Rencana Pembangunan PLTA di Aceh Selatan Terancam Gagal

ilustrasi PLTA @Merdeka.com

ilustrasi PLTA @Merdeka.com
ilustrasi PLTA @Merdeka.com

Tapaktuan, (Acehportal) - Rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Aceh Selatan yang telah dimulai dengan pembahasan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), pekan lalu, terancam gagal.

Sebab, tersebut dinilai bertentangan dengan strategi pembangunan daerah Aceh Selatan yang belum memasukkan dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) setempat. Selain itu, ada dugaan penolakan masyarakat secara massal karena khawatir dengan sistem pengembangan dengan membuat terowongan dan pengeboran.

“Ini akan merusak lingkungan hidup, apalagi kawasan itu adalah bagian dari eko­sistem Leuser serta  dugaan adanya unsur penggalian tambang,” kata sejumlah warga di Meunggamat Kluet Tengah.

Rencana pembangunan PLTA itu berlo­kasi di sekitar hulu Krueng (sungai) Kluet yang merupakan puncak sungai yang dijadikan sumber tenaga PLTA itu.

Sarah Baru, Alue Keujeuruen dan lereng pegunungan Kukusan Meunggamat, Aceh Selatan, menjadi lintasan, pengeboran dan bermacam kegiatan mega proyek tersebut.

Lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan pencinta lingkungan di kabupaten itu juga mengkhawatirkan akan kelanjutan proyek tersebut karena bakal mendapat pertentangan dari masyarakat di sekitarnya.

Masyarakat mensinyalir, bukan PLTA yang menjadi tujuan utama namun diduga akan ada penambangan sebagai aktivitas lain dari proyek yang dibiayai oleh konsor­sium badan usaha milik negara (BUMN) itu.

Pekan lalu, PT Triguna Energi yang mendapat sokongan dari kerja sama dengan pengusaha Tiongkok melakukan perte­muan di Bappeda Aceh Selatan untuk mem­bahas masalah Amdal dan lain-lain.

Salah seorang pegiat lingkungan hidup dari LSM YGHL Aceh Selatan, Sarbunis, sempat memberi apresiasi atas rencana itu sepanjang tidak melanggar ketentuan dan masuk dalam RTRW Aceh Selatan serta tidak memiliki kegiatan terselubung.

“Saya memberi apresiasi sepanjang tidak me­langgar ketentuan, Amdal dan RTRW. Ka­lau itu tidak ada, misi lain justru menjadi persoalan dan mengancam rencana pemba­ngunan proyek raksasa itu,” katanya.

Menurutnya, rencana pembangunan PLTA itu dinilai sebagai ren­cana prestisisu. Namun, di sisi lain dinilai berlebihan karena  kebu­tuhan daya listrik di Aceh Selatan dan daerah ini masih tercukpi oleh PLN dan Pembangkit Listrik Tanaga Uap (PLTU) Nagan Raya.

Aceh Selatan pernah ditawari oleh sebuah perusahaan nasional dengan bekerja sama dengan Korea, untuk membangun pembang­kit listrik tanaga bayu (PLTB) di Kluet Selatan, namun belakangan gagal diwujud­kan.

PLN Ranting Tapaktuan dengan Pem­kab Aceh Selatan juga me­ren­canakan pem­bangunan PLTU di Meukek yang juga gagal.

“Banyak rencana pemkab untuk mem­bangun sektor kelistrikan tetapi semuanya gagal, termasuk kekhawatiran atas rencana PLTA ini karena belum jelas misinya bagi masyarakat,” kata sejumlah pe­giat LSM dan pemerhati energi di kabupaten ini.

Pemkab Aceh Selatan melalui Asisten II Setdakab Aceh Selatan, menyatakan, pembangunan kelistrikan menjadi rencana yang harus didukung semua pihak. (Analisa)

Komentar

Loading...