Ini prediksi isi bocoran Wikileaks soal Erdogan dan kudeta Turki

Pasukan militer blokade jalan di Ibu Kota Turki/twitter

Turki, (Acehportal) - Selepas kudeta militer Turki, Fethullah Gulen menjadi tertuduh utama dalang upaya makar. Selanjutnya Presiden Reccep Tayyip Erdogan mengerahkan semua sumber daya membersihkan orang-orang yang tak loyal padanya dari pemerintahan. Ribuan orang ditangkap, ratusan tewas. Semua analis politik memperkirakan Turki akan menjelang era baru: Birokrasi Turki paling Islami sejak jatuhnya Kekaisaran Ottoman.

"Bocoran data kami akan menolong sekaligus menyudutkan AKP," kata Wikileaks melalui akun Twitternya, seperti dilansir Aljazeera.

Pengamat intelijen Joshua Cook, yang menghubungi Sibel Edmonds selaku mantan intelijen di Turki, punya sedikit dugaan mengenai kemungkinan isi bocoran Wikileaks. Yakni pemaparan siapa yang kemungkinan bergerak paling awal punya ide melakukan kudeta.

Cook menilai selama ini kancah politik Turki dikuasai tiga kekuatan besar.

Faksi pertama tentu saja Erdogan dan AKP-nya yang menguasai parlemen, dengan dukungan luas di pedesaan Turki. Jaringan AKP di luar negeri paling dekat dengan kelompok Ikhwanul Muslimin yang tiga tahun lalu diberangus di Mesir. Di Indonesia, saudara ideologis AKP adalah Partai Keadilan Sejahtera.

Faksi kedua adalah kelompok nasionalis. Kelompok ini mengidolakan Mustafa Kemal Attaturk, sehingga kerap disebut Kemalis. Mereka ingin Turki tetap menjadi negara sekuler. Faksi nasionalis punya banyak simpatisan di militer, rakyat sipil kota besar, serta kelompok-kelompok usaha.

Faksi ketiga adalah jaringan Islam modern Fetullah Gulen. Sang ulama yang mengasingkan diri ke Amerika Serikat sejak 1999 ini, oleh banyak rakyat Turki diyakini agen CIA. Dia dekat dengan banyak pejabat militer maupun petinggi birokrasi, baik yang sekuler maupun Islamis.

Ketika Gulen masih menjadi penasehat politik Erdogan, AKP sempat membiarkan banyak simpatisan Gulen mencari kader dari militer, universitas, hingga kantor-kantor pemerintahan. Hubungan Gulen-Erdogan retak pada 2013.

Cook cenderung sepakat bahwa Gulen memang aktor di balik upaya kudeta. Kendati demikian, AKP dan Erdogan tidak sepenuhnya bebas dari dosa. "Loyalis Gulen menuai karma setelah satu dekade lalu 'membersihkan' unsur militer untuk diisi kader-kader mereka," tulis surat kabar the Independent.

Data-data AKP berhasil diretas oleh Wikileaks seminggu sebelum terjadi kudeta pada Jumat (15/7) lalu. Awalnya dokumen tersebut akan dirilis beberapa bulan lagi. Belakangan situs pimpinan Julian Assange itu mempercepat jadwal rilis karena Rezim Erdogan menangkap ribuan orang yang diduga terlibat kudeta.

Pengumuman Wikileaks terkait bocoran data Partai Erdogan (c) 2016 Merdeka.com

"Kami melihat kudeta serta seluruh kejadian yang menyusul di belakangnya merupakan hasil pertikaian faksi-faksi politik di Turki. Kami ingin menunjukkan data yang sebenar-benarnya," kata Wikileaks.

Situs pembocor itu langsung diserang oleh hacker setelah mengumumkan bocoran data partai penguasa Turki. Wikileaks mengakusudah memperkirakan bila pemerintah Turki tidak ingin rakyatnya membaca data-data tersebut, karena akan sangat sensitif melibatkan banyak tokoh politik.

"Beberapa netizen dari Turki bertanya, kami pro atau anti-AKP? Jawaban kami adalah Wikileaks hanya setia pada kebenaran."

Bocoran Wikileaks tak terinidkasi terkait dugaan rekayasa kudeta oleh Erdogan untuk memperkokoh kekuasannya di Turki. Tuduhan itu dilontarkan Gulen, yang merasa terus disudutkan oleh pemerintah Turki.

"Ada kemungkinan kudeta itu direncanakan pemerintah untuk memperkuat tuduhan pada kami," kata Gulen saat diwawancarai dari kediamannya di Pennsylvania.

Soal tudingan merekayasa kudeta, Erdogan sudah membantahnya. Bagaimana mungkin Anda bisa merencanakan hal itu dengan banyaknya korban jiwa dari rakyat sipil? 208 warga sipil tewas, 1.500 orang berbaring di tanah memblokade tank, bagaimana cara Anda melakukannya?" ujarnya.

Recep Tayyip Erdogan dan anak buahnya akan jadi orang pertama yang berkorban. Kami mempertaruhkan nyawa demi rakyat. Begitulah cara kami berpolitik."

Sejauh ini pemerintah Turki telah mengirim empat nota resmi kepada AS agar mengekstradisi Gulen. Turki memberi bukti-bukti tertulis, menjelaskan peran Gulen dalam kudeta gagal pekan lalu.

Dokumen itu akan diperiksa terlebih dulu apakah persyaratan mereka memenuhi syarat resmi untuk permintaan ekstradisi bagi Gullen yang kini tinggal di Pennsylvania." kata Juru Bicara Gedung Putih, Josh Earnest.

Lebih lanjut, Presiden Obama dan Presiden Erdogan telah mendiskusikan ekstradisi Gullen lewat sambungan telepon pada hari Selasa kemarin.

"Presiden AS berjanji memberi bantuan yang diperlukan, tetapi desakan terhadap hal itu harus diikuti proses hukum," kata Earnest.

Gulen ketika dikonfirmasi terpisah, memohon AS tidak memenuhi tuntutan Ankara. "Saya mendesak pemerintah AS menolak segala upaya menyalahgunakan proses ekstradisi sebagai alat untuk melaksanakan dendam politik," kata bekas sekutu Erdogan itu, seperti dilansir AFP.

Rezim Erdogan sejak awal pekan ini menghabisi satu per satu semua pihak berpotensi melawannya di kemudian hari. Pemerintah pusat memecat 15 ribu pegawai dari kemeterian pendidikan, mencakup lebih dari 1.500 dosen serta dekan pelbagai universitas yang dipaksa mengundurkan diri.

Seperti dikutip dari the Guardian, Rabu (20/7), 257 pejabat di kantor perdana menteri dan 492 ulama di direktorat urusan agama juga 'dibersihkan'. Sebanyak 8,800 polisi dipecat dan 6 ribu tentara ditahan, belum termasuk 2.700 hakim dan jaksa, puluhan gubernur dan 100 petugas umum lainnya yang ditahan atas tuduhan makar. Ada pula 20 situs media yang kerap kritis terhadap pemerintah diblokir. Sebanyak 208 orang tewas dan lebih dari 1.400 orang terluka akibat upaya makar yang gagal.(Merdeka.com)

Komentar

Loading...