Pulo Aceh, Sepenggal Tanah Surga Yang Terabaikan

[st-gallery id="569a7e96622cc"]

Banda Aceh - AP

Pulo Aceh, nama sebuah kecamatan di Aceh Besar yang letaknya paling ujung barat Indonesia. Di satu kecamatan  itu memiliki 10 pulau, dua diantaranya paling besar, dan didiami penduduk, yakni Pulo Nasi dan Pulo Breuh (pulau beras). Nah, saat kita berada di kepulauan itu, akan membuat mata takjub dengan pemandangan penorama alamnya yang indah.

Karena keindahan yang ditawarkan  oleh pulau itu, seperti sepenggal tanah surga. Sebelum tiba di sana, pemandangan gugusan Pulo Aceh sudah terlihat dari kejauhan, berupa bukit-bukit dengan pepohonan yang rindang.

Jika ingin menuju ke Pulo Aceh, dari Ibukota Provinsi Aceh, kita bisa menggunakan jasa kapal nelayan ukuran 22 gross ton (GT), yang dermaganya di Ulee Lheu, tepatnya depan kuburan massal tsunami, tujuan Pulo Nasi dan untuk ke Pulo Breuh dermaganya ada di Lampulo.

Namun khusus tujuan Pulo Nasi, kita juga bisa menggunakan kapal motor penyeberangan (KMP) Papuyuh, yang berlabuh tiga kali dalam sepekan, Rabu, Jumat dan Minggu dari Pelabuhan Ulee Lheu. Dengan kapal itu, perjalanannya yang ditempuh sekitar 1,5 jam tiba di dermaga Lamteng, Pulo Nasi, hanya 30 menit lebih cepat menggunakan kapal nelayan.

Saat perjalanan menuju ke Pulau yang memiliki penduduk sekitar lima ribu jiwa itu, di pertengahan laut kita juga akan disajikan dengan sejumlah pulau nan indah di ujung Sumatera tersebut, diantaranya Pulo Batee, Pulo Bunta, serta tampak dari kejauhan pulau Sabang.

Begitu juga terlihat pemandangan sejumlah boat-boat nelayan disibukkan mencari ikan,  ada yang melempar pancingan, serta menggunakan jaring. Pemandang-pemandangan itu, tak membuat mata lelah, hingga pertama kali kita temukan Pulo Nasi, kalau perjalanan ditempuh dari Banda Aceh.

Sebelum tiba di pelabuhan Pulo Nasi, kita sudah disajikan dengan keindahan panorama alam teluk Lamteng yang air lautnya biru, sehingga tampak ikan-ikan kecil menari-nari, yang berlatarkanpasir putih.

Garis pantainya juga sungguh indah, karena bertabur pasir putih, hingga saat memandang ke dalam permukaan laut sekali-sekali tampak terlihat terumbu karang. Bagi mereka yang suka diving serta snorkeling, sangat cocok untuk menikmati keindahan alam bawah laut.

Pulo Nasi yang memiliki lima gampong (desa) di dalamnya, mempunyai sejumlah lokasi wisata lainnya, selain wisata bahari, diantaranya Pantai Demit, Pantai Nipah, Pantai Deudap, Pantai Alue Riyueng, Pantai Mata Ie, serta banguna mercusuar peninggalan Belanda, yang masih aktiv memantau lalulalang kapal di ujung pulau itu.

Seluruhnya tersebar di Pulo Nasi, yang hutan-hutannya masih terlihat lebat nan rindang, serta lekukan bukit-bukit menambah sebuah kenikmatan saat kita melaluinya, walaupun belum seluruhnya jalan beraspal.

Tapi sangat disayangkan, potensi keindahan itu tidak dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah daerah setempat. Karena masih kurangnya infrastruktur. Bahkan ada beberapa cottage di pantai Nipah, terlihat tak berpenghuni, hingga tak terawat. Pantai-pantainya masih banyak ditemukan sampah.

"Dulu sebelum tsunami, pantainya tidak begini, tapi masih bersih. Mungkin sekarang banyak yang sudah keluar dari Pulo Aceh, jadi sedikit berkurang penataannya," kata seorang warga Pulo Aceh, Selvira.

