Wanita 27 Tahun Asal Aceh Utara Ini Diduga Jadi Korban Perdagangan Manusia di Malaysia

Seorang ayah melaporkan kehilangan putrinya di Malaysia

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM - Seorang perempuan muda berusia 27 tahun yakni Safridawati, warga Gampong Krueng Lingka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara tak kunjung pulang usai berangkat ke Malaysia menggunakan jasa agen tenaga kerja sejak 2015 lalu.

Bahkan, ia pun tak pernah lagi menghubungi keluarganya di kampung halaman dalam beberapa tahun terakhir ini. Keluarga yang merasa panik dan ketakutan sempat berpikir bahwa Safridawati diduga menjadi korban perdagangan manusia.

Ayah dari Safridawati, Nurdin bersama kuasa hukumnya dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) pun membuat laporan dugaan kasus tersebut ke Mapolda Aceh, Senin (13/1/2020) siang.

"Hari ini, Nurdin melaporkan kasus ini ke Polda Aceh untuk mencari keberadaan Safridawati anaknya yang kini hilang di Malaysia," ujar Ketua YARA, Safaruddin kepada awak media usai membuat laporan tersebut di Polda Aceh.

Untuk sementara, pihaknya menduga bahwa Safridawati telah menjadi korban dalam kasus perdagangan manusia. Ini disampaikan dari kesimpulan keterangan keluarga dan sejumlah bukti lain yang dianggap mendukung.

"Setelah didiskusikan dan dicek segala macam, kesimpulan saya, ini masuk dalam jaringan perdagangan manusia, Safridawati diduga jadi korban," kata Safar didampingi Nurdin saat itu.

Menurut penjelasan keluarga, sebelum Safridawati berangkat ke Malaysia, agen yang membawa Safridawati ke Malaysia yakni MU sempat beberapa kali datang ke rumah untuk mengajak korban kerja ke Malaysia. Namun, orang tua Safridawati sempat menolak dan tak mengizinkan anaknya pergi.

"Ada berinisial MU, masih satu kampung, datang ke rumah berulang kali meminta anak Pak Nurdin bisa kerja di Malaysia. Hal ini beberapa kali dilarang oleh pihak keluarga," katanya.

Tak hanya menawarkan pekerjaan di Negeri Jiran, MU saat itu menjanjikan gaji besar bila Safridawati bekerja di Malaysia. Selain itu, seluruh urusan keberangkatan akan diurus oleh MU selaku agen yang membawanya. Bahkan, untuk lebih meyakinkan, MU datang bersama suaminya saat menemui keluarga korban.

"Ketiga kali datang bawa suami, dikatakan akan dijamin bekerja disana dan dapat gaji Rp 3 juta, nanti Pak Nurdin tiap bulan dikirim uang," ungkap Safaruddin menjelaskan keterangan pihak keluarga Safridawati.

Singkat cerita, Safridawati pun akhirnya dijemput MU dan suaminya pada 18 Agustus 2015 lalu menggunakan sebuah mobil. Segala keperluan keberangkatan Safridawati pun diurus oleh MU saat itu, seperti paspor, kartu identitas dan lain sebagainya.

Ketika awal di Malaysia, sambung Nurdin, Safridawati juga masih sempat berkomunikasi dengan pihak keluarga. Namun belakangan, ia mulai jarang memberi kabar dan terakhir berkomunikasi pada bulan puasa tahun 2016 serta tahun 2017.

"Awal sempat kasih kabar, menelepon keluarga pakai nomor Malaysia. Namun demikian keluarga curiga karena korban sempat mengaku sembari menangis bahwa dirinya tidak punya uang untuk pulang, ia bekerja namun tak diberikan gaji dari tempat kerjanya," ungkap Nurdin.

Sejak saat itulah, Safridawati tak pernah mengirim kabar ke keluarganya hingga sekarang. "Itu yang terakhir dan sampai sekarang tidak pernah ada kabar lagi," kata dia.

Kasus ini pun masih dalam penanganan setelah pihaknya melapor ke Polda Aceh. Safaruddin menyebutkan, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan komunitas Aceh di Malaysia untuk dapat melacak keberadaan Safridawati. Bahkan, hal ini juga dilaporkan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia.

"Yang membawa Safridawati yakni MU pernah dipanggil ke Kedutaan, namun pengakuan dia Safridawati pergi sendiri dan tidak tahu keberadaannya. Kami berharap polisi dapat selidiki kasus ini," tambah Safar.

Penulis:Hafiz
Rubrik:Headline

Komentar

Loading...