Catatan Kriminal Abrini, Pria Bertopi di Balik Serangan Brussels

Sosok pria bertopi pengeboman Brussels (Foto: REUTERS)

Sosok pria bertopi pengeboman Brussels (Foto: REUTERS)
Sosok pria bertopi pengeboman Brussels (Foto: REUTERS)

Belgia, (Aceh Portal) - Sosok pria bertopi yang muncul di dua peristiwa pengeboman di bandara Brussel belakangan diketahui identitasnya sebagai Mohamed Abrini (31). Abrini dikenal sebagai penjahat kelas teri yang tumbuh besar bersama Salah Abdeslam, tersangka serangan Paris, di kota Molenbeek Belgia.

Dikutip dari kantor berita AFP, Minggu (10/4/2016), Abrini dijuluki Brioche usai bekerja di sebuah toko roti. Abrini menyerah pada pekerjaan sebagai tukang las di usia 18 tahun sebelum akhirnya terjerumus pada lingkungan ekstremis.

Sudah menjadi target buron sejak serangan teror di Paris pada November, polisi juga menyingkap keterkaitannya dengan serangan di bandara Brussels. Polisi menemukan sidik jarinya di sebuah apartemen di mana dua pembom bunuh diri di bandara Brussels tinggal sebelum meledakkan dirinya Selasa (22/3).

Abrini ditangkap di Anderlecht kawasan Brussels, Jumat (8/4). Berdasarkan keterangan dari jaksa, Abrini adalah sosok pria misterius bertopi yang tampak bersama dua orang pelaku bom bunuh diri bandara Brussels di kamera pengawas.

"Dia mengakui kehadirannya di tempat kejadian perkara (TKP). Dia menjelaskan telah melemparkan rompinya ke tong sampah dan menjual topinya setelah peristiwa tersebut," ujar Kantor Kejaksaan Federal dalam pernyataannya.

Namun sebelum pemboman di Brussels, dia telah dikenal sebagai buronan tersangka serangan bom dan senjata di Paris yang menewaskaan 130 orang, Jumat (13/11/2015).

Pria ini berkewarganegaraan Belgia dan memiliki garis keturunan Maroko. Abrini terakhir terlihat bersama Salah Abdeslam di stasiun pengisian bahan bakar di utara Paris, dua hari sebelum terjadinya serangan di Paris. Otoritas Belgia memberinya tuduhan turut serta dalam kegiatan teroris dan terlibat dalam pembunuhan oleh teroris di ibukota Prancis.

Selama penyelidikan berlangsung diketahui bahwa Abrini memiliki catatan panjang tentang pencurian dan kepemilikan obat. Hal ini dibenarkan oleh saudara laki-lakinya yang mengatakan menjalankan perannya di dalam penjara.

"Brioche adalah seorang yang menyukai banyak uang dan memiliki banyak uang. Faktanya dia memiliki reputasi membuat dirinya mempunyai € 200 ribu. Itu pencurian," ujar rekannya Ali Oulkadi kepada penyidik Belgia.

"Dia tidak pernah berbicara tentang agamanya atau sesuatu menyinggung hal itu," imbuhnya.

Dikenal sebagai radikalis Islam oleh penyidik Belgia, Abrini diyakini telah mengunjungi Suriah tahun lalu dan adik bungsunya Suleiman (20) meninggal di sana.

Abrini dikenal oleh petugas keamanan tinggal bersama Abdelhamid Abaaoud dalam sel yang sama. Abaaoud dikenal sebagai otak serangan di Paris dan pelaku penembakan di bar, restoran dan konser hall.

Abrini dan Abdeslam tumbuh bersama sebagai remaja dan hidup bertetangga di distrik Molenbeek. Keduanya mengendarai mobil Renault Clio warna hitam yang tiga hari kemudian digunakan oleh tiga pelaku bom bunuh diri Stade de France. Penyidik meyakini jika Abrini menemani Abdeslam dan saudaranya Brahim-penyerang lainnya- dalam dua perjalanan antara Brussel dan Paris.

Sebelumnya saat diwawancarai AFP bulan november 2015, keluarga Abrini bersumpah saat malam berdarah di Paris, dia sedang berada di Molenbeek. Lingkungan yang dipenuhi oleh imigran dan memiliki reputasi sebagai surga bagi jihadis radikal.

Ibunya mengatakan bahwa dia tidak pernah berbicara soal ISIS ataupun pergi ke Suriah. "Mereka berkata dia berbahaya, dia bersenjata. Hal ini membuatku muak," katanya.

Perjalanan Abrini berulang di antara Paris dan Brussels bagaimanapun juga tidak pernah menyebutkan perannya dalam menyuplai logistik yang berkaitan dengan militan ISIS.

Sumber: detik

Komentar

Loading...