Muzakir Derita Kelebihan Hormon Tulang

KELEBIHAN HORMON: Azhar Daud dan Nilawati orang tua penderita memperlihatkan putranya yang menderita kelebihan hormon tulang di rumahnya, di Gampong (desa) Simpang, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat, Senin (18/7).(Analisa/agus saputra)

KELEBIHAN HORMON: Azhar Daud dan Nilawati orang tua penderita memperlihatkan putranya yang menderita kelebihan hormon tulang di rumahnya, di Gampong (desa) Simpang, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat, Senin (18/7).(Analisa/agus saputra)
KELEBIHAN HORMON: Azhar Daud dan Nilawati orang tua penderita memperlihatkan putranya yang menderita kelebihan hormon tulang di rumahnya, di Gampong (desa) Simpang, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat, Senin (18/7).(Analisa/agus saputra)

Meulaboh, (Acehportal) - Muzakir Lutfi (5) yang masih duduk di bangku sekolah Taman Kanak-kanak (TK) daerah Aceh Barat, saat ini menderita kelebihan hormon tulang atau pertumbuhan tidak normal seperti anak lainnya.

Walaupun masih balita, anak dari pasangan Azhar Daud (44) dan Nilawati (33) warga Gampong (desa) Simpang, Kecamatan Kaway XVI itu terlihat sudah berkumis dan berewokan seperti orang dewasa.

Azhar (44) berprofesi sebagai petani kepada wartawan, Se­nin (18/7) mengaku, penyakit yang dialami anaknya baru di­ketahui saat secara tiba-tiba terjadi perubahan prilaku se­perti orang dewasa sejak berusia empat tahun. Gejala awal­nya, Muzakir mengalami perubahan suara, kemudian tum­buh kumis. Selain itu, badannya juga terus membesar dan memanjang hingga 165 centimeter.

“Awalnya kami tidak mengkhawatirkan adanya proses perubahan suara anak kami. Namun, begitu melihat pertumbuhannya begitu cepat layaknya orang dewasa, ba­rulah kami membawanya ke rumah sakit untuk berobat kepada dokter spesialis anak,” tatanya.

Usai menjalani pemeriksaan di rumah sakit, dari diagnosa dokter disebutkan Muzakir mengalami kelebihan hormon tulang. Karena belum dapat ditangani di Aceh Barat, dianjurkan agar segera dibawa ke Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh.

Azhar pesimis putranya itu bisa hidup normal kembali seperti anak lainnya dikarenakan tidak adanya biaya untuk pengobatan selanjutnya. Sebab, sejak 2015 lalu per bulannya mereka sudah menghabiskan uang sebesar Rp3 juta.

“Di RSUZA memang gratis, tapi di Lab Prodia yang ha­rus kami bayar. Karena saya tidak ada lagi biaya, pengobatan pun tersendat. Apalagi dokter menyarankan anak kami harus di­bawa ke Singapura, yang minimal membutuhkan biaya Rp30 juta. Karena kalau di Indonesia belum dapat disembuhkan secara total,” ungkapnya.

Untuk kesembuhan putranya, Azhar sangat meng­harapkan ada dermawan yang mau membantu meringankan biaya pengobatan putranya itu. Karena kondisi Muzakir semakin hari terus berubah layaknya seperti orang dewasa.(Analisa)

Komentar

Loading...