Lokasi Reklamasi Pantai Jadi Arena Maksiat

ilustrasi lokasi pantai I rri

Tapaktuan, (Aceh Portal) - Lokasi reklamasi pantai Tapaktuan, Aceh Selatan, yang dijadikan Pemkab Aceh Selatan sebagai “taman pala” belakangan ini berubah fungsi dari arena penyelenggaraan pameran dan pusat kebugaran Aceh Selatan menjadi arena maksiat.

Demikian dikemukakan beberapa warga Pasar Tapaktuan kepada Analisa, Senin (4/4), sehubungan aktivitas sebagian remaja dan pasangan muda-mudi pada malam hari.

Fenomena itu berlangsung sejak beberapa bulan lalu, tepatnya pasca penyelenggaraan hari ulang tahun (HUT) Aceh Selatan, Desember 2015 dan berbagai kegiatan seprti turnamen bola voli Piala Bupati Aceh Selatan, baru-baru ini.

Selepas kegiatan itu, terdapat fasilitas yang diduga menjadi tempat maksiat karena di sisi lain Pemkab Aceh Selatan tidak menyediakan lampu penerangan.

“Kalau mau Bapak lihat dan buktikan, datanglah selepas Maghrib atau saat gerimis, pasti maksiat berlangsung,” sebut beberapa warga yang mulai gusar dengan kondisi itu.

ilustrasi lokasi pantai I rri
ilustrasi lokasi pantai I rri

Apalagi, saat ini pembatas antara pantai reklamasi Taman Pala Indah yang dibanggakan ini berupa pagar beton sangat tinggi sehingga tidak terpantau oleh warga di sekitarnya akan apa yang terjadi di lokasi itu.

“Kecuali kami mengendap-endap dan langsung menyaksikan pasangan diduga melakukan hal tidak senonoh, atau paling tidak berdua-duaan di tempat gelap, namun sejauh ini petugas wilayatul hisbah (WH) tidak berbuat apa-apa,” kata seorang warga, Yurni (49).

Menurut pantauan Analisa, Sabtu (3/4) malam, sekitar pukul 19.30 WIB, banyak remaja berdua-duaan di tempat ini. Pada saat lampu jauh kendaraan dinyalakan ketika melintas di badan jalan aspal melingkar itu, sebagian dari mereka tampak mengubah posisi agar tidak terlihat berduaan.

Patroli Satpol PP dan WH Aceh Selatan juga tidak berjalan pada saat itu sehingga memberi keleluasaan terjadianya maksiat.

Kepala Kantor DLKP Aceh Selatan Mirjas SSi ketika dihubungi Rabu (6/4) tidak memberikan tanggapan kendati ponselnya dalam kondisi aktif.

Sementara, Kepala Dinas Syariat Islam M Rasyid SAg, ketika dihubungi, Rabu (6/4), mengatakan, sulit untuk melakukan penertiban dan penindakan karena tidak memiliki perangkat.

“Polisi WH saja tidak berada di dinas kita, bagaimana melakukan operasi,” katanya.

Diakuinya, lokasi itu menjadi arena kemaksiatan, namun pihaknya tidak bisa berbuat banyak, termasuk soal lampu penerangan yang bukan menjadi kewenangan pihaknya untuk menyediakannya.

“Kami akan berkoordinasi mengatasi masalah ini,” janjinya tanpa menanggapi pernyataan warga tentang seolah-olah pemkab menjadi penyedia arena kemaksiatan itu.

Sumber: analisa

Komentar

Loading...