Gula Langka, Aceh Darurat Bahan Pokok

Foto:Analisa

Foto:Analisa
Foto:Analisa

Banda Aceh, (Acehportal) - Gula pasir yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat, terutama pada saat bulan Ramadan dan jelang Lebaran Idulfitri 1437 H, dilaporkan mulai langka di Aceh. Akibatnya, harga gula pasir saat ini mencapai Rp20.000 hingga Rp22.000 per kg.

Kelangkaan gula ini, menurut sejumlah pedagang, akibat minimnya pasokan dari Medan. Sedangkan stok yang tersedia di Banda Aceh dinilai tidak mencukupi lagi mengingat tingginya kebutuhan masyarakat saat Ramadan dan jelang Lebaran.

Seorang pedagang grosir di Pasar Besar Lambaro, Aceh Besar, Toke Din mengaku, saat-saat sekarang ini kebutuhan gula pasir oleh masyarakat sangat tinggi, sedangkan persediaan sangat minim bahkan sempat nyaris hilang di pasaran. “Saat ini harga tebus gula pasir di Medan mencapai Rp900 ribu per karung ukuran 50 kg,” ujar Toke Din saat ditanyai Analisa, Rabu (29/6).

Disebutkan, bisanya harga tebus gula pasir di Medan hanya Rp600 ribu per karung ukuran 50 kg, namun saat ini mengalami kenaikan yang luar biasa. Tidak diketahui penyebab kenaikan harga tersebut, apa karena permintaan yang terlalu tinggi dengan persedia­an terbatas atau karena ulah spekulan.

“Biasanya, di saat tertentu seperti ini, banyak spekulan yang bermain,” tegasnya sambil menambahkan, diharapkan itu tak benar terjadi, sehingga masyarakat tidak mengalami kesulitan saat menjelang Lebaran seperti sekarang ini.

Pihaknya memperkirakan persediaan gula pasir yang ada saat ini dikhawatirkan tidak mencukupi kebutuhan Lebaran yang tinggal sepekan lagi. Kondisi ini perlu pe­nanganan cepat dari pemerintah, sebelum gula pasir benar-benar hilang dari pasaran.

Pengakuan yang sama juga disampaikan Nurdin, seorang pedagang eceran di Lampeu­nerut. Menurutnya, pihaknya terpaksa ber­gerilya mencari gula pasir guna memenuhi kebutuhan konsumen di tokonya. Bahkan, ke sejumlah pedagang grosir di Banda Aceh dan Aceh Besar sudah dicarinya.

“Kalau dulu kita bisa stok dua sampai tiga karung, sekarang untuk dapat satu karung pun susah sekali,” ujar Nurdin sambil menam­bahkan, kemarin dia hanya bisa dapat satu karung dari seorang pedagang di Ulee Lheue Banda Aceh.

Menurut Nurdin, bukan saja gula pasir yang harganya meroket sekarang ini, namun telur juga mengalami kenaikan yang sangat luar bisa. Harga telur biasanya per papan Rp40.000 ribu, kini menjadi Rp55.000. De­ngan begitu, terpaksa dijual dengan harga Rp2.000 per butir.

Darurat

Ketua DPD Demokrat Aceh, Nova Iriansyah mengatakan, saat ini kondisi Aceh sudah darurat bahan pokok. Jika pada awal Ramadan masyarakat dipanikkan dengan harga daging sapi yang mencapai Rp170 per kg, kini bi­ngung dengan harga gula pasir yang meroket.

Kondisi darurat ini harus ditanggapi de­ngan cepat oleh pemerintah baik daerah, pro­vinsi dan pusat. Sebab, bukan tidak mung­kin, kondisinya akan semakin parah dengan naiknya harga kebutuhan pokok lainnya yang sangat dibutuhkan masyarakat saat ini. “Pemerintah harus bisa mengendalikan harga pasar dengan cepat dan tepat,”ujar Nova Iriansyah kemarin.

Dikatakan, pemerintah harus bisa meng­ge­rak­kan semua BUMN yang mengendalikan bahan pokok, sehingga harga tidak naik gila-gila­an di pasar. BUMN harus bisa bergerak cepat tanpa mesti menunggu arahan pemerintah.

“Kita harus peka melihat pasar, karena masyarakat sudah sangat sulit saat ini,” jelas Nova sambil menambahkan, selain gula pasir, nantinya masyarakat kembali akan berjumpa dengan melambungnya harga daging menjelang meugang Idulfitri.

Melihat kondisi inilah, menurut mantan Anggota DPR-RI ini, Partai Demokrat Aceh menggelar pasar murah beberapa waktu lalu. Pasar murah itu merupakan salah satu jalan yang bisa dilakukan guna meringankan beban masyarakat. “Saya rasa, semua pihak harus gotong royong mengadakan pasar murah, guna meringankan beban masyarakat,” jelas Nova.

Sementara itu, harga gula pasir di Aceh Utara mencapai Rp 20 ribu/kg, padahal dua pe­kan sebelumnya Rp18 ribu/kg. Me­lon­jaknya harga gula disebut-sebut akibat paso­kan terbatas se­dangkan permintaan ma­sya­rakat untuk kebutuhan Ramadan dan Idulfitri 1437 H cukup tinggi.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dis­perindag) Aceh Utara, dalam daftar harga hasil pantauan pekan keempat Juni me­lansir harga gula eceran mencapai Rp20 ribu/kg atau naik sebesar 25 persen, sedangkan borongan Rp19 ribu/kg. Se­mentara pragnosa gula di Aceh Utara pada Juni 2016 mencapai 1255,8 ton.

Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Aceh Utara, Zainal Abidin S.Sos yang dikonfirmasi Analisa, Rabu (29/6) meng­ungkapkan, harga gula menjelang Rama­dhan Rp15 ribu/kg, selanjutnya naik dan sempat bertahan Rp18 ribu/kg, kemu­dian naik kembali menjadi Rp20 ribu/kg, beberapa hari terakhir.

Kementerian Perdagangan dinilai sudah wak­tunya menge­luarkan izin impor gula me­ngingat pabrik lokal dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan menekan harga yang sudah cukup tinggi di pasar.

Masyarakat mengharapkan pemerintah menggelar operasi pasar (OP) khusus komoditi gula untuk membantu masyarakat ekonomi lemah menjelang lebaran.

Zainal menyebutkan, untuk menstabilkan harga pasar khu­susnya selama Rama­dan, pihaknya menggelar pasar murah di se­jumlah lokasi yakni Kecamatan Matang Kuli, Lhoksukon, Panton Labu, Krueng Geu­kueh dan Krueng Mane.

Adapun barang yang disediakan adalah beras, minyak goreng, gula pasir, terigu,telur ayam, sirup. Untuk kebutuhan gula meski ada pasar murah tidak memengaruhi harga pasar, karena harga gula tetap tinggi.

Sementara sejumlah kebutuhan lain masih stabil. Beras I/A Rp 11.000/kg, beras I/b Rp 10.500/kg, minyak goreng kemasan Rp 14 ribu/kg, minyak malinda (tanpa merek) Rp12 ribu/kg. Daging, sapi 130 ribu/kg, ayam boiler Rp 25 ribu/kg dan ayam kampung Rp 50 ribu/kg. Telur ayam bloiler Rp 1.300/bu­tir, ayam kampung Rp 3.000/butir dan te­lur bebek asin Rp 3.000/butir.

Disperindag juga melakukan pengawasan pasar selama Ra­madan dengan melakukan pemeriksaan barang kedaluwarsa di sejumlah toko perbelanjaan di wilayah timur dan barat Aceh Utara.(Analisa)

Komentar

Loading...