Pasca Berobat di Rumah Sakit, Mata Pasien Makin Parah

unduhan

Blangpidie, (Acehportal) - Penduduk Desa Pinang, Keca­matan Susoh, Aceh Barat Daya (Abdya), Kar­ni (50), terancam kehi­langan mata ka­nannya diduga akibat kesalahan tenaga medis di Rumah Sakit Umum Teungku Peukan (RS­UTP) dalam melakukan pengobatan terhadapnya.

Informasi yang diterima warta­wan, Kamis (14/7), menyebutkan, musibah yang menimpa karyawan honorer PT PLN Rayon Blangpidie itu bermula saat matanya kemasukan debu, Sabtu (18/6). Karena terasa pe­rih, korban di­dampingi anaknya berobat ke RSUTP Abdya sekaligus memeriksa dan membersihkan mata.

Karni dilayani dokter jaga di Unit Gawat Darurat (UGD) RSUTP. Oleh dokter jaga, pasien diberikan obat tetes mata warna kuning bermerek Cendo­xitrol.

Pasca obat diberikan, korban lang­sung pulang ke rumah. Setelah pe­makaian obat selama tiga hari, mata korban tak kunjung sembuh. Malah, matanya membengkak dan menge­luarkan nanah.

Pada Senin (21/6), korban kembali ke  RSUTP untuk periksa ulang dan langsung dilayani dokter spesialis ma­ta. Spesialis mata menyatakan kon­disi mata yang bengkak dan ber­nanah disebabkan kesalahan pembe­rian obat tetes (salah resep). Karni diputuskan harus dirawat inap di RSUTP Abdya.

Selama beberapa hari dirawat, kon­­disinya tak kunjung membaik. Pihak keluarga meminta pertang­gung­jawaban manajemen RSUTP Abdya terkait musibah yang menim­panya yang diduga akibat kelalaian tenaga medis setempat.

“Setelah dirawat beberapa hari, saya dirujuk ke RSUZA Banda Aceh. Sepuluh hari saya dirawat di sana,” ungkap Karni.

Karena matanya tak kunjung pu­lih, Sabtu (2/7), dia kembali pulang ke Abdya dengan catatan dokter RS­UZA Banda Aceh agar korban tetap mela­kukan kontrol kesehatan mata di RS­UTP Abdya.

Pada Senin (11/7) dia kembali me­lakukan kontrol ke RSUTP Abdya. Dari keterangan dokter spesialis mata di RS­UTP Abdya, bola mata korban dinyata­kan harus diangkat agar virus tidak menjalar ke mata korban se­belah kiri.

Secara terpisah, Direktur RSUTP Abdya, dr Adi Arlanda Munda, mem­­benarkan kejadian tersebut. Pihaknya berjanji bertanggung jawab atas mu­sibah yang menimpa Karni.

Dikatakannya, mata Karni harus diangkat agar virus tidak menyebar ke mata satunya lagi. Namun, dia menga­ku tidak bisa memberi kete­rang­an terkait kondisi mata Karni hingga bisa demikian parah.

“Baiknya langsung ke spesialis mata saja karena dia yang lebih me­ngerti dalam hal ini,” pungkasnya.

Sementara itu, hingga berita ini ditu­runkan, wartawan belum berhasil men­jumpai dokter spesialis mata ru­mah sakit setempat yang karena pa­datnya jadwal dokter dalam me­layani pasien. (Analisa)

Komentar

Loading...