Akhir Jejak Keluarga Penyelundup 14 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Aceh

Nani di sidang di PN Lhoksukon (dok.detikcom)

Nani di sidang di PN Lhoksukon (dok.detikcom)
Nani di sidang di PN Lhoksukon (dok.detikcom)

Jakarta, (Acehportal) - Satu keluarga dari Aceh yaitu Ramli (ayah), Nani (istri) dan Muzakir (anak), menjadi penyelundup sabu dari Malaysia. Penyelundupan itu juga dibantu Herman dan komplotan lain yang masih buron. Bagaimana akhir perkara ini?

Kasus bermula saat Ramli dan Nani ke Malaysia pada awal Februari 2015 dengan tujuan untuk mengambil 14 kg sabu. Setelah barang didapat, Ramli dan Nani pulang terlebih dahulu ke Aceh.

14 Kg sabu itu lalu dipercayakan kepada anaknya, Muzakir, untuk diurus. Muzakir kemudian mengajak Herman untuk membawa sabu itu lewat jalur laut.

Dengan kapal nelayan, Muzakir dan Herman membawa sabu itu dan mendarat di sungai kecil di pesisir Aceh pada 14 Februari 2015. Sudah menjemput Ramli dan Nani dan mereka berempat segera naik kendaraan menuju Medan.

Di tengah jalan, mereka diberhentikan oleh aparat kepolisian. Tapi mereka berusaha melawan dan sempat terjadi kejar-kejaran hingga mereka menyerah setelah mobil mereka menabrak kendaraan.

Setelah itu mereka lalu dibawa ke markas polisi dan diproses secara hukum. Di persidangan, jaksa tidak memberi ampun dengan menuntut mereka semua dengan hukuman mati.

Tapi apa daya, Pengadilan Negeri (PN) Lhoksukon hanya menjatuhkan pidana seumur hidup bagi Ramli, Nani, Muzakir dan Herman pada 10 September 2015. Putusan itu dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Aceh. Jaksa tidak terima dan mengajukan kasasi agar keempatnya dijatuhi hukuman mati. Apa kata MA?

"Menolak dengan perbaikan permohonan kasasi jaksa atau terdakwa Ramli," demikian lansir panitera MA yang dikutip dari website MA, Rabu (20/7/2016).

Duduk sebagai ketua majelis yaitu Artidjo Alkostar dengan anggota Andi Samsan Nganro dan Edy Army. Majelis dalam putusan yang dibacakan pada 14 Juni 2015 itu memperbaiki putusan sepanjang mengenai barang bukti 14 kg sabu dirampas untuk dimusnahkan dan barang bukti lainnya dirampas utk negara. Sedangkan hukumannya tetap penjara seumur hidup.

Muzakir diadili oleh Artidjo Alkostar dengan anggota Suhadi dan Andi Samsan Nganro. Muzakir tetap dihukum penjara seumur hidup. Hukuman penjara seumur hidup juga tetap dijatuhkan kepada Nani. Duduk sebagai ketua majelis yaitu Sri Murwahyuni dengan anggota Eddy Army dan Maruap D Pasaribu.

Setali tiga uang, kasasi jaksa atas Herman sama-sama ditolak sehingga Herman tetap dipenjara seumur hidup. Duduk sebagai majelis kasasi yaitu Artidjo Alkostar-Suhadi-Andi Samsan Nganro. (detik)

Komentar

Loading...