Batu Berlayar, nan Eksotis dan Bernilai Sejarah

20160411070942_791

Batu Berlayar OBJEK wisata yang menyerupai sebuah kapal yang sedang berlayar berlokasi di pinggir pantai Desa Gunung Cut, Kecamayan Samadua, Aceh Selatan.@medanbisnis
Batu Berlayar OBJEK wisata yang menyerupai sebuah kapal yang sedang berlayar berlokasi di pinggir pantai Desa Gunung Cut, Kecamayan Samadua, Aceh Selatan.@medanbisnis

Tapaktuan, (Aceh Portal) - Objek wisata Batu Berlayar yang berlokasi dipinggir pantai Desa Gunong Cut, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal dan manca negara. Selain bentuknya unik karena seperti perahu berlayar yang berada dalam laut, keberadaan objek wisata tersebut juga bernilai sejarah karena disebut-sebut ada kaitannya dengan kejadian "Perkelahian Tuan Tapa dengan seekor Naga".

Objek wisata ini berada tidak jauh dari lokasi objek wisata Air Dingin di perbatasan Kecamatan Sawang dengan Kecamatan Samadua yang berjarak sekitar 15 Km dari Kota Tapaktuan. Wisatawan yang datang, selain bisa menikmati pemandangan alam yang indah dan mempesona, juga bisa menikmati kolam pemandian air terjun yang dingin dikaki Gunung Desa Batee Tunggai. Karena airnya yang masih alami dan dingin, maka tempat itu dinamakan objek wisata Air Dingin.

Menariknya lagi, air sungai yang turun dari Gunung langsung mengalir ke laut yang berada dipinggir jalan Nasional Tapaktuan - Banda Aceh. Kombinasi antara air terjun dengan pesona pantai yang berdekatan itulah, jarang-jarang ditemukan oleh wisatawan ditempat lain. Namun para wisatawan manca negara (bule) yang datang, biasanya lebih senang menikmati suasana alam dipinggir pantai sambil berjemur di atas pasir putih.

Salah seorang wisatawan asal Norwegia, William Jacksen, saat dijumpai dilokasi objek wisata Air Dingin, Minggu (10/4) menyebutkan, keberadaan Batu Berlayar (Sail Stone) memiliki daya tarik tersendiri baginya, karena tergolong langka didapati di tempat lain.

"Selain pemandangan alamnya yang indah dan mempesona, di sekitar Batu Berlayar juga memiliki ombak laut yang cukup bagus untuk berselancar disertai tiupan atau hembusan angin yang sepoi-sepoi. Saat sore hari juga dapat menikmati keindahan matahari terbenam (sunset)," tuturnya dalam bahasa Indonesia yang belum fasih.

Munawir, salah seorang warga setempat, menjelaskan, asal mula objek wisata itu dinamai Batu Berlayar karena di ujung bukit mungil, tepatnya di pinggir pantai terdapat batu besar menyerupai kapal berlayar.

"Konon katanya, Batu Berlayar itu disebut-sebut berasal dari kapal yang ditumpangi seorang raja yang berlayar dari China, mencari anaknya yang hilang diambil oleh naga. Saat merebut kembali anaknya dari tangan naga, sang raja dengan dibantu Tuan Tapa sempat terlibat perkelahian dengan naga, hingga menghancurkan kapal tersebut berkeping-keping, sampai akhirnya disebut-sebut menjadi Batu Berlayar," ungkap Munawir.

Sebelumnya, putra bungsu Presiden pertama RI, Guruh Soekarno Putra, saat berkunjung ke Aceh Selatan beberapa waktu lalu sempat mengutarakan kegagumannya melihat keindahan panorama alam daerah itu. Menurut Guruh, keindahan panorama alam Aceh Selatan tidak kalah eksotis dengan objek wisata Kute Bali dan Raja Ampat. Hanya saja, potensi yang sudah ada itu perlu dibenahi serta dibangun fasilitas untuk memikat pengunjung.

Sumber: MedanBisnis

Komentar

Loading...