5 Tempat Mengenang Dahsyatnya Tsunami Aceh

Disbudpar.kota.bandaacehWakil Presiden RI H Jusuf Kalla yang juga Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) didampingi Gubernur Aceh, Zaini Abdullah melakukan peninjauan usai meresmikan proyek landscape dan infrastruktur Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (13/5/2017). Pembangunan 12 unit payung elektrik, basement parkir dan fasilitas lainnya di MRB yang dimulai sejak tahun 2015 ini menelan biaya Rp 458 miliar. SERAMBI/M ANSHAR

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM - Bekas bencana gempa dan tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 silam, kini menjadi kenangan bagi masyarakat Aceh. Gempa dan tsunami Aceh telah menjadi sejarah dunia.

Sebagai bentuk bukti dahsyatnya bencana tersebut, pemerintah Aceh beberapa tahun belakang, sudah memugar dan membangun sekaligus memperindah tempat-tempat bekas tsunami sebagai lokasi wisata.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh, Rahmadhani mengatakan, pihaknya selalu mengagendakan sejumlah kegiatan untuk memperingati tsunami Aceh.

Di setiap tempat wisata mengenang tsunami, juga diadakan beragam acara, mulai dari doa bersama, dzikir dan lainnya. Sementara, puncak peringatan 15 tahun Tsunami Aceh kali ini, pihaknya akan memusatkan di Pidie dengan mengangkat tema “Melawan Lupa, Bangun Siaga”, yang akan digelar di Halaman Pidie Convention Center (PCC), pada Kamis, 26 Desember 2019.

“Peringatan Tsunami Aceh ke-15 harus menjadi media yang efektif untuk refleksi, apresiasi, mitigasi dan promosi,” kata Rahmadhani, Senin (16/12/2019).

Acara ini, kata dia juga merupakan peringatan untuk meningkatkan kesadaran tentang mitigasi bencana dan untuk mempromosikan pariwisata memori tsunami, sebagai media yang efektif untuk berbagi pengalaman bencana kepada wisatawan dan sebagai cara untuk meningkatkan ekonomi melalui sektor pariwisata.

Jika wisatawan tidak sempat untuk berkunjung ke Pidie dalam acara puncak peringatan tsunami, anda juga bisa berkunjung ke obyek wisata yang menarik, sambil mengenang peristiwa tsunami di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar 15 tahun silam, di antaranya:

  1. Museum Tsunami Aceh

Museum ini dijadikan tempat untuk mengenang kembali peristiwa dahsyat yang pernah melanda Tanah Rencong pada 26 Desember 2004 silam yang menewaskan 173 ribu warga Aceh. Museum ini terletak di pusat kota Banda Aceh, tepatnya di Jalan Iskandar Muda, berdekatan dengan Lapangan Blang Padang dan sekitar 500 meter dari Masjid Raya Baiturrahman.

Bangunan museum ini terdiri dari empat tingkat. Pada lantai dasar museum terdapat ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik. Pada saat memasuki gedung ini, ruang pertama yang akan disinggahi pengunjung adalah ruang renungan.

Dalam ruang ini terdapat sebuah lorong sempit dan remang sekaligus dapat mendengar suara air yang mengalir beserta suara Azan. Pada kiri dan kanan dinding lorong terdapat air yang mengalir, diibaratkan gemuruh tsunami yang pernah terjadi di masa silam.

Setelah melewati ruang renungan, pengunjung akan memasuki ruang berkaca yang disebut Memorial Hill, yang dilengkapi dengan monitor untuk mengakses informasi. Setelah itu, pengunjung akan memasuki ruang The Light Of God, yaitu ruang berbentuk sumur silinder yang menyorotkan cahaya remang-remang.

Pada puncak ruangan terlihat kaligrafi Arab bertuliskan Allah. Pada dinding dipenuhi tulisan nama-nama korban tsunami yang tewas dalam peristiwa itu. Kemudian, di lantai berikutnya terdapat galeri dokumentasi, hingga tempat penyelamatan darurat (escape building) apabila terjadi tsunami lagi di masa mendatang.

