Habiskan Dana Milyaran, Bagunan Pasar di Aceh Utara Tak Difungsikan

Pasar Terpadu Lhoksukon yang dibangun dengan menggunakan APBA senilai Rp1,5 miliar hingga saat ini belum difungsikan. Foto: Analisa

Pasar Terpadu Lhoksukon yang dibangun dengan menggunakan APBA senilai Rp1,5 miliar hingga saat ini belum difungsikan. Foto: Analisa

Lhoksukon, (Acehportal) - Sejumlah pasar yang dibangun di Aceh Utara yang menelan anggaran mencapai miliaran rupiah tak kunjung difungsikan. Pasar yang dibangun dengan menggunakan uang negara itu terancam menjadi bangunan terlantar tanpa dimanfaatkan sehingga uang negara terbuang percuma.

Pantauan Analisa, Kamis (14/7), pa­sar yang belum difungsikan di ka­bu­paten yang pernah meraih opini wajar tanpa pengecualian (WTP) dari laporan hasil pemeriksaan (LHP) atas laporan keuangan Pemkab Aceh Uta­ra Tahun Anggaran 2015 pada per­tengahan Juni lalu, yaitu pasar tra­disional yang dibangun meng­gu­nakan anggaran pendapatan dan be­lanja negara (APBN) senilai Rp900 juta, dan pasar buah yang meng­guna­kan anggaran Program Nasional Pem­berdayaan Masyarakat Man­diri  (PN­PM) Kecamatan Seu­nuddon 2014 senilai Rp300 juta.

Sebelumnya dikatakan, pasar buah yang dibangun menggunakan dana PNPM Kecamatan Seunuddon be­lum ditempati pedagang karena be­lum selesai dikerjakan. Pemba­ngun­an pasar itu rencananya akan dilan­jutkan dengan memanfaatkan dana desa (gampong).

“Pasar dua tingkat ini rencananya akan ditempati sejumlah pedagang dengan sistem sewa.

Karena lantai atas belum selesai dikerjakan, pe­dagang enggan menem­patinya,” ujar seorang warga Keude Simpang Jalan, Dahri (40).

Kemudian, sebanyak 25 unit kios untuk pasar buah yang dibangun meng­gunakan anggaran pendapatan dan belanja Aceh (APBA) 2009 di Desa Matang Bayu, Kecamatan Bak­tiya, Aceh Utara juga belum difung­sikan.

“Kios tersebut dibangun untuk pedagang buah di Kecamatan Bak­tiya. Namun, mereka tidak mau me­nempati karena tidak ada fasilitas mandi cuci dan kakus (MCK), se­hingga para pe­dagang memilih men­jual barang da­gangannya di pinggir jalan Medan-Banda Aceh. Hanya saya yang memilih menempati tem­pat ini,” ujar salah seorang warga yang menempati kios tersebut, Rusli (35) kepada Analisa.

Pasar yang belum difungsikan juga terdapat di Kecamatan Lhok­sukon. Pasar terpadu yang dibangun dengan menggunakan APBA seniai Rp1,5 mi­liar tersebut sampai seka­rang belum ditempati oleh pedagang.

“Kami tidak mau menempati pasar terpadu tersebut karena jika kami berjualan ikan di sana pasti tidak laku, karena tidak semua pedagang mau pindah, tapi jika pidak dinas tegas ke­mudian semua pedagang harus ber­jualan di tepat baru itu, saya bersedia untuk pindah,” ujar salah seorang pe­dagang ikan, Amri (50).

Ketua LSM Gerakan Rakyat Aceh Membangun (GRAM) Azhar kepada Analisa menyesalkan Pemkab Aceh Utara yang tidak memfungsikan sejum­lah pasar bernilai miliaran rupiah itu.

“Pembangunan pasar itu terkesan hanya sekadar proyek untuk bisa mencairkan uang negara. Sepertinya Pemkab Aceh Utara tidak memper­timbangkan lebih dahulu sebelum membangun pasar tersebut. Kita ha­rapkan pemerintah segera mem­fung­sian sejumlah pasar tersebut,” demikian Azhar.(Analisa)

Rubrik:News

Komentar

Loading...