Petani Pulau Nasi Berharap Pemkab Aceh Besar Bagun Irigasi

Sawah di Gampong Rabo, Pulau Nasi. @Analisa

petani-pulau-nasi-butuh-irigasi-228147-1Aceh Besar, (Aceh Portal) - Keterbatasan pengairan di persawahan tidak membuat patah semangat warga Pulau Nasi, Kecamatan pulo Aceh, Aceh Besar. Namun, masyarakat tetap menginginkan perhatian pemda untuk pembuatan irigasi di pulau itu.

“Kami sangat butuh irigasi karena 90 persen penduduk gampong (desa) kami hidup bertani. Kalau tidak ada irigasi, kami susah untuk menggarap sawah,” kata seorang tokoh masyarakat Gampong Rabo, Yushak, saat ditanyai Analisa, di pulau tersebut.

Dikatakannya, program pemerintah untuk menanam padi unggul dengan usia tiga bulan sekali panen tidak bisa dilaksanakan secara maksimal kalau tidak didukung pengairan di persawahan. Dalam setahun, masyarakat setempat hanya panen sekali.

“Kami menanam padi yang umurnya tiga bulan. Itu mengharapkan hujan saja untuk mengairinya. Jadi, setelah kami panen, kami langsung berkebun daripada tidak ada kegiatan yang menghasilkan,” katanya.

Masyarakat setempat umumnya hidup bertani dan berkebun. Namun, mereka sangat mengharapkan bisa mengusahakan sawah secara berkelanjutan. Mereka membandingkan, kalau umur padi tiga bulan sekali panen, bila didukung dengan irigasi, dalam setahun bisa dua kali panen.

Sebagai tokoh masyarakat Gampong Rabo, Yushak memahami keinginan masyarakat Pulau Nasi. Dikatakannya, setiap panen, masyarakat Pulau Nasi bisa mendapat hasil sekitar 120 ton dari sekitar 63 hektare sawah yang tersebar di pulau itu.

“Dulu kami bertani dengan padi yang umurnya enam bulan, tapi hasilnya kurang memuaskan. Sekali panen hanya bisa mendapat hasil 80 ton padi dari sekitar 63 hektare sawah. Sekarang ini bisa 120 ton sekali panen, itu di sawah tadah hujan. Kalau ada irigasi, mungkin bisa lebih,” katanya.

Diceritakannya, sebelum tsunami melanda Aceh pada 2004, pemerintah pernah membangun waduk untuk dijadikan irigasi di pulau tersebut. Namun, setelah tsunami, waduk yang belum selesai dikerjakan itu tidak dilanjutkan lagi pembangunannya.

Untuk membuat irigasi, lanjutnya, memang harus menggunakan bendungan karena di kawasan tersebut tidak terdapat sungai yang bisa dimanfaatkan untuk irigasi. “Dulu pernah dibuat waduk di ujung sawah Gampong Rabo. Tapi setelah tsunami tidak dikerjakan lagi. Dulu belum sempat mengairi sawah, baru dibangun,” ungkapnya.

Hal senada diutarakan Kepala Desa Deudap, Irfan, yang mengatakan, irigasi sangat diharapkan masyarakat di desanya. Sebab, untuk mengerjakan lahan pertanian yang bisa meningkatkan perekonomian harus ditopang irigasi.

“Masyarakat di sini umumnya hidup bertani. Jadi, lahan pertanian itu harus ditopang dengan irigasi, agar masyarakat tidak selalu mengharapkan hujan. Apalagi, kalau sekarang ini musim kemarau, maka berimbas pada kekeringan,” ujarnya.

Sumber: Analisa

Rubrik:News

Komentar

Loading...