Angka Kematian Ibu dan Bayi Rentan Terjadi di Abdya

AcehPortal
AcehPortal

Blangpidie, (Acehportal) - Angka kematian ibu dan bayi di Aceh Barat Daya (Abdya) masih mengkhawatirkan. Setiap tahun, angka kasus tersebut terus bergulir dan menjadi persoalan yang harus diminimalisir pemerintah setempat.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Abdya yang diterima wartawan, Rabu (27/4), tercatat, pada 2015, angka kematian bayi mencapai 41 orang, bayi lahir meninggal 28 orang, kematian ibu sebanyak 2 orang dan kekurangan gizi sebanyak 5 orang.

Sementara itu, sepanjang Januari-April 2016, angka kematian bayi sebanyak 9 orang, bayi lahir meninggal 7 orang, kematian ibu sebanyak 2 orang dan anak gizi buruk 2 orang.

Kadinkes Abdya, Anwar Daud kepada wartawan membenarkan masih tingginya kasus kematian ibu dan bayi di kabupaten tersebut. Bahkan dia mengaku khawatir jika angka-angka itu terus bertambah.

Diungkapkan, penyebab langsung kematian ibu hampir 90 persen terjadi pada saat persalinan dan segera setelah persalinan. Risiko kematian ibu juga makin tinggi akibat adanya faktor keterlambatan, yang menjadi penyebab tidak langsung kematian ibu.

Ada tiga risiko keterlambatan, yaitu terlambat mengambil keputusan untuk dirujuk termasuk terlambat mengenali tanda bahaya, terlambat sampai di fasilitas kesehatan saat keadaan darurat dan terlambat memperoleh pelayanan yang memadai oleh tenaga kesehatan.

Sedangkan pada bayi, dua pertiga kematian terjadi pada masa neonatal (28 hari pertama kehidupan). Penyebab terbanyak adalah bayi lahir dengan berat rendah dan prematuri, kegagalan bernapas spontan dan infeksi.

Untuk meminimalisir kasus tersebut, pihaknya telah menginstruksikan seluruh tenaga kesehatan setempat, mulai dari rumah sakit, puskesmas hingga posyandu untuk memperbaiki serta meningkatkan kualitas pelayanan secara optimal.

“Peran aktif bidan desa untuk memantau setiap perkembangan sangat diperlukan, baik itu ibu hamil, ibu melahirkan dan anak-anak di wilayah masing-masing karena hal itu nantinya dapat dijadikan tolak ukur meningkatkan pelayanan kesehatan,” katanya.

Upaya dalam menekan angka kematian ibu dan bayi tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun petugas kesehatan, akan tetapi juga merupakan tanggung jawab bersama.

Selain itu, pihaknya saat ini sedang mengupayakan peningkatan status puskesmas di Abdya menjadi unit pelaksana teknis dinas (UPTD). Sebab, hampir seluruh puskesmas di Aceh telah ditingkatkan menjadi UPTD, sementara di Abdya belum terwujud.

“Untuk saat ini sedang dalam proses penyusunan peraturan bupati (perbup) dan diupayakan selesai tahun ini juga. Kalau terwujud, pelayanan kesehatan akan lebih baik dan pengelolaan anggaran seperti JKN dan lainnya bisa dikelola olah puskesmas masing-masing,” tuturnya.

Sumber: analisadaily.com

Komentar

Loading...