Selvira yang saat ini sudah tinggal di Banda Aceh, mengaku prihatin jika daerah yang alamnya masih bagus, karena memiliki potensi tempat wisata dibiarkan begitu saja.

Seorang tokoh masyarakat Pulo Nasi, Syahril,  juga menginginkan daerahnya diekspose, sehingga banyak orang luar tahu.

"Hanya itu yang kami inginkan, sehingga ada perhatian dari Pemerintah," harapnya, seraya menambahkan, warga siap menerima investor, serta wisatawan, asalkan bisa menjunjung tinggi kearifan lokal.

Begitu juga dengan Pulo Breuh, yang menempuh perjalanan laut sekitar 30 menit dari Pulo Nasi, tak jauh berbeda panorama alamnya yang disajikan. Setibanya di Pulau yang memiliki 12 gampong itu, kita lebih dulu berlabuh di dermaga Lampuyang, yang merupakan ibukota Kecamatan Pulo Aceh.

Di pulau yang berpenghasilan cengkeh dan pala itu, kita sudah mulai menikmati panorama alam nan indah sejak dari gampong Ulee Paya, walaupun ada sebagian jalan beraspal sudah mulai rusak, akibat lalu lalang dam truk pengangkut tanah, guna pembanguan serta perluasan pelabuhan ikan terbesar di pulau itu.

Garis pantai dengan pasir putih dan air lautnya yang biru terlukis indah. Pemandangan itu terlihat saat melintasi perjalanan di atas perbukitan. Jika Anda membawa perangkap kamera, jangan segan-segan untuk mengabadikannya. Karena rugi kalau moment seperti itu dilewatkan.

Apalagi setiap sudut perjalanan, sepanjang pulau yang penduduknya rata-rata petani dan nelayan tersebut, memiliki sejumlah objek keindahan yang bisa memanjakan mata. Dan sungguh sayang jika itu dilewatkan.

Keindahan pantai itu, terlihat hingga ujung perkampungan Pulo Nasi, yakni Meulingge. Mulai dari pantai Baluh, yang dulunya diketahui pernah dibangun sejumlah cottage, namun sekarang tak berpenghuni, sehingga sudah ditutup semak belukar.

Namun, sangat jarang orang mandi pantai tersebut. Karena menurut pengakuan sejumlah warga di situ, ada ikan hiu sering bermain tak jauh dari pinggir pantai. Kecuali menimakti pasir putih serta panorama alam dari bibir pantai.

Saat tiba di pedesaan paling ujung Pulo Breuh yang menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Lampuyang, ada sebuah dermaga boat nelayan di gampong Meulingge itu.

Air lautnya yang biru dengan berlatarkan pasir putih, bisa kita nikmati dari atas dermaga. Sekali-sekali kita mendapatkan pemandangan sekawanan ikan-ikan kecil seukuran mobil kijang, yang menari-nari jika predator lainnya mengganggu mereka.

Namun, selain wisata pantai yang kita temukan di sepanjang jalan lingkar Pulo Aceh, juga di balik perbukitan Meulingge terdapat sebuah bangunan peninggalan jaman Belanda, mercusuar William Toren III, yang merupakan menara tempat pemantauan lalu lintas laut di ujung pulau itu.

Masih ada lagi wisata pantai nan indah di Pulo Breuh itu, di kawasan Lampeng. Kesulitan kenderaan menempuh ke perkampungan itu yang membuat kendala, kecuali menggunakan boat.

Seorang warga Lampuyang, Suaidi, mengaku, sungguh banyak potensi wisata di pulau tempat mereka tempati. Tapi pemerintah hanya mengabaikannya.

"Dulu pernah datang wisatawan asing ke pantai Baluh, mereka hanya membawa peralatannya sendiri, kalau untuk penginapan mereka pasang tenda di pinggir pantai itu," kata Suaidi yang masih duduk dibangku kelas dua SMA itu.

Nah, sungguh sangat disayangkan, jika sebuah daerah masih menjunjung tinggi kearifan lokal serta keindahan alamnya, namun disia-siakan begitu saja.  (ez)

Komentar

Loading...