Rio Haryanto Siap Gas Pol di Formula 1 Shanghai

Pembalap F1 Indonesia Rio Haryanto melakukan sesi jumpa penggemar di salah satu mall di Jakarta, Kamis, 7 April 2016. TEMPO/Wawan Priyanto

Pembalap F1 Indonesia Rio Haryanto melakukan sesi jumpa penggemar di salah satu mall di Jakarta, Kamis, 7 April 2016. TEMPO/Wawan Priyanto
Pembalap F1 Indonesia Rio Haryanto melakukan sesi jumpa penggemar di salah satu mall di Jakarta, Kamis, 7 April 2016. TEMPO/Wawan Priyanto

Jakarta, (Aceh Portal) - Pembalap Formula 1, Rio Haryanto, mengatakan pengalamannya di dua balapan, yakni Melbourne dan Bahrain, menjadi bekal untuk melaju di Shanghai. Dia pun merasa lebih siap menghadapi balapan selanjutnya.

Rio memang mengalami kemajuan di balapan keduanya. Ia menempati urutan ke-17 atau paling akhir di antara pembalap yang bisa menyelesaikan lomba di Bahrain. Catatan waktunya adalah 1 jam 36,685 menit. Pada balapan perdananya dalam perhelatan Formula 1 di Melbourne, ia tak berhasil mencapai finis karena mengalami masalah pada mesin.

Kini dia tak lagi khawatir soal performa mesin mobilnya. Fisiknya juga ia rasakan lebih prima dan tak mudah lelah saat di Bahrain. “Sudah bisa gas pollah di Shanghai,” katanya di Jakarta, Jumat, 8 April 2016. Rio akan turun lagi di Sirkuit Shanghai, Ahad pekan depan.

Salah satu pengalaman berharga yang ia peroleh di Bahrain adalah penggunaan ban. Ia mengaku salah prediksi saat balapan keduanya itu. Tiga variasi ban yang ia pilih dalam balapan di Bahrain adalah lunak, lunak, dan medium.

Seharusnya pilihan paling tepat untuk melaju di Sirkuit Internasional Bahrain adalah lunak, lunak, dan superlunak. Pembalap lain, termasuk rekan satu timnya, Pascal Wehrlein, memilih kombinasi ban seperti itu.

Menurut Rio, pemilihan ban sudah didiskusikan dengan tim dan teknisinya dua jam sebelum balapan dimulai. Saat itu, ucap dia, tim dan teknisinya memprediksi pilihan ban yang paling tepat adalah lunak, lunak, dan medium. Ia berujar, sebagai rookie (pendatang baru), ia mengikuti saran timnya. “Tapi ternyata prediksinya salah,” tuturnya.

Tak hanya masalah ban, adaptasi dengan mobil Formula 1 juga terus ia lakukan. Perbedaan paling signifikan ia rasakan adalah jumlah tombol di setir mobil. Saat di GP2, tombol yang harus ia atur hanya empat. Di mobil Formula 1, ada 30 tombol yang harus ia atur.

Rio mengatakan bagian tersulit adalah mengatur bahan bakar. Dalam Formula 1, ucap dia, tidak bisa mengisi bahan bakar saat di pit stop. Jadi ia harus mengatur bahan bakar melalui salah satu tombol pada setirnya. Jika salah atur, risikonya bisa tak mencapai finis.

“Sekarang mulai familiar. Saya lebih percaya diri. Mudah-mudahan di seri-seri berikutnya, saya bisa lebih baik,” ujarnya.

Sumber: Tempo.co

Komentar

Loading...