Upaya Genjot Perekonomian Masyarakat Aceh

Kebijakan Pemerintah Aceh yang Menitikberatkan Pemberian Modal untuk IKM

ramah dengan pelaku IKM Aceh di Rumah Dinas Wakil Gubernur, Banda Aceh

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM  -  Supaya pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) Aceh terus mengembangkan usahanya, Pemerintah Aceh membuat langkah strategis dengan memberi permodalan dari dana Bank Aceh Syariah bagi pelaku usaha itu.

Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mengungkapkan saat ini Pemerintah Aceh memiliki dana pendidikan di Bank Aceh sejumlah 1,2 triliun, dana tersebut sekarang berstatus deposito. Ia mengatakan dana tersebut siap untuk dikreditkan kepada para pelaku IKM Aceh.

“Poinnya cepat-cepat buat bisnis plan dan ajukan ke Bank Aceh. Itu kongkrit dan tidak bisa tidak,” ujar Nova saat bertemu ramah dengan pelaku IKM Aceh di Rumah Dinas Wakil Gubernur, Banda Aceh.

Sebelum mengajukan pinjaman, kata Nova, para pelaku IKM diharuskan untuk membuat proposal rencana usaha yang visibel serta memiliki format yang benar. Hal itu penting, karena nantinya akan dikontrol oleh pihak OJK ( Otoritas Jasa Keuangan).

Selain permodalan, menurut Nova cara paling mudah untuk mengembangkan usaha adalah dengan cara menduplikasi kepada usaha yang sudah berhasil.

“Sekarang sudah bisa, malam-malam (sambil istirahat) buka internet untuk duplikasi usaha apa yang cocok. Untuk yang sudah ada usaha, pikir bagaimana cara pengembangan nya,” kata Nova

Menurut Plt Gubernur, setiap usaha harus memiliki kemajuan setiap waktunya dengan cara melakukan pengembangan. Dan ia meminta kepada para pelaku usaha agar tidak cepat untuk berpuas diri. “Cara paling mudah untuk sukses kita belajar dari orang sukses,” tutur Nova.

Nova juga menyebutkan, selama ini industri kecil dan menengah sering mengalami kesulitan mendapatkan permodalan, terutama modal jangka panjang. Jika tidak ditolak perbankan, pengusaha kecil dan menengah harus menanggung beban bunga yang sangat tinggi, lebih tinggi dan kredit konsumsi yang diberikan bank.

Yang penting, katanya ada pengawasan penyaluran pembiayaan. “Pengawasan ini penting dilakukan agar nantinya modal yang diberikan tepat sasaran dan tidak macet.” Ujar dia.

Saat ini, sebut Nova, banyak ruang kosong yang tersedia di kantor Kadin Aceh. Oleh karenanya, ia mempersilahkan para pelaku IKM tersebut untuk memanfaatkan beberapa ruang tersebut untuk dijadikan kantor management IKM.

Nova menegaskan, kebijakan Pemerintah Aceh pada saat ini lebih menitikberatkan pada sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM), yang memungkinkan berbagai pelaku usaha dapat bangkit secara bersama sama dengan dukungan Pemerintah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).

Beberapa pelaku IKM yang hadir tersebut nantinya pada 24 April 2019 akan berangkat ke Perlis Malaysia guna mengikuti Halal Expo. Jika nantinya para pelaku IKM Aceh mendapat klien di Malaysia yang mau membeli produknya dengan jumlah besar. Pemerintah Aceh siap untuk mengurus segala urusan ekspor dan import tersebut.

Dalam kesempatan itu, para pelaku usaha maupun akademisi menyampaikan segala gagasan maupun keluh kesah yang mereka miliki untuk berdiskusi dengan orang nomor satu di Aceh itu.

Di antaranya ada Perwakilan Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Aceh Muhammad Iqbal. Ia mengisahkan perjalanan usahanya saat pertama memulai sampai berhasil seperti saat ini. Menurut dia, hal yang penting dalam mengembangkan usah adalah berani untuk mengembangkan ide.

“Jadi kita harus mulai dari hal yang tidak mungkin sampai menjadi kenyataan. Harapan kami pada adek-adek IKM ini harus berjuang.Mudah-mudahan apa yang kita upaya ini bisa berhasil,” tutur Iqbal.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, Muhammad Raudhi Mengatakan pihaknya saat ini sangat berkomitmen untuk menggenjot usaha IKM yang berada di Aceh. Dengan berkembang nya IKM, kata Raudhi, nantinya UKM juga akan ikut berkembang.

“Saya dengan IKM ini tidak pernah merasa letih. Sepanjang saya punya waktu silahkan komunikasi, kalau tidak bisa langsung bisa lewat WA. Selama ini begitu kita dampingi,” pungkasnya.

Raudhi meminta kepada pelaku IKM Aceh itu untuk terus memproduksi barangnya. Pihaknya, kata Raudhi, siap untuk membantu memasarkannya.

Genjot Perekonomian, Pemerintah Aceh Komitmen Kembangkan IKM

Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, juga memberikan dukungan serta mengajak kepada pelaku usaha IKMA (Industri Kecil Menengah Aneka) untuk terus mengembangkan usahanya.

Menurut Plt Gubernur, IKM merupakan salah satu motor penggerak perekonomian yang dimiliki oleh masyarakat Aceh. Investasi luar yang diharapkan Aceh untuk mendongkrak perekonomian, kata Nova, tak kunjung datang. Berbagai persoalan menjadi kendala bagi investor, hingga menunda untuk menanamkan modal triliunan di Aceh.

