Jadi Narasumber Rakernas Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Yogyakarta, Ini Kata Kapolda Aceh

Kapolda Aceh, Irjen Pol Wahyu Widada saat menjadi narasumber di Rakernas Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Yogyakarta

Banda Aceh, Acehportal.com - Kapolda Aceh, Irjen Pol Wahyu Widada menjadi narasumber pada Rapat Kerja Nasional Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang digelar di Sahid Jaya Hotel and Convention Yogyakarta, Jumat (28/2/2020) malam.

Dalam kegiatan yang dimulai sekira pukul 19.00 WIB hingga selesai itu, Kapolda Aceh menyampaikan presentasinya, seperti mengajak kembali melakukan penataan dan pengawasan.

"Karena kalau aturan sudah ada, tapi tidak diawasi dengan tepat, tidak kita kontrol dan tidak kita implementasikan dengan baik," kata Kapolda.

Pengawasan itu, terkait permasalahan deforestasi. Pada prinsipnya, Polri hanyalah pelaksana sepanjang ada aturannya dan memberikan kewenangan kepada Polri untuk menerapkan dan melakukan penyidikan dan Polri siap mendukung.

"Deforestasi hutan sudah dilakukan bertahun-tahun seperti yang terjadi di Kalimantan, masalah hutan di Kalimantan adalah hal penting," ujarnya.

Menurutnya, Kalimantan adalah kawasan yang datar, sungai luas dan hutannya mudah dijangkau. Bila ingin menebang hutan dan mengambil kayu tinggal dialiri saja melalui sungai-sungai, sehingga banyak hutan di dataran rendah yang gundul, sementara hutan yang masih  tinggal yang di dataran tinggi.

"Hutan di Kalimantan cukup luas dan kini banyak pelaku penebangan hutan yang terjadi di sana, sehingga hutan menjadi gundul," kata jenderal bintang dua ini lagi.

Hutan yang luas tidak saja Kalimantan, termasuk Papua yang memiliki hutan juga cukup luas. Filosofi kita, lanjutnya, hutan harus dilestarikan setelah Tuhan menumbuhkan hutan-hutan tersebut.

"Selain itu, di Riau juga banyak hutan yang gundul akibat kayu-kayu telah dipotong oleh manusia. Bisnis kayu luar biasa, sehingga kita takut suatu saat hutan dan hewan-hewan yang hidup di hutan tersebut akan musnah," jelasnya.

"Dengan habis hutan dan musnahnya hewan di hutan itu, kita takut anak cucu kita tidak bisa lagi mengenali hutan dan hewan-hewan di dalamnya seperti harimau dan gajah. Anak cucu kita bila inging melihat hutan dan hewan seperti harimau dan gajah hanya melihat di Youtube saja," lanjutnya.

"Kita harus pertahankan hutan, tidak untuk sekarang tapi untuk ke depan nanti," sebut Kapolda.

Ia menceritakan, di Riau bahkan ada satu pulau yang hutannya telah ada konsesi untuk mengambil kayunya saja. Belum lagi untuk kepentingan politik, misalnya ada pilkada, kepada perambah hutan itu dimintai KTP dan kemudian diperbolehkan untuk menebang hutan tersebut.

Terkait masalah perambahan hutan masalah chainsaw atau gergaji mesin, harus diketahui jenis dan merknya. Dalam hal ini, Pemda dan pihak LKH perlu mendatakan kembali tentang jenis chainsaw ini.

"Dalam penegakan hukum, kita harus tahu asal usul kayu, kayu ini darimana dan jenis chainsaw yang digunakan. Bagaimana kita melakukan penegakan hukum sementara asal usul kayu dan jenis chaisaw yang digunakan, kita tidak punya data, kita harus tahu jenis chainsaw ini seperti kita mengetahui jenis senpi yang sudah teregistrasi," ungkapnya.

Selain itu, dirinya menyarankan agar pemerintah atau pihak terkait tahu alur distribusi dan penjualan Chainsaw atau gergaji mesin, sehingga bila dinemukan kayu-kayu yang dipotong dengan ciri-ciri  potongannya sehingga memudahkan jenis chainsaw mana yang digunakan, mudah untuk dilakukan penyelidikan.

"Kita juga perlu untuk melakukan pembatasan penjualan atau tataniaga chainsaw. Dengan chaisaw ini, orang mudah sekali menebang dan memotong kayu. Dengan ukuran beberapa centi meter dalam hitungan detik atau menit kayu sudah terpotong," jelasnya lagi.

Irjen Pol Wahyu Widada pun mengajak berama-sama melakukan perubahan untuk dapat mendukung dan menguranginya deforestasi. Dalam menyikapi masalah penebangan kayu ini, Polri adalah pelaksana dalam bidang penegakan hukum.

"Sepanjang ada aturan dan diberikan kewenangannya, maka kami sebagai Polri siap untuk melakukan penegakan hukum," kata Kapolda lagi.

Rakernas yang digelar di Yogyakarta itu, selain dihadiri Kapolda Aceh juga dihadiri Menteri dan pejabat dari instansi terkait lainnya.

Penulis:Hafiz
Editor:Hafiz
Rubrik:Umum

Komentar

Loading...