Aparat Bentrok dengan Penyelundup, 1 Tewas

Korban tewas  Aidil Eka Syaputra (39) diduga tertembak aparat keamanan dalam bentrokan di Kuala Bagan Asahan, dibawa ke RSU Djasaman Saragih, Pematang Siantar.(Analisa/gustanpasaribu)
Korban tewas Aidil Eka Syaputra (39) diduga tertembak aparat keamanan dalam bentrokan di Kuala Bagan Asahan, dibawa ke RSU Djasaman Saragih, Pematang Siantar.(Analisa/gustanpasaribu)

Tanjung Balai - Patroli gabungan TNI AL dan Bea Cukai terlibat bentrok dengan dua kapal penyelundup pakaian bekas di perairan Kuala Bagan Asahan, mengaki­batkan satu orang tewas dan dua lainnya luka-luka, Jumat (22/1).

Informasi dihimpun Anali­sa, me­nyebutkan peristiwa itu terjadi saat kapal patroli BC dan TNI AL meng­hadang dua unit kapal motor membawa ratusan bal pakaian bekas, di sekitar lampu putih Kuala Bagan Asa­han. Saat petugas akan bertindak, tiba-tiba seke­lom­pok massa dari arah Kota Tanjung Balai datang ke lokasi, langsung naik ke atas kapal mo­tor berisi pakaian be­kas.

Massa yang diperkirakan seki­tar 30 orang terdiri dari 10 laki-laki dan 20 perempuan me­lakukan perlawanan meng­halau petugas agar tak menang­kap kapal motor pengangkut pakai­an bekas itu.

Melihat aksi massa, petugas kea­manan memilih mundur, na­mun sete­ngah jam kemudian pe­tugas kembali me­ngejar kapal motor dan memin­ta agar massa menyerahkan diri bersama pakaian bekas. Namun massa terus me­la­wa­n dan tak bersedia me­nye­rahkan diri dengan cara me­lempari petugas.

Petugas lalu memberi­kan tembakan peringatan ke arah kapal motor, hingga me­nga­kibatkan satu orang tewas dan dua lainnya luka-luka. Kapal motor pun akhirnya ber­ha­sil diamankan dan mas­sa di­turunkan menuju pelabuhan Pan­ton Bagan Asahan. Korban tewas dan luka dilarikan ke RSU Tengku Man­syur, Tanjung Balai, untuk pera­watan.

Korban tewas Aidil Eka Saputra (39), penduduk Jalan Pahlawan, Kelu­rahan Pantai Burung, Tanjung Balai Selatan. Korban luka, Fat­ma (28) dan Darma (34) pendu­duk Jalan Pantai Olang Kelura­han Sirantau Datuk Bandar.

Korban tewas dibawa ke RSU Djas­man Sara­gih, Pematang Siantar untuk diotopsi, dan korban luka sempat dirawat di RSU Tengku Mansyur lalu dibawa pulang pihak ke­luar­ga.

Aksi Massa

Pascapenembakan, massa mengge­lar aksi di kantor DPRD Tanjung Balai dan kan­tor BC Teluk Nibung, menun­tut agar kapal motor berisi pa­kaian be­kas yang telah disita petugas di­kem­bali­kan kepada masya­rakat. Meminta agar BC dan TNI tidak berlaku kejam da­lam bertindak terhadap masyarakat pedagang pakaian bekas, ka­rena hanya untuk mencari ma­kan.

"Ini hanya kejahatan eko­no­mi tidak perlu terjadi pem­bunuhan terhadap ma­sya­rakat, rakyat hanya mencari makan, bila salah ditangkap saja, tidak harus dibu­nuh," ung­kap perwakilan massa Hj Lolom saat berunjuk rasa di kantor BC Teluk Nibung.

Anggota Komisi B DPRD Tanjung Balai, H Hamdayani mengatakan, pi­haknya mene­ri­ma laporan dari masya­rakat terjadi penembakan mem­babi-buta dilakukan oknum aparat terhadap massa sehi­ngga jatuh kor­ban satu tewas dan dua luka. Masyarakat meminta DPRD men­dam­pingi terkait kasus ini.

"Kami didatangi masya­ra­kat me­nyam­paikan adanya tin­dakan penem­bakan yang dilakukan oknum aparat ter­ha­dap masyarakat yang bera­da di atas kapal motor, dan saya datang untuk membantu kelancaran proses pengu­rusan jenazah korban di RSU Teng­ku Mansyur ini," katanya.

Perlu Otopsi

Kapolres Asahan AKBP Tatan Dir­san Atmaja mem­be­nar­kan peristiwa itu, dan saat ini korban tewas sudah diba­wa ke RSU Djasaman Sa­ragih untuk diotopsi.

Tin­dakan otopsi diper­lu­kan un­tuk membuktikan penyebab ke­ma­tian kor­ban.