  1. Kapal PLTD Apung

Kapal pembangkit listrik tenaga diesel apung (PLTD) Apung terletak di Desa Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. Panjang kapal ini 63 meter dan mampu menghasilkan daya sebesar 10,5 megawatt. Kapal ini berbobot 2.600 ton. Dengan bobot besar itu, sulit membayangkan kapal ini dapat terhempas hingga ke pemukiman penduduk.

Namun, faktanya gelombang tsunami mampu menggerakkannya. kapal ini terseret gelombang setinggi sembilan meter. Jalur yang dilalui kapal semuanya lenyap tak berbekas, padahal kawasan tersebut awalnya padat penduduk.

Saat ini, area sekitar PLTD Apung telah ditata ulang menjadi wahana wisata edukasi. Untuk mengenang korban jiwa akibat tsunami, dibangun monumen peringatan. Pada monumen itu, tertera tanggal dan waktu kejadian musibah yang juga menimpa beberapa negara selain Indonesia.

Di sekeliling monumen, dibangun dinding dengan relief menyerupai gelombang air bah. Dari atas kapal ini, pengunjung juga dapat melihat rangkaian pegunungan.

  1. Kubah Al-Tsunami

Kubah Al-Tsunami, Kubah Masjid Lamteungoh di Desa Lamteungoh, Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Aceh menjadi saksi bisu bencana itu. Saat tsunami terjadi, yang tersisa hanya kubah yang beratnya puluhan ton. Gelombang tsunami membuat kubah itu terombang ambing seakan mencari dudukan yang tepat dan terseret sejauh 2,5 kilometer hingga sampai ke hamparan sawah di Desa Gurah, Peukan Bada, Aceh Besar.

Kubah yang kini dinamai Kubah Al-Tsunami tersebut juga dianggap kapal penyelamat. Sebab banyak orang yang menyelamatkan diri dengan naik ke atas kubah. Kubah ini kini menjadi salah satu destinasi wisata di Aceh. Setiap menjelang peringatan tsunami, rata-rata 200 wisatawan mengunjungi lokasi kubah yang letaknya di tengah sawah ini.

“Rata-rata wisatawan dari Malaysia, wisatawan negara lain juga ada, kira-kira 200 orang perhari saat menjelang peringatan tsunami,” kata Habibah, salah seorang pedagang suvenir di lokasi itu.

  1. Kapal di atas rumah

Salah satu objek wisata yang paling terkenal di Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, Aceh adalah kapal di atas rumah. Objek wisata itu merupakan saksi bisu lain dari bencana tsunami 26 Desember 2004 yang meluluhlantakkan tanah Serambi Mekah.

Kapal ini menjadi bukti penting betapa dahsyatnya bencana tersebut dan berkat kapal ini, sebanyak 59 orang terselamatkan saat kejadian itu. Di bawah kapal juga terdapat bangunan sisa tsunami yang menopang kapal itu.

Peristiwa besar itu pula yang membawa kapal seberat 20 ton dan panjang 25meter ini tersangkut di atas rumah penduduk di kawasan Kampung Lampulo. Kapal dari kayu itu kini telah dipugar dan dipercantik oleh pemerintah setempat.

  1. Kuburan Massal

Ada beberapa kuburan massal yang dijadikan lokasi berziarah untuk mengenang tsunami Aceh. Salah satunya di Desa Siron, Aceh Besar. Kuburan Massal Siron merupakan kuburan massal bagi para korban bencana tsunami. Tercacat ada lebih 40 ribu jiwa yang dimakamkan di sana.

Kuburan Massal Siron ini memang sangat jauh dari suasana menyeramkan atau angker yang selalu identik dengan pemakaman. Suasana di makam ini nampak rindang, asri dan teduh dengan adanya berbagai macam pepohonan serta bunga yang ditanam.

Di kuburan ini juga terdapat sebuah Monumen Tsunami yang dibangun menyerupai gelombang setinggi 15 meter. Tujuan untuk menggambarkan gelombang tsunami yang kala itu menghancurkan Aceh. Selain di Siron, kuburan massal juga terdapat di Ulee Lheue Banda Aceh. [Adv]

Komentar

Loading...