Warga Aceh Tamiang Terancam Krisis Air Bersih

foto: Analisa

foto: Analisa
foto: Analisa

Aceh Portal, Kualasimpang - Bencana kekeringan semakin meluas di Aceh Tamiang. Setelah sebelumnya melanda sedikitnya enam desa di Kecamatan Tamiang Hulu, kini kekeringan sudah meluas hingga ke Kecamatan Kejuruan Muda.

Tidak tertutup kemungkinan, jika musim kemarau masih terus berlangsung, sejumlah kecamatan di wilayah hulu Aceh Tamiang seperti Bandar Pusaka dan Tenggulun juga terancam krisis air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Sementara, penduduk Bukit Panjang Sa, Kecamatan Manyak Payed, Sabtu (2/4) melaporkan, sumur umum yang airnya dikonsumsi belasan KK di Pondok Batu mulai kering. Kendati ada dua unit sumur umum yang satu dibuat pada zaman Belanda dan satunya dibangun melalui program PNPM, namun mata air yang keluar dari sumur tersebut tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan sehari-hari warga Pondok Batu.

Mereka kemudian menyiasatinya dengan cara pada tengah malam baru menarik air dari sumur ke rumah karena pada siang hari tidak kebagian air.

“Masing-masing warga memasang mesin pompa air sehingga untuk bisa mendapatkan air kami menariknya pada pukul 02.00 WIB, kadang tidak tidur lagi,” tutur Sri Arimbi (35) kepada Analisa.

Warga Pondok Batu lainnya, Zainuddin menambahkan, selain sulit mendapatkan air ketika musim kemarau, air dari sumur umum tersebut juga tidak bisa dikonsumsi untuk minum. Mereka terpaksa beli air minum dari jasa air bersih keliling.

Dia mengaku sejak beberapa bulan terakhik terpaksa menarik air dari sumur keluarganya di desa tetangga, Seuneubok Baro.

“Sudah saatnya dibangun tambahan sumur bor di sini karena dua sumur yang ada tidak bisa diandalkan lagi saat musim kemarau. Selain itu kandungan airnya sangat asam sehingga tidak bisa dikonsumsi untuk air minum,” ujarnya.

Sementara itu, Nining, salah satu warga Tanjung Seumantoh, Karang Baru, mengaku terpaksa memasang instalasi jaringan PDAM seiring mengeringnya mata air di dalam sumur. Sejak kemarau melanda Tanjung Seumantoh dan sekitarnya, sejumlah warga berinisiatif berlangganan air PDAM Tirta Tamiang untuk kebutuhan sehari-hari.

Tinjau Langsung

Baru-baru ini, Bupati Aceh Tamiang, H Hamdan Sati ST, naik gunung untuk meninjau langsung desa-desa yang terdampak kekeringan tersebut. Hamdan Sati beserta jajaran terkait terdiri BPBD, PDAM dan Humas Setdakab Aceh Tamiang meninjau warga Desa Alur Selebu dan Tanjung Genting, Kecamatan Kejuruan Muda, yang merupakan desa susulan yang dilanda kekeringan.

Di dua desa tersebut, sumur-sumur warga yang menjadi sumber mata air kondisinya kering. Selain sumur, ratusan hektare lahan pertanian juga dilaporkan mengalami kondisi yang sama.

Sebelumnya, orang nomor satu di Aceh Tamiang ini juga telah meninjau ke enam desa di Tamiang Hulu yang lebih dulu terpapar kekeringan. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang, di Tamiang Hulu terdapat 2.975 kepala keluarga (KK) atau 9.800 jiwa dari enam desa terpapar kekeringan dan harus display air bersih hingga saat ini.

Bupati Hamdan Sati saat mengunjungi warga Desa Alur Selebu mengatakan, selama ini telah terjadi bencana kekeringan meliputi di delapan kecamatn dengan jumlah warga yang terkena dampak sekitar 8.000 KK.

Bahkan, para petani terpaksa harus menanggung rugi karena lahan pertanian mereka kering total sehingga tidak bisa digarap untuk bercocok tanam. Tidak sedikit petani yang mengalami gagal panen karena tanaman padi tidak mendapat pasokan air yang cukup.

“Untuk sementara waktu, Pemkab Aceh Tamiang melalui BPBD akan terus melakukan pendistribusian air ke rumah-rumah warga yang mengalami kekeringan sampai musim kemarau berlalu,” terang Hamdan.

Sumber: Analisa

Komentar

Loading...