Puskesmas Tolak Tangani, Balita Meninggal Digendongan Ibunya

Ilustrasi

Ilustrasi
Ilustrasi

Lhoksukon, (Aceh Portal) - Muhammad Reza (16 bulan), anak pasangan Rohani (35) dan Razali (45), penduduk Desa Ulee Rubek Barat, Sunuddon, Aceh Utara meninggal di gendongan ibunya dalam perjalanan pulang setelah sebelumnya Puskesmas Seunuddon menolak menangani anak malang tersebut.

Razali saat ditemui Analisa di ru­mahnya, Selasa (12/4) mengatakan, dengan mengendarai sepeda motor dia membawa Reza ke Puskesmas Seu­neud­don karena mengalami sesak na­fas pada Minggu (10/4) dini hari. Selain itu, tubuh Reza juga membiru. Sesampai di Puskesmas Seunuddon, perawat menolak untuk menangani balita malang tersebut.

“Perawat mengatakan tidak ada selang oksigen sehingga tak bisa dita­ngani. Kemudian pihak medis menya­rankan untuk membawa anak kami berobat ke tempat praktik di Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, tanpa memberikan surat rujukan. Kami tidak menuruti seperti yang mereka sarankan karena sepeda motor saya waktu itu kehabisan bahan bakar.  Kami membawa Reza ke bidan di Desa Ulee Rubek Timu, Seunud­don,” tuturnya.

Sesampainya di tempat bidan, bi­dang tersebut menyatakan M Reza te­lah meninggal dunia. Diperkirakan, ba­lita itu meninggal dalam gendongan ibu­nya, Rohani, dalam perjalanan pu­lang.

“Kami menyesalkan tindakan Puskesmas Seunuddon. Jangankan untuk mengobati anak kami, dipegang saja tidak. Kami akan meneruskan kejadian ini pada pihak penegak hu­kum, karena pihak puskesmas meno­lak pasien yang sekarat,” sebut Razali yang bekerja sebagai nelayan.

Dikatakannya, beberapa pekan lalu, M Reza juga pernah menderita demam dan dibawa ke RSUD Cut Meutia, Lhokseumawe. Kala itu, pihak Rumah Sakit Cut Meutia tidak menjelaskan penyakit yang diderita anaknya itu.

“Ketika kami bawa Reza ke RSUD Cut Meutia, pihak rumah sakit cuma memberikan  obat tanpa menjelaskan penyakit yang diderita anak kami,” ungkapnya.

Sementara, Kepala Puskesmas Seu­nuddon, Zatuni membantah pihaknya menolak mengobati bocah tersebut. Dikatakannya, ayah korban melarang perawat untuk memasang tabung oksigen pada  korban. Menurut­nya, M Reza tak bisa diselamatkan karena menderita bocor jantung bawaan sehingga memicu demam.

“Sesampai M Reza ke Puskesmas Seunuddon, tubuh bocah tersebut sudah biru, bahkan orang tua korban melarang kami memasang tabung oksigen untuk korban. Kami mem­bahtah jika dikatakan Puskesmas Seu­nuddon tak punya tabung oksigen. Ma­lahan, kami menyediakan empat unit tabung oksigen dan siap mem­bantu pasien 24 jam,” katanya.

Secara terpisah, anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Utara yang membidangi kesehatan dan pendidikan, Saifullah, menyesalkan tindakan Puskesmas Seunuddon yang menolak pasien dan berujung meninggalnya balita. Insiden itu menurut politisi Partai Amanat ansional (PAN) tersebut tak boleh terulang kembali.

“Cukup ini yang terakhir. Jangan katakan di puskesmas tidak ada oksi­gen. Anggaran untuk setiap puskesmas sudah cukup untuk membeli obat dan per­alatan lainnya. Jadi tidak ada alasan tidak punya obat dan tidak punya ok­sigen,” katanya tanpa menyebutkan be­ra­pa besaran anggaran setiap puskesmas.

Saifullah menyebutkan, untuk menindaklanjuti kasus ini, pihaknya harus mempelajari dulu kronologis kejadian. Dia berharap insiden serupa tak terulang lagi di kemudian hari.

Sumber: analisadaily

Komentar

Loading...