusan teknis, terus sering direksi PLN bilang bahwa orang tuanya dua, tetapi ibunya adalah ESDM, jangan mengkontes ibunya, yang menentukan kebijakan itu ESDM, yang satunya bapaknya yang mengurusi labanya, janganlah mengontes ibunya, durhaka jadinya. Persepsi di publik pasti tidak baik, masa regulator dikontes?

Suasana kerja tidak enak, beliau tidak pernah datang, DPR sampai marah-marah. Manajemen harus terbuka, komit, pegang integritas itu modern manajemen. Kalau kita main di belakang itu perang modern, janganlah begitu.

Bu Nicke tolong sampaikan ke manajemen, hentikan kontes pemerintah, toh saat kita susun kita bareng-bareng. Perception you can buy, but you cannot buy reality, dan saya bangun reality, saya mau bangun kerja. Pak Sofyan pernah saya tanya, pernah nggak duduk di tempat saya? Not once. Sangat aneh apabila saya sulit ditemui, saya tidak protokoler, setiap kita punya acara, tidak pernah datang.

Jangan sampai sejarah mencatat, kegagalan 35.000 MW karena ulah pimpinan (susah ditemui, menyampaikan hal-hal yang tidak benar). Bilang ke Pak Sofyan, saya juga ngomong terbuka di sini, agar tidak ada salah persepsi. Bapak Ibu sekalian developer, dalam waktu dekat kita akan mengundang IPP tolong bicara apa adanya, agar solusinya tepat.

Yang terakhir, menurut saya masa depan kebohongan, penindasan, mafia approach akan suram. Apabila pemimpin tipe seperti itu masa depannya suram. Katanya augmented reality diminati karena orang capai bersembunyi, copyright yang baik baik saja, dibuka sumber pengetahuan agar bisa diakses. Yang punya imijainasi atur sana atur sini itu histori, yang sekarang adalah manajemen modern, berbicara , berdiskusi. Kegelapan, kebohongan tidak punya masa depan, karena itu kita mengelola dengan cara terbuka, dua pesan ini agar diingat dan dijalankan.

Regulasi untuk dijalankan bukan dikontes, saya bicara terbuka mumpung masih punya waktu untuk mengoreksi. Saya ingin soft landing, selama ini saya menahan diri tidak terbuka mungkin dengan begitu akan memberikan dampak. Bicara apa adanya, bekerja sebaik mungkin, dan sejarah akan mencatat kita menjadi bagian pembangunan negara.

Sumber | detik.com

Komentar

Loading...