Aktivis Era Orba Ini Akan Bangun Sekolah Internasional

Foto : Kompas.com
Foto : Kompas.com

Jakarta — Berhak menerima ganti rugi sebesar Rp 1 miliar dari pihak tergugat, tak lantas membuat aktivis zaman Orde Baru, Wimanjaya Keepeer Liotohe (83), tinggi hati.

Wimanjaya tak terpikir menggunakan pundi-pundi itu untuk memuaskan dirinya. Pria bergelar profesor ini malah berkeinginan membangun sebuah lembaga pendidikan di Kepulauan Sangihe dan Talaud.

"Saya akan mendirikan sekolah tinggi internasional Asia Pasifik," kata Wimanjaya kepada Kompas.com, Jakarta, Jumat (22/1/2016).

Wimanjaya menyampaikan, sekolah itu rencananya dibangun di atas tanah seluas tujuh hektar. Tanah itu adalah warisan dari sang kakek yang merupakan raja di Sangihe-Talaud.

Kepulauan itu dianggap sebagai lokasi strategis lantaran posisinya yang diapit oleh banyak negara di kawasan Asia Pasifik.

"Jadi, nanti semua peserta berasal dari China, Jepang, India, Australia, Thailand, Myanmar dengan bahasa pengantarnya bahasa Inggris," ucap pria lulusan Michigan State University ini.

Menurut dia, penggunaan bahasa Inggris itu bisa menarik banyak devisa bagi kepulauan tersebut.

"Jadi, dengan adanya sekolah itu, rakyat Sangihe terbantu juga dengan pemasukan devisa," kata Wimanjaya.

Tak cuma strategis, bagi dia, Kepulauan Sangihe pun kini lebih mudah dijangkau.

"Hubungannya sudah lancar, berangkat dari Jakarta pukul 01.30 nanti pukul 08.00 sudah bisa sampai Sangihe. Kalau tidak naik pesawat, masih ada juga transportasi lautnya," ungkap dia.

Mimpi ini telah ada dalam benak Wimanjaya sejak ia ditahan di Lapas Cipinang pada zaman Orde Baru. Tanpa alasan yang jelas, dia terjeblos dalam bui itu selama dua tahun.

Meski begitu, saat ini, Wimanjaya belum bisa menikmati uang hasil ganti rugi itu. Sebab, pihak tergugat yang merupakan Pemerintah Republik Indonesia cq Jaksa Agung telah menyatakan banding pada kasus tersebut.

SUMBER | Kompas.com

Komentar

Loading...