Karlis Kreasikan Pangkal Batang Kelapa Jadi Furnitur

Kursi Dari Pohon Kelapa PELAKU usaha kerajinan tangan Karlis memperlihatkan beberapa Kursi yang masih dalam proses peyelesaian di tempat usahanya Desa Madat, Kecamatan Samadua@MedanBisnis

Kursi Dari Pohon Kelapa PELAKU usaha kerajinan tangan Karlis memperlihatkan beberapa Kursi yang masih dalam proses peyelesaian di tempat usahanya Desa Madat, Kecamatan Samadua@MedanBisnis
Kursi Dari Pohon Kelapa PELAKU usaha kerajinan tangan Karlis memperlihatkan beberapa Kursi yang masih dalam proses peyelesaian di tempat usahanya Desa Madat, Kecamatan Samadua@MedanBisnis

Tapaktuan, (Aceh Portal) - Kreativitas dan inovasi salah seorang warga Desa Madat, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan ini patut diacungi jempol. Betapa tidak, hanya dengan menggunakan bahan baku pangkal batang pohon kelapa, dia mampu membuat furnitur seperti meja dan kursi.

Uniknya lagi, pangkal pohon kelapa tersebut diolah menjadi meja dan kursi tanpa harus menggunakan satu biji pun paku atau lem. Sebab dirancang dengan konstruksi yang menyatu antara bagian satu dengan yang lainnya, sehingga sangat kokoh dan diperkirakan mampu bertahan selama puluhan tahun.

Produk kerajinan tangan yang tergolong langka dan unik tersebut diolah oleh Karlis (50). Ayah empat anak, suami dari Hartini (43) ini telah merintis usaha Seni Ukir Kayu dengan memanfaatkan bahan baku dari sumber daya alam yang ada di sekitar desanya itu sejak 26 tahun silam.

Sebenarnya, ada sejumlah produk kerajinan tangan yang diolah Karlis dengan memanfaatkan peralatan seadanya. Namun yang menarik perhatian karena tergolong unik dan langka adalah pengolahan pangkal pohon kelapa menjadi meja dan kursi.

Saat disambangi MedanBisnis di tempat usahanya, Minggu (10/4), Karlis dengan didampingi istri dan keempat anaknya menuturkan, dia hanya butuh waktu selama satu minggu untuk membuat satu buah kursi menggunakan pangkal pohon kelapa berukuran panjang 80 cm dengan lebar 60 cm.

"Yang menyita waktu lumayan lama adalah saat proses memahat, melubangi serta mengukir pangkal batang pohon kelapa, karena seluruh pekerjaannya kami lakukan dengan tangan," ungkapnya, seraya menyatakan saat proses pekerjaan dia dibantu empat orang anaknya.

Diapun menjelaskan gambaran singkat proses pembuatan meja dan kursi tersebut. Pangkal pohon kelapa yang telah dipotong-potong dipahat lalu dilubangi. Setelah berbentuk kursi ataupun meja, kemudian di bagian depannya dibuat ukiran bermotif Aceh. Agar terlihat bagus, selanjutnya digosok menggunakan kertas gosok sampai terasa licin dan tampak mengkilap.

Terakhir meja ataupun kursi yang sudah setengah jadi itu dicat sesuai warna yang diinginkan konsumen.

Selain ukuran kecil, dia juga memproduksi kursi dalam ukuran besar berbentuk singgasana, berukuran panjang satu meter dan lebar 70 cm. Untuk ukuran ini, satu kursi membutuhkan waktu pembuatan paling cepat selama 15 hari. Satu buah kursi ini dijual seharga Rp 1 juta.

"Kalau per unitnya kami jual Rp 1 juta. Tapi kalau dibeli per set yakni empat kursi dan satu meja, harga untuk ukuran kecil Rp 3 juta dan ukuran besar Rp 5 juta," sebut Karlis.

Karena keterbatasan modal, pihaknya baru berproduksi setelah ada konsumen yang memesan. Sebab jika menyimpan produk dalam jumlah banyak, di samping tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari juga mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku.

"Pangkal pohon kelapa sebagai bahan baku untuk pembuatan kursi dan meja kami beli dari masyarakat dengan harga yang lumayan mahal. Sebab selain butuh ongkos tebang, pangkal pohon kelapa juga harus digali dari dalam tanah untuk mendapatkan bahan baku berkualitas bagus," ujarnya.

Dari sejumlah produk yang telah dihasilkan, di antaranya selain dipesan oleh konsumen dari dalam daerah, juga ada yang dari luar daerah.

"Memang peminat produk ini berasal dari kalangan terbatas, rata-rata para pejabat dan orang kaya, karena harganya yang lumayan mahal. Sebab produk ini memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan produk kursi dan meja yang dijual biasa di toko.

Kursi dan meja dari pangkal pohon kelapa ini selain konstruksinya kokoh, juga mengeluarkan hawa dingin, sehingga sangat cocok untuk dijadikan kursi dan meja tamu dalam rumah pribadi," paparnya.

Mayoritas konsumen mereka yang suka barang-barang antik dan unik. "Yang telah membeli produk ini mengaku sangat terkesan," sambung Karlis.

Untuk pengembangan usahanya, Karlis mengharapkan ada investor yang mau menanamkan modalnya. Di samping investor swasta, dia juga mengharapkan Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan dan Pemerintah Aceh atau kementerian terkait dari Jakarta melirik usaha yang telah digelutinya sejak 26 tahun silam tersebut, dengan menyuntikkan modal kerja.

Sebab dia meyakini, jika furnitur tersebut mampu diproduksi dalam jumlah banyak, dapat dipasarkan secara lebih luas lagi ke luar daerah bahkan ke luar negeri.

Sumber: MedanBisnis

Komentar

Loading...