Meskipun Membahayakan, Warga Terpaksa Melalui Jembatan Lapuk

Terlihat warga tengah melintasi jembatan yang sudah lapuk di Gampong Pucoek Alue, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara. Foto: Analisa

Terlihat warga tengah melintasi jembatan yang sudah lapuk di Gampong Pucoek Alue, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara. Foto: Analisa
Terlihat warga tengah melintasi jembatan yang sudah lapuk di Gampong Pucoek Alue, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara. Foto: Analisa

Lhoksukon, (Acehportal) - Masyarakat di 24 desa di Kecamatan Baktiya, Aceh Utara, terpaksa me­man­faatkan jembatan yang sudah la­puk sebagai sarana transportasi meski keadaan tersebut membahayakan keselamatan mereka.

Ketua Forum Petani Kemukiman Matang Linga, Diki Irawan, kepada wartawan, baru-baru ini mengatakan, jembatan yang sering memakan korban itu terletak di Gampong (desa) Pu­coek Alue yang menghubungkan 24 desa di Baktiya.

Kondisi jembatan kini sudah lapuk sehingga truk pengangkut material ba­ngunan desa dan hasil panen ma­sya­rakat susah untuk melewati jembatan ini. Kondisi itu sudah berlangsung se­lama bertahun-tahun.

Diungkapkannya, jika pemerintah tidak segera memperbaiki jembatan tersebut, masyarakat dari 24 desa di Baktiya akan menutup jembatan itu de­ngan menanam pohon kelapa. “Pa­salnya, jembatan itu sudah puluhan tahun rusak,” ujarnya.

Keuchik (kepala desa) Keude Meunjei Peut, Baktiya, M Yahya, juga menyampaikan hal sama. Menurutnya, jembatan yang rusak itu sangat penting bagi masyarakat kemukiman Matang Linga karena merupakan jalur penghubung antardesa sehingga sa­ngat penting diperbaiki secepatnya.

Camat Baktiya, Abdurrahman, kepada wartawan mengatakan, pihak­nya sudah mengusulkan perbaikan jembatan itu ke Pemkab Aceh Utara.

“Informasi yang saya terima, jembatan itu akan dibangun dengan anggaran pendapatan dan belanja kabupaten (APBK) Aceh Utara. Saya juga terus mencari solusi agar jembatan itu segera diperbaiki,” sebutnya.

Sementara, jembatan beton di Desa Singgah Mata, Kecamatan Baktiya Ba­rat, Aceh Utara, ambles saat dilintasi tronton yang mengangkut padi, belum lama ini. Tronton itu terguling ke alur sedangkan padi yang diangkut tumpah.

Beruntung, tak ada korban jiwa da­lam peristiwa  itu. Namun, warga di ka­wasan itu tak bisa lagi melintasi ja­lur tersebut dan harus melewati jalur alternatif.

Menurut warga, jembatan tersebut dibangun pada sekitar 1970-an. Saat ini, kondisinya sudah tak layak pakai lagi. Sehingga, etika dilintasi mobil bermuatan tinggi, jembatan itu akhir­nya ambruk.

Minta Bangun Jalan

Masyarakat pedalaman Aceh Timur yang tinggal di Dusun Celike, Desa Re­lis, Kecamatan Lokop Serbajadi, me­ngeluhkan belum adanya jembatan dan jalan yang menghubungkan anta­ra kecamatan tersebut dengan Kabupaten Gayo Lues.

Jalan yang ada saat ini belum memadai. Selama ini masyarakat nekad menerobos derasnya arus sungai jika ingin menyeberang.

“Ada lima titik di sungai yang harus diarungi pengguna jalan jika hendak melewati Gayo Lues. Kondisi ini sudah berlangsung sejak jalan dibangun kolonial Belanda dulu,” ujar warga se­tempat kepada wartawan pekan lalu.

Masyarakat berharap Pemerintah Aceh segera membangun jembatan dan jalan yang layak antardua kabupa­ten itu mengingat jalan tersebut salah satu jalur alternatif yang dilewati ma­syarakat Aceh Timur, khususnya Lo­kop menuju  Gayo Lues, Medan, Aceh Tenggara, dan Aceh Tamiang.

Menurut warga, setahun terakhir sudah banyak warga yang hanyut saat me­lintasi sungai meski belum sampai me­nelan korban jiwa.

“Bahkan, pekan lalu, teman saya ber­­sa­ma sepeda motornya hanyut. Saat itu hujan, tapi, dia nekad menerobos se­­hingga dia bersama motornya terseret arus. Memang tidak ada korban jiwa, ta­­pi keselamatannya terancam,” kata Ar­di mewakili warga setempat. (Analisa)

Komentar

Loading...