"Kejadiannya bermula ke­­ti­ka aparat TNI AL dan BC men­cegah masuk dua unit kapal motor membawa pa­kaian bekas. Petugas me­min­ta agar kapal motor se­gera kem­bali dan tak masuk ke Kota Tanjung Balai na­mun tak diindahkan. Kemu­dian petu­gas mem­be­rikan tembakan peringatan meng­aki­bat­kan korban tewas satu orang dan dua luka. Untuk membuk­tikan penyebab ke­matian apa­kah terkena tem­bakan, atau ben­da lain maka diperlukan otopsi," tuturnya.

Kapolres meminta agar masyarakat Kota Tanjung Balai menciptakan sua­sana yang tenang dan kondusif. Untuk keperluan penga­ma­nan, saat ini Polres Asahan telah mengirim pasukan Dal­mas membantu aparat ke­poli­sian Pol­res Tanjung Ba­lai di kan­tor BC Teluk Ni­bung.

"Kami imbau agar mas­yara­kat tenang, sebab kasus­nya sudah ditindak­lanjuti," katanya.

Tindak Tegas

Terpisah, Komandan Pangkalan Utama TNI Ang­katan Laut (Danlan­tamal) I Lak­samana Pertama TNI Yudo Margono mengins­truk­sikan personel­nya untuk menindak tegas aksi penye­lundupan.

Bila diperlukan langkah pe­nembakan terha­dap kapal yang melaku­kan aksi tersebut di wilayah hu­kum Lantamal 1.

Hal itu ditegaskan Dan­lantamal 1 dalam konferensi pers terkait aksi pe­nye­rangan terhadap petugas patroli Lan­tamal 1, oleh kelompok mafia pe­nye­lundupan barang di perairan Tanjung Balai Asahan (TBA), Jumat (22/1).

Disebutkan, peristiwa ber­mula pe­tugas patroli peng­awas KRI Boa melihat empat kapal kayu tanpa nama, yang bergerak masuk alur perairan TBA, dengan lampu dima­tikan pada jarak sekitar 200 meter.

Selanjutnya empat per­sonel TNI AL di antaranya Lettu (P) Irawan, menggu­nakan sekoci bergerak men­dekati empat kapal tersebut. Tujuannya untuk memeriksa.

Di saat sekoci petugas men­dekat pada jarak 10 meter dan baru akan merapat, tiba-tiba saja sekitar 60 pria yang berada di kapal tersebut meng­­hadang petugas dengan mengacungkan senjata ta­jam, seperti parang, golok dan kayu serta beberapa di antaranya melempar bom molotov ke arah sekoci petu­gas.

Lalu petugas mengeluar­kan tem­bak­an peringatan ke udara. Namun para pria itu terus melawan. Bahkan salah satu kapal kayu itu nekad mengarahkan haluan, men­coba menabrak sekoci petu­gas.

Dalam posisi sekoci ham­pir terjepit dengan kapal kayu pada jarak 10 meter, beberapa lemparan molotov kelompok penyerang itu sempat menge­nai sekoci petugas.

Karena ke­terbatasan kekuatan per­sonel saat itu, akhirnya pihak TNI AL kembali ke KRI Boa dan menjauhi kapal kayu tersebut.

“Personel terpaksa mun­dur guna meng­hindari hal yang buruk sambil me­laku­kan tembakan peringatan ke udara.

Namun usai itu dite­mukan seorang warga yang berada di kapal kayu ter­tembak pada bagian bela­kang kepala dan tewas,” kata Danlantamal.

Disinggung tentang siapa pelaku pe­nembakan tersebut, perwira berbin­tang satu itu mengatakan masih dalam penye­lidikan.

“Karena saat itu anggota kami dilengkapi senjata AK 47 dan kalau pun tembakan personel mengenai korban, maka kepala korban tentunya akan pecah. Jadi kejadian ini masih diseli­diki,” tegas Danlantamal.

Saat ini satu dari empat kapal kayu, merupakan kapal induk yang diduga membawa barang ilegal telah diaman­kan petugas kapal patroli Bea dan Cukai kemudian digiring menuju Belawan.

Terkait adanya upaya pihak tertentu untuk mem­provokasi kejadian ini, tam­bah Kadispen Mayor (KH) Sahala Sinaga, Danlantamal 1 telah menge­rahkan prajurit 60 personel termasuk prajurit Marinir.

Ditambah pengua­tan dari Pomal untuk pengamanan di TBA serta unsur KRI terdirI Kal Telaga Tujoh.

Penambahan pasukan ini dianggap perlu, karena ada kekhawatiran warga suruhan kelompok mafia penyelun­dup­an akan melakukan aksi pembalasan.

Sumber: Analisa

Komentar

Loading...