Plt Gubernur Nova Iriansyah bersama pelaku usaha IKMA (Industri Kecil Menengah Aneka)
Plt Gubernur Nova Iriansyah bersama pelaku usaha IKMA (Industri Kecil Menengah Aneka)

"Terlalu susah jika kita berharap pada investasi besar di Aceh. Ada rencana pabrik Semen Laweung, tapi berhenti. Ada penambangan batu bara di Nagan Raya juga bermasalah dan seterusnya,” kata Nova.

Karena alasan itulah, Nova menekankan bahwa Pemerintah Aceh akan mendongkrak perekonomian melalui investasi sendiri dan juga kekuatan sendiri, yakni IKM. Untuk mengembangkan IKM, Plt Gubernur menekankan kepada semua pihak untuk memperhatikan 3 kompoenen penting dalam usaha. Yakni, modal, management dan marketing.

Persoalan permodalan, Plt Gubernur menekankan kepada Bank Aceh Syariah selaku bank daerah dan milik Rakyat Aceh untuk memperluas kredit pada sektor produktif. Serta memberi kemudahan regulasi kepada IKM untuk mendapatkan kredit tersebut.

“Kita tidak mengajak bank yang lain. Kita ajak bank punya kita,” ujar Nova.

Zona kedua, management. Menurutnya yang diperlukan dalam zona ini adalah skill yang memadai pada pelaku usaha. Oleh karean itu, Nova meminta kepada pengusaha yang telah berhasil untuk membina usaha pelaku IKM lainnya, baik dari segi teknologi, tempat usaha maupun pilihan usaha.

“Zona ketiga, marketing. Ada yang sudah jago dalam wilayah ini seperti produk Minyeuk Pret,” ujar Nova. Namun demikian, Plt Gubernur juga meminta kepada Kadin serta Dinas terkait untuk mensosialisasikan proses marketing kepada pelaku IKM Aceh.

Dalam kesempatan itu, Nova juga mendengar segala keluh kesah pelaku IKM di Aceh dalam mengembangkan usahanya. Di antaranya persoalan perizinan produk dari BPOM, promosi, permasalahan pemateri seminar entrepreneur, keterbatasan kemasan dan pengawasan pasar.

Merespon keluh kesah tersebut, Plt Gubernurpun langsung menindak lanjuti aspirasi pelaku usaha itu. Dalam hal kesulitan izin produk, Nova meminta kepada eselon 4 yang terkait perizinan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh untuk mengadvokasi segala izin produk IKM pelaku usaha.

Terkait hal promosi, ia juga meminta kepada pihak Dinas Perindustrian untuk menggencarkan promosi melalui bidang promosi di dinas tersebut.

Selama ini pegiat IKM di Aceh juga memiliki kesulitan dalam memperoleh produk kemasan. Untuk itu Nova meminta kepada salah satu pelaku usaha yang hadir dalam pertemuan tersebut untuk melakukan investasi pada bidang kemasan di KIA ( kawasan industri Aceh) Ladong yang telah disediakan pemerintah. Permasalahan anggaran, pemerintah pun siap membantu kredit produktif untuk sektor tersebut. Di perkirakan anggaran yang dibutuhkan sebesar 40 miliar.

Selain itu, KIA Ladong yang disediakan pemerintah untuk investasi luar, juga disediakan pemerintah untuk lokomotif ekonomi bagi para pelaku usaha IKM di Aceh. Untuk itu ia memberikan peluang kepada para pelaku usaha di Aceh yang kesulitan mendapatkan lahan agar dapat berinvestasi di kawasan tersebut.

“Jadi tugas pemerintah untuk menyediakan air bersih, listrik, jalan lingkungan di KIA Ladong,” kata Nova.

Dengan demikian, maka pengusaha IKM dapat dengan mudah memulai proses produksinya di KIA. Komitmen Pemerintah Aceh dalam mendukung pelaku usaha IKM tersebut, direspon cepat oleh para pelaku usaha yang hadir , dengan menyepakati untuk berinvestasi di kawasan industri itu.

Berikut Daftar IKM yang berkomitmen untuk berinvestasi di Kawasan Industri Aceh Ladong Pada acara Temu Bisnis Pengusaha dengan Pelaku Industri Kecil Menengah Dan Aneka ( IKMA) Aceh Tanggal 13 April 2019 :

1. IKM Kopi Bawadi ( 1 ha )
2. Mak Jar Keumamah Kaleng (1 ha)
3. IKM Kelapa Jelly Indatu ( 1 ha)
4. IKM Keripik Pisang KRIPET ( 1 ha)
5. IKM Makanan & minuman Nozy ( 1 ha)
6. IKM Kacang Manggeng ( 1 ha)
7. IKM Parfum Minyeuk Pret ( 1 ha)
8. IKM Parfum “Bijeh “ ( 1 ha)
9. CV. Rotan Mano Aceh Lestari ( 2 ha)
10. HIMKI Aceh ( 4 ha )
11. PT. Putra Untong Abadi ( Rangka Baja) ( 2 ha )
12. PT. Consist Product (metal cutting,electro plating,konstruksi baja), ( 1 ha )
13. PT. Ari Kharisma ( 2 ha )
14. Bumbu Meurasa ( 1 ha )

Total luas lahan yang disepakati dengan pelaku IKM untuk berinvestasi di KIA adalah 20 hektar. Dengan demikian, KIA ladong masih menyisakan lahan seluas 46 hektar. Para pelaku IKM tersebut mulai melakukan pembayaran atau penyewaan terhadap lahan tersebut setelah memulai produksinya. (Advetorial)

Penulis:rol/redaksi
Rubrik:Ekonomi

Komentar

Loading...