Pemerintah Dinilai Tak Serius Tanggani Pukat Harimau

ilustrasi pukat harimau @beritasatu

1425564864Lhoksukon, (Aceh Portal) - Panglima Laot Aceh Utara, Ismail menilai Pemerintah Aceh Utara lemah dan terkesan tak serius untuk meng­atasi pukat ha­rimau yang me­resahkan ne­layan tradisional.

“Jika pemerintah tak sang­gup me­ngatasi pukat harimau, biar nelayan sendiri yang meng­atasinya, dan ne­layan akan mem­ bu­at hukum sendiri dengan cara membakar jika kedapatan ka­pal yang menangkap ikan menggu­nakan pukat harimau,” tegas Is­mail kepada Analisa, Selasa (5/4).

Menurutnya, pihak Panglima Laot Aceh Utara sudah sering mengadakan pertemuan dengan pihak terkait me­nyangkut lara­ng­an pukat harimau, namun hi­ngga kini pukau yang dapat me­­rusak ekosistem laut tersebut masih tetap beroperasi.

Ismail menambahkan, pukat hari­mau tersebut beroperasi pa­da malam hari, diperkirakan mencapai puluhan unit me­nangkap ikan di wilayah per­airan Aceh Utara. Keberadaan pukat harimau itu, selain meresahkan nelayan tradisional juga pendapatan nelayan berkurang.

Sementara Panglima Laot Ke­ca­matan Seunuddon, Amir Yusuf me­ngatakan, ratusan ne­layan tradisional kecamatan ter­sebut terancam akibat beroperasinya pu­kat harimau. Berbagai jenis alat tangkap milik nelayan tradisio­nal setempat dirusak, sehingga nelayan mengalami kerugian jutaan rupiah.

Dikatakannya, dua hari lalu, nelayan Desa Ulee Rubek Barat menjadi korban kapal pukat harimau. Kapal ikan menggu­na­kan pukat harimau yang datang dari arah timur, melintasi pantai Ulee Rubek menyebabkan jaring nelayan tradisional yang di­pa­sang sepanjang pantai rusak karena dilintasi kapal tersebut.

Jaring Nelayan Rusak

Tgk. Zakaria (40) menambahkan, nelayan Seunuddon men­jadi korban akibat kapal pena­ngkapan ikan meng­gunakan pukat harimau. Sebanyak 18 lembar jari­ng miliknya rusak. Menurut Amir Yusuf, kerugian yang di­alami Zakaria menca­pai Rp7,5 juta.

Kejadian serupa juga se­ring terjadi pada nelayan lain di kawasan perairan Selat Malaka tersebut. ungkapnya, Pukat ha­­ri­mau sekarang mencari ikan ter­lalu dekat dengan pantai, se­hingga sering merusak jaring dan berbagai jenis alat tangkap nelayan.

“Ratusan nelayan Seunuddon masih menggu­nakan alat tang­kap tradisional, seperti jaring dan pancing. Me­reka hanya mam­pu mencari ikan di perairan dengan kedalaman sekitar 20 meter. Nelayan tidak bisa lagi mencari ikan sejak alat tangkapnya dirusak pukat harimau,” ujar Panglima Laot Seu­nuddon.

Amir Yusuf mengharapkan peme­rintah daerah ikut mem­ban­tu nelayan tradisional. “Se­harunya, pihak terkait memper­kuat aturan yang melarang beroperasi pukat harimau, seperti di daerah lainnya,” tegasnya.

Secara terpisah, Ketua Pani­tia Le­gislasi (Panleg) DPRK Aceh Utara, Fauzan Hamzah mengatakan, pihaknya sedang mem­bahas aturan tentang lara­ngan penggunaan pukat hari­mau. Dalam rancagan qanun (Ragan/peratu­ran dae­rah) ditegaskan larangan peng­gunaan alat tangkap tersebut, kata­nya.

Sumber: analisa

Komentar

Loading...